Ilham Habibie Bikin The Next N250 dengan R80-nya Inilah saatnya Indonesia Untuk Bangkit
18 Maret 2013 - dibaca : 1.809 kali

Ilham Habibie Bikin The Next N250 dengan R80-nya Inilah saatnya Indonesia Untuk Bangkit

N250 yang dulu gagal bukan karena ketidakmampuan kita, tetapi dikarenakan politik, kita dipaksa untuk gagal. International Monetary Fund (IMF). Pada tahun 1998 negara kita mengalami krisis financial, IMF masuk untuk membantu Indonesia untuk keluar dari krisis. Salah satu perintah mereka adalah menghentikan proyek N250. Saat itu N250 sudah hampir selesai, tinggal disertifikasi layak terbang untuk sipil. Jadi ini bukan karena ketidakmampuan kita tetapi karena unsur politis. Terhentinya proyek pesawat N250 berdampak pada kelangsungan IPTN sendiri. Memang IPTN masih memiliki proyek lain seperti CN235 dan mensuplai suku cadang perusahaan lain, namun CN235 itu lebih dikhususnya untuk pelanggan-pelanggan militer seperti TNI Angkatan Udara.

Banyak putra-putri bangsa Indonesia saat ini tersebar di beberapa perusahaan di luar negeri, ada yang bekerja di Boeing, ada yang di Airbus, ATR, di Brazil, Jerman, Italia, Inggris, Prancis, di PT DI dan lainnya.

Sebagian besar mereka bisa diajak kembali untuk membuat proyek tanah air ini. Dan sebagian lagi bisa bekerjasama dengan menyumbangkan pikiran mereka atau menjadi konsultan kita, jaman sekarang maju, mereka bisa bersama-sama kita mengerjakan proyek ini walau diri mereka tidak ada di Indonesia, tetapi di tempat kerja mereka, kita bisa berkolaborasi.

Kita dari A-Z bisa membuat teknologi pesawat canggih, kita mampu untuk itu. Masa negara ini hanya tergantung pada Sumber Daya Alam (SDA) walau itu tidak ada yang salah, tapi kita harus tunjukkan kepada dunia, kita ini bangsa yang bisa menciptakan produk-produk kita sendiri. Ketika kita mampu ciptakan pesawat dan laku di jual, kita pasti akan bisa buat mobil, sepeda motor kereta api.

Pesawat terbang menjadi sangat fundamental bagi Indonesia karena luasnya wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, dan ribuan pulau tersebut untuk membangunnya tidak bisa dilakukan hanya dengan menggunakan kapal, jembatan atau kereta api.

Pesawat terbanglah yang sangat mampu untuk 'menyambungkan' pulau-pulau di Indonesia, mobilitas yang makin hari makin tinggi menuntut kecepatan, seperti ikan tuna hari ini ditangkap besoknya harus ada di Jepang, itu tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan pesawat.

Bisa dilihat saat ini saja harga tiket kapal dan kereta api jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga tiket pesawat. Ketika suatu perusahaan airlines dikelola dengan manajemen yang baik dan memiliki pesawat yang banyak, maka ongkos biaya transportasi mereka akan jauh lebih murah.

Kini, Untuk mewujudkan proyek pesawat terbang The Next N-250 ini saya(ilham habibie) mengajak mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah. Kami mendirikan perusahaan PT Ragio Aviasi Industri (RAI).

Alasannya menggandeng Erry, karena Pak Erry punya segudang pengalaman dalam bidang finansial, dari sisi saja pengalaman enginer, nanti ketika perusahaan ini berjalan dan berkembang, tentunya ada keinginan kita bisa melantai di bursa saham untuk mencari modal dan mengembangkan perusahaan ini jauh lebih besar lagi, dan tidak perlu repot lagi karena Pak Erry sangat menguasai bidang ini.

Yang kita buat adalah R80, berbeda dengan N-250 buatan Bapak saya. Mungkin yang sama hanyalah diameter pesawat saja, namun ukuran pesawat R80 ini jauh lebih besar karena N-250 kapasitas penumpangnya hanya untuk 50 kursi, sementara R80 kapasitas kursinya sebanyak 80 kursi.

Selain itu, mesin juga berbeda, kokpit juga berbeda, sistem kendali juga berbeda, sistem landing juga berbeda. Pesawatnya berbeda, tetapi tujuannya sama yakni agar pesawat hasil karya anak bangsa sendiri bisa terbang melintasi nusantara dan dunia.

Dan KITA SANGAT-SANGAT MAMPU UNTUK MEMBUATNYA, IMF atau APAPUN TIDAK AKAN BISA MENGHALANGI KITA KEMBALI.