Mohon Maaf atas tidak tercantumnya semua sumber dari konten yang ada di website ini.. Terima Kasih kepada semua yang telah menyadur dan mencantumkan referensi dari website ini, semoga bermanfaat untuk semua.
ETIOLOGI ASFIKSIA
16 September 2012 - dibaca : 7.523 kali

ETIOLOGI ASFIKSIA

Etiologi dan Faktor Predisposisi

  1. Hipoksia Janin

Hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia neonaturum terjadi karena gangguan perputaran gas serta traspor O2 dari ibu ke janin sehingga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2. Gangguan ini dapat berlangsung secara menahun akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan, atau secara mendadak karena hal-hal yang diderita ibu dalam persalinan.

  1. Gangguan menahun dalam kehamilan

Gangguan menahun dalam kehamilan dapat berupa gizi ibu yang buruk, penyakit menahun seperti anemia, hepertensi, penyakit jantung, dll. Pada keadaan terakhir ini pengaruh terhadap janin disebabkan oleh gangguan oksigenasi serta kekurangan pemberian zat-zat makanan berhubungan dengan gangguan fungsi plasenta. Hal ini dapat dicegah atau dikurangi dengan melakukan antenatal yang sempurna, sehinna perbaikan sedini-dininya dapat diusahakan.

  1. Faktor-faktor lain

Faktor-faktor yang timbul dalam persalinan bersifat lebih mendadak dan hampir selalu mengakibatkan anoksia atau hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia bayi.

 

  1. Gangguan Homeostatis

Perubahan pertukaran gas dan transport pertukaran oksigen selama kehamilan dan persalinan akan mempengaruhi oksigenasi sel-sel tubuh yang selanjutnya dapat mengakibatkan gangguan fungsi sel. Gangguan fungsi ini dapat ringan serta sementara atau menetap, tergantung dari perubahan homeostatis yang terdapat pada janin. Perubahan homeostatis ini berhubungan erat dengan beratnya dan lamanya anoksia atau hipoksia yang diderita.

Dalam garis besar perubahan-perubahan yang terjadi pada asfiksia adalah

a)     Menurunnya tekanan O2 arterial

b)     Meningkatnya tekanan CO2

c)     Turunnya pH darah

d)     Dipakainya simpanan glikogen tubuh untuk metabolismus an aerobic

e)     Terjadinya perubahan fungsi system kardiovaskuler.

 

Diagnosis Asfiksia Bayi

Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anolsia atau hipoksia janin. Diagnosis ini dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya gawat janin. 3 Hal yang perlu mendapatkan perhatian :

a)    Denyut Jantung Janin : peningkatan kecepatan jantung janin frekuensinya  turun sampai dibawah 100 semenit di luar his dan tidak teratur hal ini merupakan tanda bahaya.

b)   Mekonium Dalam Air Ketuban : adanya mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila itu dapat dilakukan dengan mudah.

c)    Pemeriksaan pH Darah Janin : dengan menggunakan amnioskop yang   dimasukkan ke dalam serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pHnya, adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu dapat dianggap sebagai tanda bahaya.

 

Diagnosis Asfiksia Bentuk Ringan meliputi sianosis (asfiksia biru), insufiensi gerakan pernafasan, denyut kuat tetapi bradikardi, tonus otot normal dan reflek kulit cepat.

Diagnosis Asfiksia Bentuk Berat meliputi pucat (asfiksia pucat atau putih), denyut lemah seperti benang, peningkatan bradikardi, pada kasus berat, impuls jantung pada dinding dada susah diraba, pernafasan tidak ada atau megab-megab, kehilangan tonus otot dan reflek hilang atau akhir.

 

Evaluasi Neonatus

Evaluasi yang beragam dari pembagian klasik dimungkinkan saat ini secara internasional dengan menggunakan apgar :

5 ekspresi kehidupan yang berbeda dievaluasi 1 menit setelah persalinan dengan angka (0,1,2)

angka yang di dapat ditambahkan :

angka 10      : optimum

angka 9-7    : masih normal

kurang dari 7        : asfiksia


Terpopuler