Mohon Maaf atas tidak tercantumnya semua sumber dari konten yang ada di website ini.. Terima Kasih kepada semua yang telah menyadur dan mencantumkan referensi dari website ini, semoga bermanfaat untuk semua.
Ilmuwan Muslim Zaman Kini
10 Agustus 2013 - dibaca : 4.336 kali

Ilmuwan Muslim Zaman Kini

Ada yang menguasai teknologi nuklir dan ikut jejak einstein.

Sekitar abad ke-9 sampe 13 SM, para ilmuwan di jazirah islam meletakkan dasar penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan, dari fisika, kimia, astronomi, hingga kedokteran. Dunia medis misalnya mencatat nama besar Ibnu Sina (980-1037 SM).

Sebagai misal, fisika modern berhutang pada Abu Rayhan Al Biruni (973 - 1048 SM), yang mengatakan cahaya lebih cepat dari suara. Atau al Khazini, yang pada abad ke-12 SM, menemukan metode eksperimental dalam mekanika dan gravitasi. Juga metode ilmiah di ilmu sosial oleh Ibnu Khaldun. itu sekelumit contoh, dari ratusan penemuan penting zaman lampau.


Lalu. apa kabar ilmuwan muslim di abad-21?? Sejarah memang telah berubah. Mendobrak batas geografi, dari negeri mayoritas muslim, para ilmuwan zaman kini itu merambah ke berbagai belahan bumi. Mereka juga ikut memberi kejutan bagi ilmu pengetahuan modern. Simak cerita mereka berikut ini.

Ahmed Zewail, Muslim Pertama Peraih Nobel Kimia

Penelitian tersebut dipuji sebagai terobosan ilmiah penting.

“Kimia adalah ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh peradaban Islam,” kata sejarawan Amerika Serikat, Will Durrant, dalam bukunya The Story of Civilization IV: The Age of Faith.

Kata “kimia” atau “chemistry” dalam Bahasa Inggris bahkan merujuk pada Bahasa Arab, al-kimia.

Namun muslim pertama yang meraih penghargaan Nobel Kimia baru muncul pada tahun 1999. Dia adalah Dr. Ahmad Zewail (67 tahun), ilmuwan Mesir lulusan Universitas Alexandria mesir yang meraih gelar doktornya di Universitas Pennsylvania, Philadelphia, Amerika Serikat.

Kimia adalah hidup Zewail. Sejak kecil ia sudah jatuh cinta pada kimia. Orangtuanya bahkan berharap Zewail menjadi profesor. Zewail kerap menghabiskan waktu berhari-hari untuk melakukan beragam penelitian kecil-kecilan. Tanpa sepengetahuan orangtuanya, di kamar tidur dia merakit peralatan kecil dari kompor milik ibunya dan beberapa tabung gas untuk mengamati bagaimana kayu bisa diubah menjadi asap dan cairan.

Di mata Zewail, kimia amat mempesona. Sampai remaja dan menginjak bangku SMA pun, kegiatan Zewail sehari-hari tak pernah lepas dari berbagai percobaan kimia. Ini pula yang membuat dia menempuh studi di Jurusan Kimia Fakultas Sains Universitas Alexandria. Keseriusan mempelajari kimia mengantarkannya lulus dengan predikat cum laude. Ia langsung diangkat sebagai asisten dosen di kampusnya begitu lulus.

Kecemerlangan Zewail berlanjut. Ia memperoleh beasiswa untuk menempuh program doktoral di Universitas Pennsylvania AS. Meski awalnya mengalami kendala bahasa, otak brilian Zewail tak terbantahkan. Hanya dalam waktu delapan bulan, dia telah menyelesaikan disertasinya yang membahas tentang interaksi molekul dengan cahaya.

Setelah sempat bekerja sebagai peneliti di Universitas Berkeley California, Zewail akhirnya memutuskan menjadi dosen di California Institute of Technology. Di sini dia meneliti keadaan transisi pada reaksi kimia, yakni waktu yang harus dilalui atom atau molekul (gabungan atom) saat bereaksi.

Keadaan transisi pada reaksi kimia ini terjadi dalam rentang waktu femtodetik (0,000000000000001 detik atau 10-15 detik). Sebagai gambaran, 1 femtodetik setara dengan 1 detik dibagi 32 juta tahun. Penelitian Zewail pun melahirkan cabang baru dalam kimia yang disebut femtokimia, ilmu yang mempelajari reaksi kimia pada skala waktu luar biasa pendek, kurang dari sekedipan mata.
 
Perceraian
 
Semula penelitian Zewail tak berjalan mulus. Ia harus menghabiskan bergelas-gelas kopi dan terus berada dalam laboratorium sampai dini hari. Ini harus dibayar mahal. Zewail kehilangan kehidupan rumah tangganya. Hubungan dengan istrinya semakin tidak harmonis dan berujung pada perceraian.

Namun masalah keluarga ini tak membuat penelitian Zewail goyah. Ia terus fokus sampai akhirnya pada penghujung 1980-an berhasil mengamati keadaan transisi pada reaksi kimia garam natrium iodida. Keberhasilan ini berkat alat baru ciptaan Zewail, yakni spektotrofotometer yang sumber cahayanya berasal dari laser berdurasi femtodetik. Alat ini semacam kamera laser ultrapendek yang bekerja dengan memadukan dua berkas sinar yang dihasilkan molekul-molekul dalam sebuah ruang vakum.

Zewail kemudian menggunakan alatnya itu untuk meneliti reaksi-reaksi kimia lain pada cairan, padatan, gas, sampai reaksi kimia hayati pada makhluk hidup. Bila sebelum femtokimia berkembang, ilmuwan hanya menyusun teori tentang bagaimana atom-atom bertemu dan bergabung, kini kamera laser hasil penemuan Zewail memungkinkan peneliti untuk mengamati beragam reaksi kimia dalam gerak lambat.

Berbagai penelitian Zewail tersebut dipuji sebagai terobosan penting oleh komunitas ilmiah. Ini pula yang akhirnya membuat dia dianugerahi Nobel Kimia pada tahun 1999. Kisah bahagia Zewail berlanjut di luar laboratorium ketika ia bertemu Dema, doktor wanita ahli obat-obatan di Universitas California Los Angeles (UCLA) yang kemudian menjadi istri keduanya.

Zewail yang memiliki kewarganegaraan ganda, Mesir dan Amerika Serikat, kini menetap di San Marino, California, AS bersama istri dan anak-anaknya. Seperti yang diimpikan orangtuanya semasa dia kecil, Zewail memegang dua jabatan profesor sekaligus di California Institute of Technology, yaitu Profesor Kimia dan Profesor Fisika.

Sebelum Zewail, ada satu ilmuwan muslim lain yang pernah meraih Nobel, yakni Mohammad Abdus Salam, fisikawan kelahiran Pakistan yang menempuh pendidikan di Universitas Punjab dan Universitas Cambridge. Namun berbeda dengan Zewail yang meraih Nobel Kimia, Abdus Salam yang anggota Komunitas Muslim Ahmadiyah itu meraih Nobel Fisika.

 

Abdul Qadeer Khan, Bapak Nuklir Pakistan

Membangun nuklir, demi harga diri Pakistan.

Orang-orang bersenjata itu bersiaga. Sigap bersama  Kalashnikov, bedil bikinan Rusia yang sohor dengan sebutan AK-47. Di situ senapan mesin juga siaga menderu. Dan rumah ini sesungguhnya sama dengan rumah-rumah lain di Bani Gala. Jika kemudian terlihat sanggar, itu karena  sejumlah serdadu tadi garang menjaga.

Orang-orang pemukiman di Islamabad itu, tahu rumah ini milik Abdul Qadeer Khan. Dia bukanlah petinggi negara.  Bukan pula seorang jenderal. Dia adalah seorang ahli nuklir, yang kecerdasannya membuat Eropa, Amerika dan segenap sekutunya, murka alang kepalang.

Abdul Qadeer memang pernah menjadi tahanan rumah. Kini sudah bebas. Jika rumah itu masih dijaga ketat, itu karena kakek berusia 77 tahun ini sudah menjelma menjadi masa depan militer, bahkan menjelma menjadi  harga diri negeri itu. Dialah orang yang paling berjasa menjadikan Pakistan, sebagai satu dari sembilan negara pemilik senjata nuklir di muka bumi ini.

Kecerdasan meramu nuklir melambungkan namanya hingga Korea Utara. Ahli metalurgi paling sohor di Pakistan inilah, yang mencetuskan program nuklir bagi negeri di semenanjung Korea itu. Abdul Qadeer juga menjadi pencetus senjata nuklir Libya dan juga Iran, negeri yang tak pernah lelah baku gertak dengan Amerika Serikat.

Menjadi juru kunci nuklir di sejumlah negara itu, menyebabkan Abdul Qadeer menjadi ahli yang paling diburu, sekaligus paling dilindungi.  Ketika pasukan khusus Amerika Serikat menyerbu persembunyian Osama bin Laden di Abbottabad, penjagaan rumah Khan itu kian berlapis. Takut dia ikut diciduk.

***

Lahir di Bhopal India tahun 1936, Khan tumbuh dalam keluarga yang sungguh memuliakan pendidikan. Ayahnya, Dr Abdul Ghafoor Khan, adalah seorang akademisi di kementerian pendidikan. Ketika itu India masih dijajah Inggris. Keluarganya kemudian pindah ke Pakistan, setelah negeri itu pisah dengan India tahun 1947.

Menuntaskan pendidikan dasar di Bhopal, dia meraih gelar Sarjana Ilmu Pengetahuan dari Universitas Karachi 1960. Tradisi pendidikan keluarga yang ketat, mengirimnya ke sejumlah negara di Eropa. 

Segera setelah lulus sarjana itu, tahun 1961, dia merantau ke Jerman. Belajar Metalurgi di Universitas Teknik Berlin. Gelar master di bidang teknologi diperolehnya dari Delft University of Technology di Amsterdam, Belanda. Dia meraih gelar Doktor dari Universitas Katolik di Leuven, Belgia 1972.

Sesudah meraih gelar doktor itu, dia bertekun di laboratorium. Bergabung dengan Laboratorium Riset Dinamis di Amsterdam. Di situ, dia meneliti besi baja untuk digunakan pada centrifuge gas. Ketekunan, juga semua kecerdasannya, melempangkan jalan bekerja di perusahaan apa saja, di negeri mana saja. 

Dari Dinamis itu, Khan bekerja di URENCO, sebuah perusahaan riset pengayaan uranium di Belanda. Posisi penting. Dia  mendapat akses tak terbatas di perusahaan ini. Termasuk akses membuka begitu banyak dokumen rahasia teknologi centrifuge gas dan pengayaan uranium.

Meski terhitung makmur di negeri orang, Khan tetap ingin pulang, ingin bekerja di negeri halamannya sendiri, Pakistan. Semangat pulang kampung itu kian menyala ketika tahun 1972, Pakistan tersuruk menjadi  negeri yang ringkih di hadapan India. Tertinggal jauh dalam pendidikan, ekonomi, persenjataan dan bahkan mungkin segala-galanya.

Tanggal 18 Mei 1974, India di bawah Indira Gandhi menggelar ujicoba pertama senjata nuklir. Meski sejumlah pengamat menilai bahwa uji coba itu lebih sebagai jawaban atas ancaman China -setelah kekalahan memilukan dalam Perang Sino-India 1962– sebagai rival serumpun, Pakistan merasa kecolongan.

