Mohon Maaf atas tidak tercantumnya semua sumber dari konten yang ada di website ini.. Terima Kasih kepada semua yang telah menyadur dan mencantumkan referensi dari website ini, semoga bermanfaat untuk semua.
Kanker pada Anak
11 September 2015 - dibaca : 804 kali

Kanker pada Anak

Terminologi “Kanker Anak” biasanya digunakan pada diagnosis kanker yang terjadi pada anak sampai usia 18 tahun. Menurut data Union for International Cancer Control (UICC), setiap tahun terdapat sekitar 176.000 anak yang didiagnosis kanker, yang mayoritas berasal dari negara berpenghasilan rendah dan menengah. Meskipun kejadian kanker pada anak di seluruh dunia masih cukup jarang, namun kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian 90.000 anak setiap tahunnya.

Di negara berpenghasilan tinggi, kanker merupakan penyebab kedua terbesar kematian anak umur 5-14 tahun, setelah cedera dan kecelakaan. Sementara itu, di Indonesia terdapat sekitar 11.000 kasus kanker anak setiap tahunnya, dan terdapat sekitar 650 kasus kanker anak di Jakarta. Jenis penyakit kanker anak cenderung berbeda dengan kanker pada dewasa. Secara umum, sepertiga dari kanker anak adalah leukemia. Penyakit kanker terbanyak lainnya adalah limfoma dan tumor pada sistem saraf pusat. Beberapa jenis tumor yang terjadi hanya pada anak-anak yaitu neuroblastoma, nephroblastoma, medulloblastoma dan retinoblastoma.

Hingga kini, hanya beberapa faktor risiko kanker anak yang dapat diidentifikasi, di antaranya adalah radiasi, faktor genetik, karsinogen kimiawi, dan virus. Sejumlah kanker pada anak juga terkait dengan konstitusi genetik. Hal ini diperkirakan karena adanya perbedaan kasus baru kanker anak pada etnis berbeda. Kerentanan individu yang diakibatkan oleh faktor genetik juga merupakan salah satu penyebab kanker.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa virus seperti Epstein-Barr, Hepatitis B, Human Herpes dan HIV dapat berkontribusi pula terhadap peningkatan risiko kanker anak. Sebagian besar kanker anak muncul tanpa tanda dan gejala yang spesifik, sehingga dapat menyebabkan lambatnya kanker tersebut terdeteksi. Di negara berpenghasilan rendah terdapat hambatan untuk melaksanakan deteksi dini yang disebabkan karena kurangnya akses ke pelayanan kesehatan dan fasilitas diagnostik yang masih kurang memadai.

Di negara berpenghasilan tinggi, sekitar 80% anak yang menderita kanker bertahan hidup lima tahun atau lebih setelah didiagnosis kanker. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, prognosis pada anak yang didiagnosis kanker jauh lebih rendah. Lambatnya diagnosis kanker, kurang memadainya peralatan dan obat-obatan di rumah sakit, terjadinya komplikasi penyakit lainnya yang mungkin diderita oleh anak tersebut, serta kurangnya pengetahuan terkait kanker pada penyedia layanan kesehatan primer dapat mempengaruhi efektivitas pengobatan kanker.

Leukemia merupakan penyakit dengan jumlah kasus baru dan jumlah kematian terbanyak di RS Kanker Dharmais. Kasus baru dan kematian akibat leukemia cenderung meningkat setiap tahunnya. Limfoma, Wilm’s tumor, dan retinoblastoma juga turut berkontribusi terhadap tingginya jumlah kematian akibat kanker pada anak. Dari semua jenis kanker pada anak, hanya retinoblastoma yang dapat dideteksi sejak dini. Semakin awal kasus retinoblastoma dideteksi, maka semakin baik upaya penanganan yang dapat diberikan, sehingga jumlah kematian akibat retinoblastoma dapat ditekan.

 


Terpopuler