Dampak Kurang Tidur
07 November 2013 - dibaca : 1.612 kali

Dampak Kurang Tidur

Tidur sebenarnya adalah kebutuhan wajib semua makhluk hidup. Dengan tidur, kita dapat memberikan waktu kepada tubuh kita untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Sel-sel tubuh juga akan teregenerasi melalui tidur. Maka dari itu, waktu istirahat atau tidur yang cukup perlu untuk dikondisikan. Apabila kita kurang tidur, biasanya suasana hati kita menjadi buruk, sehingga menjadi gampang marah-marah. Namun lebih bahayanya lagi, kurang tidur dapat berdampak juga pada kesehatan. Pada skala yang lebih tinggi lagi, kurang tidur atau kebiasaan begadang di malam hari bisa memunculkan beragam penyakit di kemudian hari. Adapun  beberapa dampak kurang tidur bagi kesehatan akan kami ketengahkan dalam ulasan berikut ini:

Kurang tidur memicu kegemukan

Berdasarkan sebuah penelitian sebelumnya yang melibatkan sejumlah 70.026 wanita, telah diteliti apakah ada semacam korelasi antara kondisi cukup tidur atau kurang tidur terhadap obesitas atau peningkatan berat badan di masa mendatang. Dari penelitian tersebut, diungkapkan bahwa kondisi kurang tidur bisa mempengaruhi kemampuan tubuh dalam membakar kalori serta meningkatkan risiko peningkatan berat badan. Juga diungkapkan bahwa para wanita pada kelompok cukup tidur dengan waktu tidur 7 - 8 jam/malam ternyata memiliki risiko paling kecil mengalami peningkatan berat badan. Namun sebaliknya, pada kelompok yang kurang tidur yakni dibawah 7 jam/ malam cenderung mengalami peningkatan berat badan.


Kurang tidur dapat meningkatkan terjadinya peradangan serta risiko diabetes

Kurang tidur bisa menyebabkan terjadinya peradangan di dalam darah serta memicu rasa lapar. Sebuah studi mengungkapkan bahwa peradangan dipicu oleh diabetes tipe-2 dan sel-sel kekebalan tertentu. Diabetes tipe-2 sebenarnya berkaitan langsung dengan kegemukan yang telah menjadi epidemi di penjuru dunia. Banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa orang dengan waktu tidur dibawah 7 jam/malam ternyata memiliki risiko lebih besar terkena diabetes. Para peneliti dari University of Chicago juga mengatakan bahwa kehilangan waktu tidur 3-4 jam dari waktu tidur normal hingga beberapa hari lamanya sudah dapat memicu terjadinya perubahan metabolik konsisten dibarengi kondisi prediabetic. Selain itu, mereka menjelaskan bahwa bila tidur dibatasi selama 4 jam saja tiap malamnya sampai 6 hari berturut-turut, maka kemampuan tubuh mengontrol kadar gula dalam darah secara konsisten akan mengalami penurunan signifikan, sehingga meningkatkan risiko terkena diabetes tipe-2.

Kurang tidur memicu semakin banyakmya konsumsi makanan ringan dan karbohidrat

Pada sebuah studi yang dilakukan para ilmuwan dari University of Chicago, ada 2 kelompok peserta yang diberi perlakuan tidur berbeda. Beberapa orang diminta untuk tidur selama 5,5 jam/malam, serta kelompok lainnya diminta tidur selama 8,5 jam/malam. Selanjutnya mereka mengukur banyaknya konsumsi makanan ringan oleh para peserta di hari berikutnya. Kesimpulannya, rata-rata selama dua minggu para peserta dari kelompok kurang tidur mengkonsumsi hingga 221 kalori diatas kelompok yang tidurnya cukup.

Pada studi yang lain juga diungkapkan bahwa kalangan dewasa yang cenderung kurang tidur bisa  bertambah nafsu makannya atas makanan dengan kandungan karbohidrat tinggi. Kurang tidur seolah-olah memerintahkan otak untuk memakan makanan dengan kandungan karbohidrat tinggi. Selain itu, kondisi kurang tidur bisa memicu kita untuk makan makanan ringan (nge-mil) yang berlebihan.

Kurang tidur mengakibatkan gangguan metabolisme

Masih dari studi kesehatan, diperoleh fakta bahwa mereka yang bekerja dengan waktu kerja tidak teratur atau sistem shifting ternyata berisiko mengalami gangguan metabolisme terkait dengan kondisi perlawanan insulin. Hormon insulin adalah jenis hormon yang dihasilkan oleh pankreas, fungsinya mengontrol metabolisme karbohidrat serta kadar gula darah. Para pekerja shifting yang kurang tidur bisa terkena sindrom metabolik ini. Sindrom ini sendiri merupakan kondisi perlawanan pada insulin yang terjadi ketika tubuh kurang responsif pada kerja insulin. Dengan terjadinya gangguan metabolisme tersebut, kadar gula darah bisa mengalami peningkatan.

Kurang tidur memicu ‘tekanan darah tinggi’

Studi sebelumnya melaporkan adanya korelasi antara kondisi tekanan darah yang tinggi dan kebiasaan kurang tidur. Apabila kita kurang tidur, entah itu dalam artian kuantitas tidur yang kurang atau buruknya kualitas tidur, maka hati akan mengalami peningkatan beban kerja. Alasannya adalah sebagai berikut, ketika kita sedang terjaga, jantung akan memompa darah lebih cepat guna mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Sedangkan selama tidur, darah yang dialirkan ke seluruh tubuh tidak terlalu banyak, sehingga jantung berdenyut agak melambat, selain itu hati akan memiliki waktu istirahat cukup. Bila cukup istirahat tidak terpenuhi, maka otot jantung mudah lelah. Karena beban jantung yang berat ini, peningkatan dalam tekanan darah bahkan kemungkinan penebalan pada otot jantung bisa terjadi.

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler