Mohon Maaf atas tidak tercantumnya semua sumber dari konten yang ada di website ini.. Terima Kasih kepada semua yang telah menyadur dan mencantumkan referensi dari website ini, semoga bermanfaat untuk semua.
Sifat Laki-laki dan Perempuan Yang Menyebalkan
29 September 2013 - dibaca : 2.848 kali

Sifat Laki-laki dan Perempuan Yang Menyebalkan

Para istri atau suami adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada suami atau istri karena beberapa sifat-sifatnya. Karena itu kaum lelaki dan perempuan tidak boleh egois, dan merasa selalu benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. 

Baik di mata Allah, baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata suami atau istrinya. Ingat bahwa suami atau istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para suami atau istri.

Pertama, Tidak Punya Visi
Setiap kaum lelaki atau wanita merindukan istri atau suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surat An Nisaa’: 1, Allah SWT berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. 

Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati. Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau wanita yang menutup-nutupi kemaksiatan. Suami atau istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah SWT. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami atau istri berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi SAW bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa”.

Kedua, Kasar
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi SAW menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki, maka tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. 

Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut.

Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat tersebut, ayat itu menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri. Banyak para suami atau istri yang menganggap suami atau istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikit pun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul suami atau istri seenaknya.

Ingat bahwa suami atau istri juga manusia. ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.

Begitu juga dengan para suami atau istri juga harus bersikap lemah lembut terhadap suami atau istri yang lemah. Malah tren sekarang banyak para istri yang mengatur suami. Ingat wahai para istri, lelaki adalah imam, bukan makmum.

Jadi walau pun suami lemah (baik lemah secara penghasilan atau lemah dalam hal-hal tertentu) para istri diwajibkan tetap menghormati suami, tidak boleh mencela atau mencacinya. Barang siapa durhaka sama suaminya maka nerakalah tempatnya.

Ketiga, Sombong
Sombong adalah sifat setan. Allah SWT melaknat Iblis karena kesombongannya. “Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin” (Al Baqarah: 34). Tidak ada seorang mahluk pun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak preogratif Allah SWT. Allah berfirman dalam hadis Qudsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan ke dalam neraka". 

Pria atau wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan hati pria dan wanita. Karena itu para suami atau istri yang baik tidak suka mempunyai suami atau istri yang sombong. Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami atau istri merasa bisa segala-galanynya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa suami atau istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang suami atau istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesabaran para suami atau istri. Sabar dalam mengandung janin di rahim selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para suami atau istri yang menderita karena perilaku sombong seorang suami atau istri.

Keempat, Tertutup
Nabi SAW adalah contoh suami yang baik. Begitu juga dengan Khadijah RA merupakan wanita terbaik di dunia. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui suami atau istrinya. Khadijah adalah wanita yang sangat jujur kepada Rasulullah SAW. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. 

Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, beliau izin terlebih dahulu kepada istri-istri yang lain. Perhatikan betapa Nabi SAW sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorang pun dari mereka yang merasa di zalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.

Kini banyak kejadian para suami atau istri menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada suami atau istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya mengambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum pria maupun wanita. Banyak para suami atau istri yang tersiksa karena sikap suami atau istri yang sangat tertutup ini.

Kelima, Plinplan
Setiap pria atau wanita sangat mendambakan seorang suami atau istri yang mempunyai pendirian. Bukan suami atau istri yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna “qawwam” dalam firman Allah: ‘arrijaalu qawwamuun alan-nisaa’ (An Nisa’: 34).

Keenam, Pembohong

Banyak kejadian para suami atau istri tersiksa karena sang suami atau istri suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling dibenci oleh Allah SWT. Bahkan Nabi SAW menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. 

Dalam sebuah hadis Nabi pernah ditanya: “hal yakdzibul mukmin” (Apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: “Laa” (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami atau istri.

Ingat bahwa para suami atau istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lebih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang suami atau istri. Karena banyak para suami atau istri yang siap mencerai atau dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para suami atau istri yang pembohong. Na 'udzubillah!

Ketujuh, Cengeng
Para suami atau istri ingin suami atau istri yang tegar, bukan suami atau istri yang cengeng. Benar, Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan bacaan ayat-ayat alquran. 

Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikit pun gentar.

Suami atau istri yang cengeng cenderung nampak di depan suami atau istri serba tidak meyakinkan. Para suami atau istri suka suami atau istri yang selalu gagah dan kuat tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu, suami atau istri selalu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Kedelapan, Pengecut
Dalam sebuah doa, Nabi SAW. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubni). Mengapa?! Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para suami atau istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suami atau istri. Banyak para suami atau istri yang tersiksa karena suami atau istri tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi SAW terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi SAW selalu dibarisan paling depan. 

Ketika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi SAW adalah yang pertama keluar dan mendatangi suara tersebut. Para suami atau istri sangat tidak suka suami atau istri yang pengecut. Mereka suka pada suami atau istri yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut kepada keberanian. Tetapi bukan NEKAT, melainkan BERANI yang penuh dengan pertimbangan yang matang.

Kesembilan, Pemalas
Di antara doa Nabi SAW adalah minta perlindungan kepada Allah SWT dari sikap malas: Allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal”, kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. 

Banyak sumber-sumber rezeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami atau istri. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para suami atau istri sangat tidak suka kepada seorang suami atau istri yang pemalas. Sebab keberadaannya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalahan. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami atau istri.

Kesepuluh, Cuek Pada Anak-anaknya
Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang suami atau istri. Melainkan tanggung jawab suami atau istri. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak.

Nabi SAW adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.

Kini banyak kita saksikan seorang suami atau istri sangat cuek terhadap anak-anaknya. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan suami atau istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para suami atau istri.

Kesebelas, Menang Sendiri
Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang suami atau istri. Banyak para suami atau istri tersiksa karena sikap suami atau istri yang selalu merasa benar sendiri. 

Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya kepada sang suami. Sebab hanya kepada suami atau istri ia dapat menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami atau istri hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan suami atau istri.

Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakkan dan keibuan. Sebab ketika sang suami atau istri mengomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakkan atau keibuan seorang suami atau istri. Ada pepatah mengatakan: “Jadilah air ketika salah satunya menjadi api”.

Keduabelas, Jarang Komunikasi

Banyak para suami atau istri merasa kesepian ketika sang suami atau istri pergi (di luar rumah). Sebaik-baik suami atau istri adalah yang selalu menghubungi suami atau istri. Entah dengan cara mengirim sms atau menelponnya. 

Ingatlah bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga. Banyak para suami atau istri yang merasa jengkel karena tidak pernah ditelpon oleh suami atau istrinya ketika sedang berada di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan.

Para suami atau istri sangat suka kepada para suami atau istri yang selalu menghubungi sekali pun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya. Atau hanya berkirim pesan pendek (sms).

Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum
Para suami atau istri sangat suka ketika suami atau istrinya selalu berpenampilan rapi. Nabi SAW dan Khadijah RA adalah contoh suami istri yang selalu rapi dan harum. Karena itu para sahabat selalu suka dan bangga dengan Nabi SAW dan Khadijah RA. 

Ingat bahwa Allah Mahaindah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian merupakan bagian dari keimanan. Ketika seorang suami atau istri rapi, maka suami atau istrinya merasa bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang suami atau istri mengurusinya.

Sebaliknya ketika sang suami atau istri tidak rapi dan tidak harum, maka orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh suami atau istrinya. Karena itu bagi para suami atau istri, kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi suami atau istri.

Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang suami atau istri, ketika melihat suami atau istrinya sembarangan dalam berpenampilan dan menyebarkan bau keringat yang tidak enak. Wallahu a’lam.


Terpopuler