Mohon Maaf atas tidak tercantumnya semua sumber dari konten yang ada di website ini.. Terima Kasih kepada semua yang telah menyadur dan mencantumkan referensi dari website ini, semoga bermanfaat untuk semua.
Definisi, Klasifikasi, Epidemiologi, Mekanisme Penularan dan Pencegahan Amoebiasis
02 Januari 2014 - dibaca : 7.793 kali

Definisi,  Klasifikasi,  Epidemiologi, Mekanisme Penularan dan Pencegahan Amoebiasis

A. Definisi Amoebiasis
Amoebiasis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi Entamoeba histolyca, protozoa usus yang umumnya hanya menyerang manusia, namun juga dapat menimbulkan penyakit pada kera atau primate lainnya. Parasit ini dalam keadaan tertentu dapat menyebar ke organ-organ tubuh selain usus, misalnya hati.

B. Klasifikasi Amoebiasis
Klasifikasi amoebiasis menurut WHO (1968) dibagi dalam asimtomatik dan simptomatik, sedang yang termasuk amoebiasis simptomatik yaitu amoebiasis intestinal yaitu dysentri, non-dysentri colitis, amoebic appendicitas ke orang lain oleh pengandung kista entamoeba hitolytica yang mempunyai gejal klinik (simptomatik) maupun yang tidak (asimptomatik).

C. Epidemiologi Amoebiasis
Entamoeba histolytica pertama kali ditemukan oleh Losh tahun 1875 dari tinja disentrai seorang penderita di Leningrad, Rusia. Pada autopsi, Losh menemukan Entamoeba histolytica bentuk trofozoit dalam usus besar, tetapi ia tidak mengetahui hubungan kausal antara parasit ini dengan kelainan ulkus usus tersebut.

Pada tahun 1893 Quiche dan Roos rnenemukan Entamoeba histolytica bentuk kista, sedangkan Schaudin tahun 1903 memberi nama spesies Entamoeba histolytica dan membedakannya dengan amoeba yang juga hidup dalam usus besar yaitu Entamoeba coli. Sepuluh tahun kemudian Walker dan Sellards di Filiphina membuktikan dengan eksperimen pada sukarelawan bahwa entamoeba histolytica merupakan parasit komensal dalam usus besar.
Amoebiasis tersebar luas diberbagai negara diseluruh dunia. Pada berbagai survei menunjukkan frekuensi diantara 0,2 -50 % dan berhubungan langsung dengan sanitasi lingkungan sehingga penyakit ini akan banyak dijumpai pada daerah tropik dan subtropik yang sanitasinya jelek, dan banyak dijumpai juga di rumah-rumah sosial, penjara, rumah sakit jiwa dan lain-lain.

Di Indonesia, amoebiasis kolon banyak dijumpai dalam keadaan endemi. Prevalensi Entamoeba histolytica di berbagai daerah di Indonesia berkisar antara 10–18 %. Amoebiasis juga tersebar luas diberbagai negara diseluruh dunia. Pada berbagai survei menunjukkan frekuensi diantara 0,2 -50 % dan berhubungan dengan sanitasi lingkungan sehingga penyakit ini akan banyak dijumpai pada daerah tropik dan subtropik yang sanitasinya jelek.
Di RRC, Mesir, India dan negeri Belanda berkisar antara 10,1 –11,5%, di Eropa utara 5 -20%, di Eropa Selatan 20 -51 % dan di Amerika Serikat 20%. Frekuensi infeksi Entamoeba histolytica diukur dengan jumlah pengandung kista. Perbandingan berbagai macam amoebiasis di Indonesia adalah sebagai berikut, amoebiasis kolon banyak ditemukan, amoebiasis hati hanya kadang-kadang amubiasis otak lebih jarang lagi dijumpai.

D. Mekanisme Penularan Amoebiasis
Penularan terjadi terutama dengan mengkonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi tinja dan mengandung kista amoeba yang relatif resisten terhadap klorin. Penularan mungkin terjadi secara seksual melalui kontak oral-anal. Penderita dengan disentri amoeba akut mungkin tidak akan membahayakan orang lain karena tidak adanya kista dan trofosoit pada kotoran.

E. Pencegahan Amoebiasis
Oleh karena penularan umumnya terjadi melalui makanan atau minuman yang tercemar dengan tinja penderita, maka upaya pencegahan ditekankan pada perseorangan maupun pada masyarakat, misalnya dilakukan dengan cara:
1. Menganjurkan mereka untuk selalu memasak makanan dan minuman terlebih dahulu sebelum dikonsumsi,
2. Menutup dengan baik makanan yang dihidangkan untuk menghindari kontaminasi oleh lalat dan lipas,
3. Tidak menggunakan tinja manusia untuk pupuk,
4. Orang yang bekerja di laboratotium harus hati-hati terutama pada waktu menangani hewan coba golongan primate beserta tinjanya.
5. Sistemn pembuangan tinja hendaknya dilakukan dengan baik, sehingga tidak mencemari sumber air minum atau sumur.
6. Terhadap karier amubiasis harus dilakukan upaya penemuan penderita untuk kemudian dilakukan pengobatan yang intensif sampai benar-benar sembuh, agar tidak selalu menjadi sumber penularan amubiasis bagi masyarakat sekelilingnya.

F. Rekomendasi
1. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang kebersihan perorangan, terutama pembuangan tinja yang saniter, dan mencuci tangan sesudah buang air besar dan sebelum memasak atau menjamah makanan.
2. Menyebarkan informasi tentang risiko mengkonsumsi buah atau sayuan mentah atau yang tidak dimasak dan minum air yang tidak terjamin kebersihannya.
3. Mengobati orang yang diketahui sebagai “carriers”; perlu ditekankan pentingnya mencuci tangan dengan baik sesudah buang air besar untuk menghindari infeksi ulang dari tetangga atau anggota keluarga yang terinfeksi.
4. Memberikan penyuluhan kepada orang dengan risiko tinggi untuk menghindari hubungan seksual oral yang dapat menyebabkan penularan fekal-oral.
5. Instansi kesehatan sebaiknya membudayakan perilaku bersih dan sehat bagi orang-orang yang menyiapkan dan mengolah makanan untuk umum dan menjaga kebersihan dapur dan tempat-tempat makan umum. Supervisi yang ketat perlu dilakukan terhadap pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat ini.


Terpopuler