Mohon Maaf atas tidak tercantumnya semua sumber dari konten yang ada di website ini.. Terima Kasih kepada semua yang telah menyadur dan mencantumkan referensi dari website ini, semoga bermanfaat untuk semua.
PENDEKATAN DALAM KEPEMIMPINAN
02 Januari 2014 - dibaca : 8.144 kali

PENDEKATAN DALAM KEPEMIMPINAN

A.SIFAT KEPEMIMPINAN

Untuk mempelajari kepemimpinan menggunakan tiga pendekatan. Pendekatan pertama bahwa kepemimpinan itu tumbuh dari bakat, kedua kepemimpinan tumbuh dari perilaku. Kedua pendekatan diatas berasumsi bahwa seseorang yang memiliki bakat yang cocok atau memperlihatkan perilaku yang sesuai akan muncul sebagai pemimpin dalam situasi kelompok ( organisasi ) apapun yang ia masuki. Pendekatan yang ketiga bersandar pada pandangan situasi ( situasionar perspective ) pandangan ini berasumsi bahwa kondisi yang menentukan efektifitas pemimpin. Efektifitas pemimpin bervareasi menurut situasi tugas yang harus diselesaikan, keterampilan dan pengharapan bawahan lingkungan organisasi dan pengalaman masa lalu pemimpin dan bawahan. Dalam situasi yang berbeda prestasi seorang pemimpin berbeda pula, mungkin lebih baik atau lebih buruk. Pendekatan ini memunculkan pendekatan kontingensi yang menentukan efektifitas situasi gaya pemimpin. Kelompok pertama yang bermaksud menjelaskan tentang aspek kepemimpinan yaitu para teoritis kesifatan. Bahwa pemimpin mempunyai sifat dan cirri tertentu.

Untuk mengenali karakteristik atau ciri pribadi dari para pemimpin, para psikolog mengadakan penelitian. Mereka berpandangan bahwa pemimpin ini dilahirkan bukan dibuat. Secara alamiah bahwa orang yang mempunyai sifat kepemimpinan adalah orang yang lebih agresif. Lebih tegas, dan lebih pandai berbicara dengan orang lain serta lebih mampu dan cepat mengambil keputusan yang akurat. Pandangan ini mempunyai implikasi bahwa jika ciri kepemimpinan dapat dikenali. Maka organisasi akan jauh lebih canggih dalam memilih pemimpin. Hanya orang-orang yang memiliki ciri-ciri kepemimpinan sajalah yang akan menjadi manajer, pejabat dan kedudukan lainnya yang tinggi.

B. PENDEKATAN SITUASIONAL ‘CONTINGENSI’ DALAM KEPEMIMPINAN

Pendekatan ini menggambarkan tentang gaya kepemimpian yang tergantung pada faktor situasi, karyawan, tugas, organisasi dan variabel lingkungan lainnya.
Mary Parker Follectt mengatakan bahwa ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kepemimpinan yaitu 1) pemimpin, 2) bawahan 3) Situasi juga pemimpin harus berorientasi pada kelompok.

1. Konsep Kepemimpinan Situasional

Kata memimpin mengandung makna yaitu kemampuan untuk menggerakkan segala sumber yang ada pada suatu organisasi sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Suatu kenyataan kehidupan organisasional bahwa pimpinan memainkan peranan yang amat penting, bahkan dapat dikatakan amat menentukan dalam usaha pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Memang benar bahwa pimpinan, baik secara individual maupun kelompok, tidak mungkin dapat bekerja sendirian. Pimpinan membutuhkan sekelompok orang lain, yang digerakkan sedemikian rupa sehingga para bawahan itu memberikan pengabdian dan sumbangsihnya kepada organisasi, terutama dalam cara bekerja yang efisien, efektif, ekonomis, dan produktif.

Dengan kata lain, seorang pemimpin harus menunjukkan kemampuan untuk :

a) Pemegang kemudi organisasi yang cekatan dengan jalan membawa organisasi ke tempat tujuan yang ditetakan sebelumnya tanpa melalui terlampau banyak penyimpangan yang jika terjadi dengan frekuensi yang tinggi akan mengakibatkan pemborosan dan inefesiensi.

b) Peran selaku bapak terutama di kalangan anggota organisasi. Sering dalam organisasibaik organisasi swasta maupun pemerintah terdengar istilah ”keluarga besar”, hal ini menunjukkan bahwa dalam organisasi tersebut telah terjalin hubunganemosional kekeluargaan yang kondusif dan hangat.

2. Gaya Kepemimpinan Situasional

Gaya kepemimpinan seorang pemimpin beraga macamnya. Gaya kepemimpinan situasional merupakan pendekatan yang sangat efektif, untuk meningkatkan kreatifitas seorang pemimpin dalam menghadapi suatu masalah tergantung situasi yang dihadapi.. gaya kepemipinan situasional adalah perilaku dan gaya kepemimpinan bersifat situasional. Dimana pimpinan harus menyesuaikan responnya menurut kondisi atau tingkat perkembangan kematangan karyawan, serta memberikan sejumlah pengarahan dan dukungan yang bersifat sosioemosional. Gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat, yaitu pengambilan keputusan cepat, dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan keteraturan bagi bawahan. Seorang pemimpin dapat melakukan berbagai cara dalam kegiatan mempengaruhi atau memberi motivasi orang lain atau bawahan agar melakukan tindakan-tindakan yang selalu terarah terhadap pencapaian tujuan organisasi.

Setiap orang juga memiliki kemampuan untuk bisa bergerak maju mendapatkan apa yang mereka mau dan juga apa yang mereka inginkan oleh organisasi. Pemimpin sejati memberi dorongan darai belakang tetap mengarahkan agar sesuai tujuan dan mampu memastikan bahwa orang-orang di dalam organisasi bekerja sesuai dengan arah dan strategi ang telah ditetapkan. Perilaku Pemimpin diantaranya :

1.Fungsi-fungsi Kepemimpinan

Perilaku pemimpin mempunyai dua aspek yaitu fungsi kepemimpinan (style leadership). Aspek yang pertama yaitu fungsi-fungsi kepemimpinan menekankan pada fungsi-fungsi yang dilakukan pemimpin dalam kelompoknya. Agar berjalan efektif, seseorang harus melakukan dua fungsi utama yaitu : 1) fungsi yang berkaitan dengan pemecahan masalah dan 2) fungsi-fungsi pemeliharaan (pemecahan masalah sosial). Pada fungsi yang pertama meliputi pemberian saran pemesahan dan menawarkan informasi dan pendapat. Sedangkan pada fungsi pemeliharaan kelompok meliputi menyetujui atau memuji orang lain dalam kelompok atau membantu kelompok beroperasi lebih lancar.
2. Gaya-gaya Kepemimpinan

Pada pendekatan yang kedua memusatkan perhatian pada gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan meliputi 1) Gaya dengan orientasi tugas dan 1) Gaya berorientasi dengan karyawan. Pada gaya yang pertama pemimpin mengarahkan dan mengawasi melalui tugas-tugas yang diberikan kepada bawahannya secara tertutup, pada gaya ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan. Sedangkan gaya yang berorientasi pada karyawan lebih memperhatikan motivasi daripada mengawasi, disini karyawan diajak untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan melalui tugas-tugas yang diberikan.

3. Implementasi Pendekatan Situasional

Pendekatan situasional bukan hanya merupakan hal yang penting bagi kompleksitas yang bersifat interaktif dan fenomena kepemimpinan, tetapi membantu pula car pemimpin yang potensial dengan konsep-konsep yang berguna untuk menilai situasi yang ermacam-macam dan untuk menunjukkan perilaku kepemimpinan yang tepat berdasarkan situasi. Perana pemimpin harus dipertimbangkan dalam hubungan dengan situasi dimanapun peranan itu dilaksakan. Pendekatan situasional dalam kepemimpinan mengatakan bahwa kepemimpinan dalam menginplementasikannya, pendekatan yang dilakukan akan berdampak positif dan bersifat tepat sasaran. Walaupun organisasi menghendaki penyelesaian tugas-tugas yang tinggi. Disarankan agar menejer memainkan peran directive yang tinggi, memberikan saran bagaimana menyelasaikan tugas-tugas itu, tanpa mengurangi intensitas hubungan sosial dan komunikasi antara atasan dan bawahan.

Komunikasi dua arah menuntut keahlian manajemen puncak mencerna informasi yang disampaikan para menejer dan karyawan, terutama keluh kesah mereka dan keahlian menyamapikan informasi dari pucuk pimpinan perusahaan ke seluruh manajer dan karyawan. Sementara itu, komunikasi tatap muka menuntut manajemen puncak meluangkan waktu untuk berkunjung ke lokasi kerja manajer dan karyawan. Kunjungan ini sangat bermanfaat bagi kelancaran komunikasi dua arah,serta memompa semangat kerja manajer dan karyawan ditentukan tidak oleh sifat kepribadian manajer dan karywan. Ditentukan tidak oleh sifat kepribadian individu-individu, melainkan oleh persyaratan situasi sosial. Dalam kaitan ini Sutisna menyatakan bahwa ”kepemimpinan” adalah hasil dari hubungan-hubungan dalmsituasi sosial dan dalam situasi berbeda para pemimpinmemperlihatkan sifat kepribadian yang berlainan. Jadi, pemimpin dalam situasi yang satu mungkin tidak sama dengan tipe pemimpin dalam situasi yang lain dimana keadaan dan faktor-faktor sosial berbeda. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendekatan siusional menekankan padapentingnya faoktor-faktro kontekstual seprti sifat pekerjaan yang dilaksanakan oleh unit pimpinan, sifat lingkungan eksternal, dan karakteristik para pengikut.

C. PENDEKATAN TINGKAH LAKU PEMIMPIN

Bagaimana mendelegasikan tugas, berkomunikasi dan memotivasi bawahan. Tingkah laku dapat dipelajari, individu yang dilatih tentang perilaku kepemimpinan yang tepat akan mampu menjadi pemimpin efektif. Penelitian membagi dua aspek perilaku dalam kepemimpinan yaitu fungsi kepemimpinan dan gaya kepemimpinan. Fungsi kepemimpinan adalah aktivitas yang dipertahankan kelompok dan berkaitan dengan tugas yang harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin agar kelompok dapat berfungsi secara efektif. Fungsi kepemimpinan berkaitan dengan dua fungsi yaitu fungsi yang berhubungan dengan tugas atau memecahkan masalah dan fungsi memelihara kelompok atau sosial, seperti menengahi perselisihan dan menjaga agar individu merasa dihargai dalam kelompoknya. Pemimpin yang sangat efektif dapat melaksanakan kedua peran tersebut, tetapi penelitian menunjukkan bahwa kelompok paling efektif membentuk kepemimpinan bersama yaitu manajer pimpinan formal melakukan fungsi tugas sementara anggota kelompok melakukan fungsi sosial. Gaya kepemimpinan adalah berbagai pola tingkah laku yang disukai oleh pemimpin dalam proses mengarahkan dan mempengaruhi pekerja. Kedua fungsi kepemimpinan tersebut cenderung diekspresikan dalam dua gaya utama kepemimpinan. Gaya kepemimpinan otoktratis atau otoriter merupakan gaya kepemimpinan berorientasi tugas, mengawasi karyawan dengan ketat untuk menjamin pelaksanaan pekerjaan dengan memuaskan. Pelaksanaan tugas yang sesuai diharapkan pimpinan dan dikerjakan dengan baik lebih ditekankan daripada mendorong pertumbuhan karyawan. Pengendalian terhadap pelaksanaan tugas lebih dominan daripada kebebasan karyawan untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kepuasan pribadi. Gaya kepemimpinan dengan kekuasaan penuh dan sedikit sekali atau tidak ada masukan dari karyawan.

Gaya kedua dikenal sebagai gaya kepemimpinan partisipatif atau demokratis yaitu gaya kepemimpinan yabg berorientasi pada karyawan, lebih menekankan pada memotivasi karyawan dalam melaksanakan pekerjaan daripada mengendalikan karyawan. Gaya kepemimpinan dengan menerima masukan dari karyawan tetapi menggunakan wewenangnya untuk mengambil keputusan. Pemimpin yang lebih pada mencari hubungan bersahabat, saling percaya dan saling menghargai dengan karyawan serta adanya partisipasi dalam membuat keputusan yang akan mempengaruhi karyawan.


Terpopuler