BATUK KRONIS
11 November 2014 - dibaca : 1.099 kali

BATUK KRONIS

Semua orang pasti pernah mengalami batuk: tua muda, laki perempuan. Tapi tahukah Anda kalau batuk yang berkepanjangan selama lebih dari 3 minggu atau batuk kronis itu bisa berbahaya?

Batuk sebenarnya adalah cara tubuh untuk melindungi paru dan jalan nafas dari cedera dan infeksi. Dengan batuk, tubuh sebenarnya hendak membersihkan jalan napas yaitu, bronkus besar dari tumpukan cairan dan benda asing. Refleks batuk ini terjadi akibat dari rangsangan pada reseptor batuk yang terletak di sepanjang saluran napas, pembungkus paru, pembungkus jantung, sinus sekitar hidung, lambung, dan diafragma. Rangsangan yang bisa mengaktifkan reseptor ini termasuk rangsang inflamasi, mekanik, kimia, serta panas. Jadi kalau seandainya kita menghirup partikel-partikel yang merangsang jalan nafas kita maka refleks kita adalah batuk.

Namun, sayangnya batuk juga bisa menyebarkan penyakit, mengganggu keseharian dan kualitas hidup, serta terkadang menandakan adanya penyakit serius. Lamanya seseorang mengalami batuk merupakan karakter penting untuk mengevaluasi penyakit yang mendasarinya.

 

Jangan Anggap Remeh Batuk Kronis

Batuk akut, batuk yang berlangsung kurang dari 3 minggu, paling sering disebabkan oleh infeksi saluran napas atas karena virus atau bakteri. Batuk karena infeksi virus ini, biasanya dapat sembuh sendiri atau dengan menggunakan obat pereda batuk yang dijual bebas, sehingga pasien jarang berobat ke dokter. Sedangkan batuk kronis adalah batuk berkepanjangan selama lebih dari 3 minggu.

Penyebab terbanyak (90%) batuk kronis: bronkitis kronis terkait tembakau, dahak berlebih di belakang hidung (postnasal drip), asma, dan refluks lambung-esofagus (gastroesophageal reflux). Riwayat medis dapat mengarahkan diagnosis spesifik pada 70% pasien batuk kronis. Maka, bila berkonsultasi dengan dokter, ceritakanlah gejala yang dialami, riwayat penyakit dahulu, serta obat yang dikonsumsi.

Pada bronkitis kronis karena tembakau, penghentian merokok akan menghilangkan batuk. Bagaimanapun juga, penilaian batuk pada pengguna tembakau cukup rumit. Pada banyak perokok, batuk hanyalah karena iritasi jalan napas, maka perokok sendiri tidak sering mencari perhatian medis bila mengalami batuk. Namun batuk pada perokok juga bisa merupakan indikasi awal penyakit serius seperti bronkitis kronis, emfisema, atau kanker/keganasan pada saluran paru-paru. Pada penyakit-penyakit tersebut terdapat gejala pendukung seperti batuk yang menetap dan bertambah parah, perubahan dahak, batuk berdarah, penurunan berat badan, serta kelelahan.

Pada postnasal drip –yang juga merupakan gejala dari berbagai macam penyakit seperti influenza, infeksi sinus, alergi, benda asing dalam hidung– biasanya ditemukan  ingus, nyeri sinus, dan dahak. Bila postnasal drip disebabkan oleh infeksi bakteri, maka antibiotik akan menyembuhkan penyakit sekaligus menghilangkan gejala batuk yang menyertai. Terkadang juga disertai demam yang akan mereda dengan konsumsi parasetamol. Salah satu cara mudah untuk mengurangi dahak yang mengganggu adalah dengan banyak minum air. Tidur dengan bantal yang diatur lebih tinggi juga membantu agar dahak tidak terkumpul di tenggorok yang akan merangsang batuk.

Bila asma diduga sebagai penyebab batuk kronis, maka dokter dapat mendengar mengi saat pasien menghembuskan napas. Pada asma yang sumbatannya cukup berat, maka suara mengi ini bahkan dapat terdengar tanpa stetoskop. Batuk pada penderita asma biasanya terjadi atau semakin sering terjadi pada malah hari. Pasien asma dianjurkan menghindari alergen yang akan memicu serangan asma. Pemilihan obat batuk juga harus dikonsultasikan dengan dokter supaya tidak memperparah sumbatan pada jalan napas.

Pada pasien dengan refluks lambung, terdapat gejala lain seperti regurgitasi yakni naiknya makanan dari lambung ke esofagus, dan heartburn atau rasa terbakar pada dada di belakang tulang dada yang terasa bertambah buruk jika pasien berbaring atau menunduk. Pasien sebaiknya tidak berbaring segera setelah makan, makan dalam porsi kecil dengan frekuensi lebih sering, tidur dengan bantal lebih tinggi, menjaga berat badan agar tetap ideal dan menghindari pakaian ketat.

 

Apakah Batuk Kronis Sama Dengan TBC?

Batuk terkadang disertai dahak yang berdarah. Gejala ini disebut hemoptisis. Di Indonesia, hemoptisis sering dikaitkan dengan penyakit TBC atau tuberculosis. Di seluruh dunia, TBC merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian terbanyak pada dewasa muda. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia mengidap TBC laten, yakni infeksi TBC yang bakterinya tidak aktif, tidak menimbulkan gejala, dan tidak menular. Karena TBC laten bisa menjadi TBC aktif yang berbahaya serta menular, maka sangat penting bagi pasien untuk tetap minum obat selama minimal 6-9 bulan walaupun sudah tidak merasakan gejala apapun. Berhenti minum obat sebelum terapi selesai dan dinyatakan sembuh hanya akan menyebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis resisten dan sulit dibunuh sehingga penyakit TBC semakin sulit disembuhkan. Segera periksa ke dokter jika mengalami batuk yang lebih dari 3 minggu, batuk berdarah, keringat malam, demam, atau penurunan berat badan yang tidak disengaja. TBC biasanya didiagnosis dengan pemeriksaan dahak dan darah.

Jadi batuk memang hanya merupakan refleks perlindungan tubuh untuk membersihkan jalan nafas. Tapi bukan berarti kita lengah dan tidak waspada. Penanganan pertama pada batuk yang membandel bisa dilakukan dengan obat yang dijual bebas. Obat batuk ini ada 2 jenis yaitu obat penekan batuk atau antitusif dengan kandungan dextrometrophan atau obat batuk yang bersifat ekspetoran atau pengeluar dahak. Namun, ingat untuk berkonsultasi ke dokter bila gejala batuk ini berkelanjutan agar bisa ditangani dengan tepat.

 

Ditulis oleh: dr. Adisti Widyapuspa Adityaputri

Sumber : panadol.com

 

Referensi:

  1. Ali J, Summer WR, Levitzky MG (eds.). Pulmonary Pathophysiology: A Clinical Approach, 3rd ed. McGraw-Hill Lange. 2010.
  2. Baliga RR. Crash Course: Internal Medicine. Elsevier Mosby. 2006.
  3. Hanley M, Welsh C. Current Diagnosis & Treatment in Pulmonary Medicine. McGraw-Hill Companies, Inc. 2003.
  4. Mayo Clinic. Heartburn [Internet]. Mayo Foundation for Medical Education and Research; [cited 2014 April 16]. Available from: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/heartburn-gerd/basics/lifestyle-home-remedies/con-20019545
  5. Mayo Clinic. Tuberculosis [Internet]. Mayo Foundation for Medical Education and Research; [cited 2014 April 16]. Available from: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tuberculosis/basics/symptoms/con-20021761
  6. National Institute of Allergy and Infectious Diseases (US).  Tuberculosis (TB) [Internet]. U.S. Department of Health and Human Services: National Institutes of Health; [updated 2012 March 5; cited 2014 April 15]. Available from: http://www.niaid.nih.gov/topics/tuberculosis/Understanding/Pages/cause.aspx
  7. WebMD. Postnasal Drip [Internet]. WebMD, LLC: Allergies Health Center; [reviewed 2012 Aug 5; cited 2014 Apr 16]. Available from http://www.webmd.com/allergies/postnasal-drip?page=2

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler