Bagaimana Manusia Menyebar di Bumi?
22 September 2012 - dibaca : 2.669 kali

Bagaimana Manusia Menyebar di Bumi?

Setelah mengonsumsi DHA dalam jumlah cukup, otak manusia kemudian berkembang sehingga memiliki kompleksitas dan fungsi yang lebih banyak.

otak

Dari sebuah studi yang dilakukan oleh tiga tim peneliti dari Wake Forest Baptist, Johns Hopkins University School of Medicine, dan University of Washington School of Medicine, diketahui bahwa sebuah mutasi genetik yang terjadi ribuan tahun lalu merupakan jawaban bagaimana manusia purba mampu bermigrasi ke berbagai belahan dunia.

Seperti diketahui, menurut ilmu arkeologi dan genetika, Homo sapiens muncul di bumi sekitar 180 ribu tahun lalu. Namun, mereka tetap tinggal di satu kawasan saja, tepatnya di sekitar perairan di Afrika tengah selama hampir 100 ribu tahun lamanya. Namun, setelah itu, manusia purba kemudian menyebar ke seluruh dunia, atau dikenal juga dengan ‘the great expansion’.

Untuk mencari jawaban atas kekuatan evolusioner yang mampu mengubah pola variasi genetika tersebut, ketiga tim peneliti mengamati genetika dari populasi manusia yang berbeda. Sebanyak 1.092 individu, mewakili 15 populasi manusia yang berbeda diamati dalam studi yang disebut sebagai 1000 Genome Project. Selain itu, 1.043 database individu dari 52 populasi yang ada di Human Genome Diversity Panel juga diteliti.

Setelah ketiga tim peneliti melakukan analisis terhadap pola variasi urutan genetika pada berbagai populasi manusia di seluruh dunia, mereka mendapati bahwa varian genetik penting muncul di kluster genetika utama pada kromosom 11 yang dikenal dengan fatty acid desaturase cluster (FADS) pada sekitar 85 ribu tahun lalu. Variasi ini memungkinkan manusia awal mengembangkan otak mereka menjadi berukuran lebih besar, memiliki kompleksitas tinggi dan fungsi yang lebih banyak.

Menurut Floyd Chilton, peneliti dari Center for Botanical Lipids and Inflammatory Disease Prevention, Wake Forest Baptist, manusia purba membutuhkan asam dokosa heksanoat (DHA) yang biasa ditemukan pada ikan dan kerang untuk mendukung fungsi otak yang kompleks.

“Kemungkinan inilah yang membuat manusia purba berkumpul di perairan di Afrika tengah di mana banyak ditemukan sumber makanan yang mengandung DHA,” kata Chilton. “Setelah mereka mengalami perubahan genetika, dan otak mereka mulai memiliki ukuran yang lebih besar, kompleksitas tinggi dan fungsi yang lebih banyak, mereka kemudian menyebar ke seluruh penjuru benua Afrika,” ucapnya.

Pada laporannya yang dipublikasikan di jurnal PLoS One, Joshua Akey, salah satu peneliti dari University of Washington menyebutkan, konversi genetika yang terjadi tersebut membuat manusia tidak lagi hanya perlu mengandalkan satu sumber makanan saja (ikan) untuk mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan otak mereka.

 

Sumber : National Geographic

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler