ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN BBLR
06 Oktober 2014 - dibaca : 2.828 kali

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN BBLR

I.  PENGKAJIAN

·  Biodata bayi : nama, tanggal lahir, jenis persalinan, jenis kelamin, no register

·  Biodata ibu, ayah : nama, umur, pendidikan, pekerjaan, alamat

·  Riwayat penyakit : mulai timbul gejala sampai dibawa ke rumah sakit

·  Riwayat penyakit dahulu : penyakit yang pemah diderita sebelumnya

·  Riwayat prenatal : pemeriksaan kehamilan, kebiasaan ibu, nutrisi saat hamil, Obat-obatan yang dikonsumsi saat hamil, penyakit yang diderita (hipertensi, diabetes mellitus, TOREH, TBE), kelahiran premature sebelumnya, kehamilan kembar, plasenta previa

·  Riwayat natal : umur kehamilan, berat badan lahir, panjang badan, lingkar kepala, lingkar dada, warna ketuban, kelainan ditemukan, tindakan persalinan, apsgar score, riwayat KPD, penolong persalinan.

 

II. PEMERIKSAAN FISIK

·  Keadaan umum : letargi, tangis lemah, gerak lemah

·  Tanda-tanda vital : suhu, pernafasan, denyut jantung

·  Kepala : lingkar kepala, ubun-ubun cekung/cembung, sutura melebar/bertumpukan, adakah cepal hematom, caput sucedenium, meningocele

·  Mata : secret mata, sclera icterus, konjungtivitis

·  Hidung : secret, atresia acoana

·  Mulut : makroglosi, palatosehisis, monoliasis

·  Bibir : wama bibir, bibir sumbing

·  Telinga : tulang rawan pada daun telinga masih lembek

·  Leher 2 pembesaran kelenjar

·  Dada : bentuk dada, pergerakan nafas (simetris/asimetris), retraksi dada, frekuensi nafas, pola nafas, suara nafas, denyut jantung

·  Perut : cekung (hernia diafragmatika), rata, distended, bising usus, keadaan tali pusat (kering/basah, perdarahan, bau), adanya kelainan (omphalocele, gastroschisis)

·  Inguinal : anus, hernia

·  Genitalia :

Laki-laki : testis belum turun ke serotum, rugae

Perempuan : labia mayor belum menutupi labia minor

·  Punggung : rambut lanugo masih banyak, adanya kelainan (spina bifida, myelocele)

·  Ekstrimitas : pergerakan lemah, akral hangat/dingin, panjang kuku belum melewati ujung jari, odema

·  Kulit : warna kulit (merah muda, sianosis, icterus), hangat atau dingin

·  Reflex : reflex menelan, menghisap, morro, shaking, rooting

 

III.   DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Pola nafas tidak efektif` berhubungan dengan prematuritas organ pemafasan

2. Potensial terjadinya hipotermi berhubungan dengan fungsi pengatur suhu tubuh belum sempuma, lemak subkutan dibawah kulit masih tipis.

3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap dan menelan kurang sempurna

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan lemahnya sistem kekebalan tubuh bayi dan kemungkinan infeksi silang dari ibu maupun petugas kesehatan

5. Resiko terjadinya hipoglikemi berhubungan dengan metabolisme yang meningkat

 

IV.   RENCANA TINDAKAN

1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan prematuritas organ pernafasan

Tujuan ; Pola nafas efektif.

 

Kriteria hasil :

·  Pernafasan normal ( 40-60 x/mnt)

·  Tidak ada retraksi dada

·  6 Tidak ada sianosis

·  Tidak ada periodie apnoe > 20 detik.

·  FJ dalam batas normal ( 100-160 x/mnt)

Rencana tindakan :

1. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan

2. Bebaskan jalan nafas dengan pengaturan posisi kepala sedikit ekstensi dan penghisapan lender,

3. Observasi vital sign dan tanda-tanda gawat nafas.

4. Kolaborasi dengan medis dalam pemberian oksigenasi dan management terapi.

5. Kolaborasi dengan medis untuk pemeriksaan thorax foto dan lab AGD.

Rasionalisasi :

1. Menghindari infeksi nosokomial

2. Kebersihan jalan nafas dapat menjaga keefektifan pola nafas.

3. Untuk mendeteksi adanya kelainan pada pemafasan bayi.

4. Dosis oksigen yang tepat dapat mencegah kerusakan retina pada neonates.

5. Diagnosa dan terapi yang tepat membantu mempercepat proses penyembuhan.

 

2. Potensial terjadinya hipotermi berhubungan dengan fungsi pengatur suhu tubuh belum sempuma, lemak subkutan dibawah kulit masih tipis.

