ABORTUS
20 September 2012 - dibaca : 8.594 kali

ABORTUS

Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan.

 

Jenis-jenis abortus :

1. Abortus imminens

Terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan.

Penanganan :

a. Tidak diperlukan pengobatan medic yang khusus atau tirah baring secara total

b. Anjurkan untuk tidak melakukan hubungan seksual atau aktifitas fisik secara berlebihan

c. Bila perdarahan :

- Berhenti : lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang bila terjadi perdarahan lagi

- Terus berlangsung : nilai kondisi janin (uji kehamilan / USG). Lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik atau mola)

- Pada fasilitas kesehatan dengan sarana terbatas, pemantauan hanya dilakukan melalui meja klinik dan hasil pemeriksaan ginekologik.

 

2. Abortus insipiens

Perdarahan ringan hingga sedang pada kehamilan muda di mana hasil konsepsi masih berada dalam kavum uteri. Ini menunjukkan proses abortus sedang berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau komplit.

Penanganan :

a. Lakukan prosedur evakuasi hasil konsepsi :

Bila hasil konsepsi ≤ 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan peralatan Aspirasi Vakum Manual (AVM) setelah bagian – bagian janin dikeluarkan.

Bila usia gestasi ≥ 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan prosedur Dilatasi dan Kuretase (D & K).

b. Bila prosedur evakuasi tidak dapat segera dilaksanakan atau usia gestasi ≥ 16 minggu, lakukan tindakan pendahuluan dengan :

- Infuse Oxytosin 20 IU dalam 500 ml NS atau RL dengan 8 tetes / menit yang dapat dinaikkan hingga 40 tetes / menit, sesuai dengan kondisi kontraksi uterus hingga terjadi pengeluaran hasil konsepsi.

- Ergometrin 0,2 mg IM yang diulangi 15 menit kemudian.

- Misoprostol 400 mg per oral dan apabila masih diperlukan dapat diulangi dengan dosis yang sama setelah 4 jam dari dosis awal.

c. Hasil konsepsi yang tersisa dalam kavum uteri dapat dikeluarkan dengan AVM atau D&K (hati-hati resiko perforasi)

 

3. Abortus inkomplit

Perdarahan pada kehamilan muda di mana sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis.

Penanganan :

a. Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap komplikasi (perdarahan hebat, syok, infeksi/sepsis).

b. Hasil konsepsi yang terperangkap dalam serviks yang disertai perdarahan hingga ukuran sedang, dapat dikeluarkan secara digital atau cunam ovum. Setelah itu evaluasi perdarahan :

- Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400 mg per oral.

- Bila perdarahan terus berlanjut, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan AVM atau D&K (pilih tergantung dari usia gestasi, pembukaan serviks dan keberadaan bagian-bagian janin).

c. Bila tidak ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotika profilaksis (ampisiline 500 mg oral atau dosisiklin 100 mg).

d. Bila terjadi infeksi, beri ampisiline 1g dan metronidazole 500 mg setiap 8 jam.

e. Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi di bawah 16 minggu, segera lakukan evakuasi dengan AVM.

f. Bila pasien tampak anemic, berikan Sulfas Ferosus 600 mg per hari selama 2 minggu (anemia sedang) atau transfuse darah (anemia berat).

 

4. Abortus komplit

Perdarahan pada kehamilan muda di mana seluruh hasil konsepai telah dikeluarkan dari kavum uteri.

Penanganan :

a. Apabila kondisi pasien baik, cukup diberi tablet Ergometrin 3x1 tablet/hari selama 3 hari.

b. Apabila pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet Sulfas Ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu disertai dengan anjuran mengkonsumsi makanan bergizi (susu, sayuran segar, ikan, daging, telur). Untuk anemia berat berikan transfuse darah.

c. Apabila tidak terdapat tanda-tanda infeksi tidak perlu diberikan antibiotika atau apabila khawatir akan infeksi dapat diberikan antibiotika profilaksis.

 

5. Abortus infeksiosa

Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai komplikasi infeksi. Adanya penyebaran kuman atau toksin ke dalam sirkulasi dan kavum peritoneum dapat menimbulkan septicemia, sepsis atau peritonitis.

Penanganan :

a. Beresiko tinggi untuk terjadi sepsis, apabila fasilitas kesehatan setempat tidak mempunyai fasilitas yang memadai, rujuk pasien ke rumah sakit.

b. Sebelum merujuk pasien lakukan restorasi cairan yang hilang dengan NS atau RL melalui infus dan berikan antibiotika (misalkan : ampisilin 1g dan metronidazol 500mg).

c. Jika ada riwayat abortus tidak aman , beri ATS dan TT.

d. Pada fasilitas kesehatan yang lengkap, dengan perlindungan antibiotika berspektrum luas dan upaya stabilisasi hingga kondisi pasien memadai, dapat dilakukan pengosongan uterus sesegera mungkin (lakukan secra hati-hati karena tingginya kejadian perforasi pada kondisi ini).

 

Kombinasi Antibiotika Untuk Abortus Infeksiosa

Kombinasi antibiotika Dosis oral Catatan

Ampisilin dan Metronidazol 3 x 1 g oral dan 3 x 500 mg Berspektrum luas dan mencakup untuk gonorrhea dan bakteri anaerob

Tetrasiklin dan Klindamisin 4 x 500 mg dan 2 x 300 mg Baik untuk klamidia, gonorrhea dan bakteroides fragilis

Trimetropin dan Sulfamethoksazol 160 mg dan 800 mg Spectrum cukup luas dan harganya relative murah

 

Antibiotika Parenteral Untuk Abortus Sepsis

Antibiotika Cara Pemberian Dosis

Sulbenisilin

Gentamisin

Metronidazol IV 3 x 1 g

2 x 80 mg

2 x 1 g

Seftriaksone IV 1 x 1 g

Amiksisiklin + Klavulanik Acid

Klindamisin IV 3 x 500 mg

3x 600 mg

 

6. Missed Abortion (retensi janin mati)

Perdarahan pada kehamilan muda disertai dengan retensi hasil konsepsi yang telah mati hingga 8 minggu atau lebih. Diagnose tidak dapat ditentukan hanya dengan satu kali pemeriksaan melainkan memerlukan waktu pengamatan dan pemeriksaan ulangan.

Missed abortion seharusnya di tangani di rumah sakit atas pertimbangan :

a. Plasenta dapat melekat sangat erat di dinding rahim, sehingga prosedur evakuasi (kuretase) akan lebih sulit dan resiko perforasi lebih tinggi.

b. Pada umumnya kanalis servisis dalam keadaan tertutup sehingga perlu tindakan dilatasi dengan batang laminaria selama 12 jam.

c. Tingginya kejadian komplikasi hipofibrinogenemia yang berlanjut dengan gangguan pembekuan darah.

 

7. Unsafe abortion

Upaya untuk terminasi kehamilan muda di mana pelaksana tindakan tersebut tidak mempunyai cukup keahlian dan prosedur standar yang aman sehingga dapat membahayakan keselamatan jiwa pasien.

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler