Pengguna Internet Indonesia Sama dengan 8 Negara
23 Maret 2013 - dibaca : 1.753 kali

Pengguna Internet Indonesia Sama dengan 8 Negara

Dua belas tahun lalu, pengguna Internet di Indonesia hanya 2 juta orang. Sekarang, setidaknya sampai akhir Desember 2012, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat pengguna internet di negeri ini telah mencapai 63 juta orang.

Direktur perusahaan iklan media digital AdPlus, Pandu Wirawan, menjelaskan jumlah pengguna Internet di negeri ini setara dengan jumlah penduduk di delapan negara, yakni Singapura, Malaysia, Hongkong, Belgia, Brunei Darussalam, Denmark, Thailand, dan Austria digabung menjadi satu.

Karena itu, kata dia, orang Indonesia tidak perlu pergi buka lapak ke luar negeri untuk berbisnis di dunia maya. Bahkan, kini banyak perusahaan dari luar negeri berbondong-bondong datang untuk mengeruk pasar Indonesia.

“Di sini potensi bisnis online besar sekali. Bisa dikeruk seoptimal mungkin,” kata Pandu dalam seminar bertema Media Online: Pertumbuhan Pengakses, Bisnis, dan Problem Etika yang digelar Aliansi Jurnalis Independen Jakarta, AJI Indonesia, dan Ford Foundation di Hotel Morrissey, Jakarta, Kamis, 7 Maret 2013.

Potensi besar itu juga ditunjang dengan waktu yang digunakan untuk mengakses Internet. Menurut Pandu, rata-rata pengguna Internet di Indonesia “membelanjakan waktunya” untuk mengakses Internet sekitar 35 jam per minggu atau lima jam per hari.  Selama lima jam, menurut dia, pengakses Internet menjelajahi berbagai situs berita, sosial media, blog, video, dan berbagai informasi di dunia maya.

Pandu yakin bahwa dalam tiga atau empat tahun lagi, tren waktu yang dihabiskan orang untuk mengakses Internet akan mengalahkan waktu yang mereka habiskan untuk mengakses media televisi dan cetak.  “Trennya terus meningkat,” ujarnya.

Bagi media online, kata Pandu, meningkatnya jumlah pengguna Internet berarti peluang yang makin besar untuk meningkatkan traffic. Tingginya traffic inilah yang dijual ke produsen produk untuk menggaet iklan.  Tapi dia menggarisbawahi bahwa, “Yang paling penting saat ini bukan traffic semata, melainkan cost per klik,” ujar Pandu.

 

 

sumber : tempo.co