Tujuan : Tidak terjadi hipotermi.

Kriteria hasil :

·  Keadaan umum bayi baik.

·  Akral hangat.

·  Vital sign dalam batas normal (suhu : 36,5o - 37,5o C, FJ 100-160 x/mnt

 

Rencana tindakan :

1. Rawat bayi dalam lingkungan yang hangat (incubator, infant warner, box lampu).

2. Jaga lingkungan bayi tetap hangat (Berikan bayi pakaian yang kering dan hangat, selimut dan tudung kepala bila perlu).

3. Jaga bayi kehilangan panas secara konduksi, konveksi, evaporasi dan radiasi (Ganti secepatnya bila pakaian basah, mandikan bayi dengan minyak).

4. Observasi vital sign tiap jam.

5. Observasi keadaan umumnya, perubahan warna kulit, pernafasan, kejang.

Rasionalisasi :

1. Lingkungan yang hangat dapat mempertahankan suhu tubuh bayi tetap normal.

2. Mencegah penurunan suhu tubuh.

3. Kehilangan panas yang melebihi produksi panas akan menyebabkan hipotermi.

4. Deteksi dini terjadinya hipotermi

5. Deteksi dini terhadap terjadinya hipotermi.

 

3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap dan menelan kurang sempuma.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi.

 

Kriteria hasil :

· Bayi dapat minum sesuai dengan kebutuhannya.

· Rooting ada, reflek hisap dan daya telan baik.

· BB tidak turun lebih dari 10 %g

· HB dan albumin dalam batas normal.

· Toleransi minum baik. 

· Capilary Refil Time kurang dari 3 detik.

 

Rencana tindakan :

1. Latih ibu untuk meneteki bayi sesering mungkin.

2. Berikan minum bayi sesuai dengan kebutuhan.

3. Pantau intake dan output.

4. Motivasi pada ibu agar dengan sabar dan telaten untuk meneteki bayinya.

 

Rasionalisasi :

1. Memenuhi kebutuhan nutrisi bayi serta memperlancar produksi ASI

2. Memenuhi kebutuhan minum sesuai dengan kebutuhan.

3. Deteksi dini terhadap dehidrasi.

4. Reflek menghisap dan menelan pada bayi dengan BBLR atau prematur kurang sempuma sehingga harus dilatih.

5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan lemahnya sistem kekebalan tubuh bayi dan kemungkinan infeksi silang dari ibu maupun petugas kesehatan

 

Tujuan : infeksi tidak terjadi

 

Kriteria hasil :

·  Suhu tubuh normal 36,5o – 37,5°C

·  Tidak ada tanda-tanda infeksi (letargis, malas minum, hipo/hipertermi, tangis lemah atau merintih, retensi/muntah, diare, ikterus, gangguan nafas, akral dingin, sklerem

·  Leukosit 5000-10000 /UI

 

Rencana tindakan :

1. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi

2. Kaji tanda-tanda infeksi

3. Cegah kontak dengan orang yang terinfeksi

4. Pertahankan prinsip aseptie sebelum kontak dengan pasien

5. Pakai baju khusus/skort waktu masuk ruang isolasi/kamar bayi

6. Lakukan perawatan tali pusat minimal 2x sehari

7. Jaga kebersihan (badan /pakaian) dan lingkungan bayi

8. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotic

  

Rasionalisasi :

1. Mencegah penyebaran infeksi nosokomial

2. Deteksi dini adanya kelainan

3. Mencegah terjadinya penularan infeksi

4. Pada bayi baru lahir daya tahan tubuhnya rendah

5. Mencegah masuknya bakteri dari baju petugas ke bayi.

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler