Aliran Filsafat non-Positivisme
13 September 2012 - dibaca : 3.016 kali

Aliran Filsafat non-Positivisme

Non-positivisme adalah satu cara pandang open mind untuk mendapatkan keunikan informasi serta tidak untuk generalisasi, yang entry pouint pendekatannya berawal dari pemaknaan untuk menghasilkan teori dan bukan mencari pembenaran terhadap suatu teori ataupun menjelaskan suatu teori, dikarenakan kebenaran yang diperoleh ialah pemahaman terhadap teori yang dihasilkan. Untuk ini dalam non positivisme terdapat tiga hal penyikapan, yaitu:
 Memusatkan perhatian pada interaksi antara actor dengan dunia nyata
 Actor manusia pelaku ekonomi maupun dunia ekonomi senyatanya perlu dipandang sebagai proses dinamis dan bukan sebagai sturktur yang statis
 Arti penting yang terkait dengan kemampuan actor pelaku ekonomi untuk menafsirkan kehidupan sosialnya.

Dalam interaksi sosial, non-positivistic mengakomodir perhatian pada kajian penjelasan aktor pelaku maupun cara cara penjelasannya dapat diterima atau ditolak oleh fihak lain.

NON POSITIVISME DALAM ILMU EKONOMI.
Dalam konteks filsafat ilmu, ilmu ekonomi termasuk bagian ilmu sosial, yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan praktis, sebagaimana disebutkan Paul A. Samuelson sebagai ilmu yang beruntung (fortunate), karena dapat diterapkan langsung pada kebijakan umum (public policy). Pemahaman ini sejalan dengan Landreth, H et al.(1994; 1) bahwa Ilmu ekonomi adalah sebuah sains sosial (Economics is a social science). Semboyan positivisme “savoir pour previor” (mengetahui untuk meramalkan), yang menurut pandangan ekonom non-mainstream sebagai metodologi yang sepertinya elegan dalam menciptakan model rekayasa masyarakat (socialengineering) namun disadari maupuh tidak, pada nyatanya bersifat artificial. Metodologi ilmu ekonomi positif bersifat formal dan abstrak; metodologi berusaha untuk memisahkan kekuatan-kekuatan ekonomi dari kekuatan politik dan sosial, Sebagaimana dikemukakan Landreth,H et al.(1994;10), ‘The methodology of positive economics is formal and abstract; it tries to separate economic forces from political and social forces’.

Dasar pemikiran klasik dalam mengemukakan teori pasar menjadi bukti penunjuk tentang diampunya pandangan positivisme, dengan pendapatnya bahwa perekonomian akan efisien bila ada persaingan bebas. Selanjutnya persaingan bebas akan memerlukan pasar-bebas sebagai wadahnya. Bertolak pada hal ini, hiduplah suatu pola pikir akademik (academic mindset), bahwa persaingan haruslah bebas dan pasar yang ideal adalah pasar-bebas. Persaingan dan pasar bebas, keduanya adalah dua pasangan yang akan menjamin manfaat optimal, yakni efisiensi ekonomi. Menurut Smith, persaingan sempurna (perfect competition), kebebasan individual sepenuhnya adalah perfect individual liberty. Pamrih pribadi (self-interest) Smith ini kemudian bertemu dengan individualismenya Thomas Hobbes.

Pelaku ekonomi adalah makhluq rochaniah, yang memiliki idea, nilai nilai, harapan harapan tertentu sesuai dengan kesadarannya, sebagai seperangkat fenomena responsibilitasnya tidak akan tepat bilamana dibaca sebagai tindakan yang otomatik ataupun mekanistik maupun matematik dan statistik. Kegiatan ekonomi adalah merupakan fenomena sosial (fenomena manusia sebagai makhluq rochaniah) akan dapat dipahami setepat tepatnya hanya dengan memahami dunia makna yang hidup pada mindset para pelakunya, yakni pelakunya itu sendiri yang dinamik dan unik. Subyek pelaku berperan kuat dalam memaknai dan kemudian menyikapi dinamika ekonomi. Pemaknaan & penyikapan ini tidak berhenti pada dunia yang dihayati oleh individu pelaku ekonomi, namun pula melibatkan makna penafsiran yang terungkap karena penghayatan pada fenomena itu. Dengan lain kata dalam maksud yang sama ; permasalahan ekonomi yang menyangkut perilaku ekonomi bilamana dipaksakan dengan positivisme maka hasil yang diperoleh tiada lain adalah pembenahan pembenahan, tidak muncul teori baru, dan amat besar kemungkinannya akan menghasilkan kontroversi yang tidak Diametrika Paradigma Penelitian Ilmu Ekonomi – sonny Leksono 15 terselesaikan dalam menentukan kebijakan ekonomi karena padanya adalah sebuah hasil spekulatif dari sebuah stereotipe. Karena dengan sifatnya yang predictable, positivisme sejalan dengan teorinya seakan sudah “dapat menentukan atau menduga” hasil dari sejak penelitian belum dilaksanakan secara deterministic.

Bilamana kejadian yang probabilistic, terjadi diluar dugaan sebagaimana menjadi prediksi awal, maka positivisme juga telah – siap - memiliki jawaban bahwa penyimpangan itu adalah sebagai “error”, atau membela diri dengan mengatakan; sebagai bagian dari variable yang tidak diamati. Studi yang masuk dalam wilayah ilmu-ilmu sosial, tak bisa dipahami dengan cara-cara distansi atau disekap sebagai obyek manipulasi dan didesain dengan model-model kalkulatif. Peneliti hanya bisa bersikap “memasuki” wilayah ini dengan pemahaman (verstehen) (Hardiman; 2002 : 28) sebab yang diharapkan ditemukan dalam studi ini bukanlah hubungan sebab-akibat yang bersifat pasti, namun tentang dunia makna. Disini diperlukan “mata (hati) seorang manusia” yang dapat memahami makna, bukan “mata seorang biologi atau fisikawan atau matematikawan”. Dalam konteks ini peneliti tidak lebih tahu daripada pelaku ekonomi itu sendiri. Karenanya, paradigma non positivisme selalu berupaya menjelaskan fenomena yang ada, yaitu memahami makna yang berada dibalik fenomena. Tujuan pilihan metode pendekatan, paradigma dan model yang tepat untuk memperoleh gambaran menyeluruh yang holistik mengenai realitas ekonomi menurut penelitian kualitatif yang benar adalah bukan to learn about the people, akan tetapi to learn from the people. Dengan ini pula dapat ditegaskan bahwa sesuatu jenis penelitian yang diskriptif adalah bukan penelitian kualitatif karena masih membawa anasir yang positivistic.

Diametrika Paradigma Penelitian Ilmu Ekonomi – sonny Leksono 16 Karakter utama pendekatan kualitatif ini adalah mengkedepankan makna, konteks dan perpektif emic5, mementingkan kedalaman informasi daripada cakupan penelitian. Sehingga penelitian lebih berupa siklus dan proses pengumpulan data secara simultan. Dasar paradigma yang diacu dalam paradigma kualitatif adalah tetap memandang manusia bertindak rasional, namun dalam penyelesaian masalah hidup sehari hari adalah menggunakan ”penalaran praktis” , bukan logika formal.

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler