KEGAWATDARURATAN OBSTETRI
13 September 2012 - dibaca : 4.165 kali

KEGAWATDARURATAN OBSTETRI

Retensio plasenta adalah plasenta yang belum lepas setelah bayi lahir, melebih 30 menit. Atau tertahannya/ atau belum lahirnya plasenta hingga melebihi 30 menit setelah bayi lahir. 

 

Retensio Plasenta menurut tingkat perlekatannya :

1.       Plasenta adhesiva

Plasenta yg melekat pd desidua endometrium lebih dalam.

Plasenta Adhesiva adalah implantansi plasenta yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.

2.       Plasenta inkreta

Vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua
endometrium sampai ke miometrium.

Plasenta Inkerta adalah implantasi jonjot korion plas sehingga mencapai/memasuki miometrium.

3.       Plasenta akreta

Vili khorialis tumbuh menembus miometrium sampai ke
serosa.

Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium.

4.       Plasenta perkreta

Vili khorialis tumbuh menembus serosa / peritoneum
dinding rahim.

Plasenta Perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan secara dinding uterus.

5.       Plasenta inkarserta

Plasenta inkarserta adalah tertahannya plasenta didalam kavum uteri, disebabkan oleh konstriksi ostium uteri.

 

Penyebab

1.       Plasenta belum terlepas dari dinding rahim krna melekat dan tumbuh lebih dalam.

2.       Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim namun belum keluar krn atoni
uteri / adanya lingkaran konstriksi pd bagian bawah rahim (akibat
kesalahan penanganan kala III) yg akn menghalangi plasenta keluar.

 

Gejala n Tanda

1.       Gejala dan tanda yg selalu ada:

a.       Plasenta belum lahir setelah 30 menit

b.      Perdarahan segera

c.        Uterus kontraksi baik

2.       Gejala dan tanda yg kadang-kadang ada:

a.       Tali pusat putus akibat traksi berlebihan

b.      Inversio uteri akibat tarikan

c.        Perdarahan lanjutan 

 

Gambaran & Dugaan Penyebab Retensio Plasenta

GEJALA

SEPARASI/

AKRETA PARSIAL

PLASENTA INKARSERATA

PLASENTA AKRETA

Konsistensi uterus

TFU

Bentuk Uterus

Perdarahan

Tali pusat

Ostium uteri

Separasi Plas

Syok

Kenyal

Sepusat

Diskoid

Sedang-Banyak

Terjulur sebagian

Terbuka

Lepas sebagian

 

Sering

Keras

2 jari dibawah pusat

Agak globuler

Sedang

Terjelujur

Konstriksi

Sudah lepas

 

Jarang

Cukup

Sepusat

Diskoid

 

 

Sedikit/Tidak ada

Tidak terjulur

Terbuka

Melekat seluruhnya

Jarang sekali, kecil akibat inversio oleh tarikan kuat pada tali pusat

 

 

Upaya preventif retensio plasenta oleh bidan

1.       Me↑ pertolongan persalinan oleh nakes terlatih.

2.       Pd waktu melakukan pertolongan persalinan kala III tidk diperkenankan untuk melakukan masase dg mempercepat persalinan plasenta. Masase yg tdk tepat waktu dpt mengacaukan konraksi otot rahim dan menggangu pelepasan plasenta.

 

Penanganan Retensio Plasenta

1.       Coba 1-2 kali dengan perasat Crede.

2.       Mengeluarkan plasenta dengan tangan (manual plasenta).

3.       Memberikan transfusi darah bila perdarahan banyak.

4.       Memberikan obat-obatan misalnya uterotonika dan antibiotik.

 

Sikap bidan dalam penanganan retplas

a.       Sikap umum bidan .

a.       Memperhatikan keadaan umum penderita.

Ø  Apakah anemis

Ø  Bagaimana jumlah perdarahannya

Ø  Keadaan umum penderita : TD, N, S

Ø  Keadaan fundus uteri : kontraksi dan tinggi fundus uteri.

b.      Mengetahui keadaan plasenta.

 Jenis ret plas

c.       Memasang infus dan memberikan cairan pengganti.

b.      Sikap khusus bidan

a.       Retensio plasenta dengan perdarahan

                Langsung melakukan plasenta manual

b.      Retensio plasenta tanpa perdarahan.

Ø  Setelah dapat memastikan keadaan umum penderita segera memasang infus dan memberikan cairan.

Ø  Merujuk penderita ke pusat dengan fasilitas cukup, untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik.

Ø  Memberikan transfusi

Ø  Proteksi dengan antibiotika

 

Plasenta Manual

1.       Persiapan plasenta manual : Peralatan sarung tangan steril, desinfektan untuk genitalia eksterna.

2.       Teknik.

Ø  Sebaiknya dengan narkosa

Ø  Desinfektan untuk genitalia eksterna. Tangan kanan dimasukkan secara obsteris sampai mencapai tepi plasenta dengan menelusuri tali pusat.

Ø  Tepi plasenta dilepaskan dengan bagian luar tangan kanan sedangkan tangan kiri menahan fundus uteri sehingga tidak terdorong ke atas.

Ø  Setelah seluruh plasenta dapat dilepaskan. Maka tangan dikeluarkan bersama dengan plasenta.

Ø  Dilakukan eksplorasi untuk mencari sisa plasenta atau membrannya. Kontraksi uterus ditumbulkan dengan memberikan uterotonika

Ø  Perdarahan diobservasi.

 

Ret Plas dengan separasi parsial:

1.       Tentukan jenis retensio yang terjadi

2.       Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengedan

3.       Pasang infus oksitosin 20 unit dalam 500 cc NS/RL dengan 40 tpm.

4.       Lakukan manual plasenta secara hati-hati dan halus.

5.       Restorasi cairan untuk mengatasi hipovolemia.

6.       Lakukan transfusi darah apabila dianjurkan.

7.       Beri antibiotika profilaksis (ampisilin 29 IV/Oral + Metronidazol 1 g, Supositoria/Oral).

 

Plasenta Inkarserata

1.       Tntukan dx kerja melalui anamnesa, gejala klinik dan px.

2.       Siapkan peralatan dan bahan yg dibutuhkan untuk menghilangkan konstriksi serviks dan melahirkan plasenta.

3.       Pilih fluothane/eter untuk konstriksi serviks yg kuat. Siapkan infus oksitosin 20 iu dalam 50 ml NS/RL dg 40 tpm.

4.       Bial prosedur anestesi tidak tersedia tetapi servik dpt dilalui oleh cunam ovum lakukan manuver sekrup.

5.       Pengamatan dan perawatan lanjutan meliputi:

a.       Pemantauan TTV

b.      Kontraksi uterus

c.       TFU

d.      Perdarahan pasca tindakan

6.       Pemantauan tambahan yaitu pemantauan efek samping dari penggunaan bahan2 sedhativa analgetika atau anestesi umum.

 

Plasenta AKRETA

1.       Diagnosis pada px luar:

ikutnya fundus / korpus apabila tali pusat ditarik.

2.       Diagnosa pada px dalam:

sulit ditentukan tepi plasenta karena implantasi yang didalam.

3.       Yg dpt dilakukan oleh fasilitas pelayanan kesehatan dasar:

menentukan dx, stabilisasi pasien dan rujuk ke RS rujukan karena kasus ini memerlukan tindakan operatif.

 

 

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler