Mohon Maaf atas tidak tercantumnya semua sumber dari konten yang ada di website ini.. Terima Kasih kepada semua yang telah menyadur dan mencantumkan referensi dari website ini, semoga bermanfaat untuk semua.
Cross Sectional Study
30 November 2013 - dibaca : 3.349 kali

Cross Sectional Study

1. DEFINISI
Survey cross sectional ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama. Desain ini dapat mengetahui dengan jelas mana yang jadi pemajan dan outcome, serta jelas kaitannya hubungan sebab akibatnya (Notoatmodjo, 2002).
Penelitian cross sectional ini, peneliti hanya mengobservasi fenomena pada satu titik waktu tertentu. Penelitian yang bersifat eksploratif, deskriptif, ataupun eksplanatif, penelitian cross-sectional mampu menjelaskan hubungan satu variabel dengan variabel lain pada populasi yang diteliti, menguji keberlakuan suatu model atau rumusan hipotesis serta tingkat perbedaan di antara kelompok sampling pada satu titik waktu tertentu. Namun penelitian cross-sectional tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan dinamika perubahan kondisi atau hubungan dari populasi yang diamatinya dalam periode waktu yang berbeda, serta variabel dinamis yang mempengaruhinya (Nurdini, 2006).
 
2.       TUJUAN
Tujuan penelitian cross sesctional menurut Budiarto (2004) yaitu sebagai berikut:
a)     Mencari prevalensi serta indisensi satu atau beberapa penyakit tertentu yang terdapat di masyarakat.
b)     Memperkirakan adanya hubungan sebab akibat pada penyakit-penyakit tertentu dengan perubahan yang jelas.
c)     Menghitung besarnya resiko tiap kelompok, resiko relatif, dan resiko atribut.
 
3.       PERBEDAAN
Deskriptif cross sectional hanya sekedar mendesripsikan distribusi penyakit dihubungkan dengan variabel penelitian, sedangkan analitik crossectional: diketahui dengan jelas mana yang jadi pemajan dan outcome, serta jelas kaitannya hubungan sebab akibatnya. Contoh penelitian deskriptif cross sectional adalah angka kejadian diare di Desa X tahun 2001 dan contoh penelitian analitik cross sectional adalah hubungan pendidikan orang tua dengan kejadian diare yang diukur pada waktu bersamaan.
 
4.       LANGKAH-LANGKAH
Penelitian cross sectional adalah sesuatu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama. Oleh karena itu, rancangan (desain) penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
 
Dari skema di atas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penelitian cross sectional dalah sebagai berikut (Notoatmodjo, 2002):
a)    Mengidentifikasi variabel-variabel penelitian dan mengidentifikasi faktor resiko dan faktor efek.
b)   Menetapkan subjek penelitian.
c)    Melakukan observasi atau pengukuran variabel-variabel yang merupakan faktor resiko dan efek sekaligus berdasarkan status keadaan variabel pada saat itu (pengumpulan data).
d)   Melakukan analisis korelasi dengan cara membandingkan proporsi antar kelompok-kelompok hasil observasi (pengukuran).

 

6.       CIRI-CIRI
Ciri-ciri penelitian cross sesctional menurut Budiarto (2004) yaitu sebagai berikut:
a.   Pengumpulan data dilakukan pada satu saat atau satu periode tertentu dan pengamatan subjek studi hanya dilakukan satu kali selama satu penelitian.
b.  Perhitungan perkiraan besarnya sampel tanpa memperhatikan kelompok yang terpajan atau tidak.
c.   Pengumpulan data dapat diarahkan sesuai dengan kriteria subjek studi. Misalnya hubungan antara Cerebral Blood Flow pada perokok, bekas perokok dan bukan perokok.
d.  Tidak terdapat kelompok kontrol dan tidak terdapat hipotesis spesifik.
e.   Hubungan sebab akibat hanya berupa perkiraan yang dapat digunakan sebagai hipotesis dalam penelitian analitik atau eksperimental.
 
 
7.       KELEBIHAN
Kekuatan penelitian cross sectional yang dikutip dari Sayogo (2009) adalah sebagai berikut:
a.   Studi cross sectional memungkinkan penggunaan populasi dari masyarakat umum, tidak hanya para pasien yang mencari pengobatan, hingga generalisasinya cukup memadai
b.  Relatif murah dan hasilnya cepat dapat diperoleh
c.   Mudah untuk dilakukan
d.  Tidak memaksa subjek untuk mengalami faktor yang diperkirakan bersifat merugikan kesehtan (faktor resiko) dan tidak ada subjek yang kehilangan terapi yang diperkirakan bermanfaat.
e.   Dapat dipakai untuk meneliti banyak variabel sekaligus
f.   Jarang terancam loss to follow-up (drop out)
g.   Dapat dimasukkan ke dalam tahapan pertama suatu penelitian kohort atau eksperimen, tanpa atau dengan sedikit sekali menambah biaya
h.  Dapat dipakai sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya yang bersifat lebih konklusif
i.    Membangun hipotesis dari hasil analisis
 
8.       KEKURANGAN
Kelemahan penelitian cross sectional yang dikutip dari Sayogo (2009) adalah sebagai berikut:
a.   Sulit untuk menentukan sebab akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan (temporal relationship tidak jelas)
b.  Studi prevalens lebih banyak menjaring subyek yang mempunyai masa sakit yang panjang daripada yang mempunyai masa sakit yang pendek, karena inidividu yang cepat sembuh atau cepat meninggal mempunyai kesempatan yang lebih kecil untuk terjaring dalam studi
c.   Dibutuhkan jumlah subjek yang cukup banyak, terutama bila variabel yang dipelajari banyak
d.  Memiliki validitas inferensi yang lemah dan kurang mewakili sejumlah populasi yang akurat, oleh karena itu penelitian ini tidak tepat bila digunakan untuk menganalisis hubungan kausal paparan dan penyakit
e.   Sulit untu menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan.
f.   Tidak praktis untuk meneliti kasus yang sangat jarang, misalnya kanker lambung,karena pada populasi usia 45-49 tahun diperlukan paling tidak 10.000 subjek untuk mendapatkan suatu kasus.
g.   Tidak menggambarkan perjalanan penyakit, insidensi maupun prognosis
h.  Tidak praktis untuk meneliti kasus yang jarang
i.    Tidak menggambarkan perjalanan penyakit
 
 
 
 
 
 
 
sumber : fatamorganakata.blogspot.com


Terpopuler