Perdana Menteri Pakistan Zulfikar Bhutto mendesak para ilmuwan mempercepat riset nuklir. Dari target lima tahun, menjadi tiga tahun. Khan tawarkan bantuan kepada Bhutto. Tapi menampung  para ahli, apalagi dalam situasi segenting itu, tentu saja harus ekstra hati-hati. Bukan penyusup.

Pada tahap penelusuran latar belakang oleh ISI, badan intelijen Pakistan, Khan dinyatakan tidak lulus. Riwayat sekolah dan bekerja di sejumlah negara itu meragukan  sisi nasionalismenya. Tapi dalam daftar Bhutto, Khan adalah ahli yang paling dibutuhkan Pakistan.

Bhutto akhirnya mengirim utusan ke Belanda. Bertemu langsung. Setelah pertemuan itu dia  diterima 1976. Kalkulasinya yang cermat berkontribusi besar bagi riset nuklir Pakistan.

Tapi menghimpun begitu banyak ahli sungguh tidaklah  mudah.  Meski semangat nasionalisme mereka mendidih, perdebatan di laboratorium begitu gampang menjelma menjadi pertikaian.  Khan cekcok dengan anggota tim. Gagasan soal pengayaan uranium ditolak. Tim nuklir yang tergabung di Pakistan Atomic Energy Commission (PAEC) lebih memilih plutonium.

Bersama seluruh kekesalannya, Khan menyurati Bhutto. Dia  menegaskan bahwa jika begini terus nuklir Pakistan bakal cuma khayalan belaka. Bhutto akhirnya memberi keleluasaan kepada Khan membentuk tim sendiri. Tim itu bekerja di Kahuta, sebuah desa terpencil di Pakistan. Fisikawan ternama Pakistan dari seluruh dunia dihimpun.

Pengayaan uranium gagasan itu Khan sukses. Tanggal 28 dan 30 Mei 1998, Pakistan berhasil meledakkan enam bom nuklir. Tidak hanya itu, di bawah kepemimpinannya, Pakistan berhasil melakukan uji coba rudal balistik jarak menengah,  Ghauri I pada 6 April 1998 dan Ghauri II pada 14 April 1999.

Dari laboratorium itulah Khan berperan besar dalam membentuk sistem pertahanan Pakistan. Di antaranya adalah pengembangan rudal bahu anti jet tempur ANZA dan rudal jelajah anti tank Baktar Shikan.

***

Kesuksesan itu memang dirubungi tuduhan. Seiring mendunianya nama Khan, banyak orang yang mencari-cari boroknya. Dituduh mencuri rahasia URENCO saat bekerja di situ. Tahun 1983, Khan diadili secara in abstentia atas tuduhan mata-mata oleh pengadilan Amsterdam. Divonis 4 tahun penjara.

Tapi Khan adalah aset Pakistan. Pemerintah negeri itu mengirim tim hukum ke Belanda. Ajukan banding. Semua bukti sukses patahkan tuduhan. Riset di Kahuta itu, kata Khan, adalah hasil inovasi dan kerja keras. Dia menambahkan, “Tapi kami tidak menampik penggunaan buku, majalah dan karya tulis ilmiah dalam hal ini."

Pada sebuah wawancara dengan media 1987, Khan menegaskan bahwa Barat yang dimotori Amerika Serikat bernafsu mencegah Pakistan sukses membuat bom atom. Dan meski Washington merusak program nuklir itu,  Khan memastikan banyak perusahaan Amerika yang merapat ke Pakistan.

Banyak pemasok Amerika, katanya, mendekati Pakistan agar membeli mesin dan material dari mereka. Untuk pertama kali, katanya, fakta berbicara, “Mereka bahkan akan menjual ibu mereka demi uang."

***

Karir cemerlang Khan dinodai kasus penjualan rahasia nuklir Pakistan ke beberapa negara. Di antaranya Korea Utara, Iran dan Libya pada tahun 90-an. Khan mengakui penjualan itu tahun 2004, lewat sebuah siaran di televisi.

Penjualan rahasia nuklir ke Korea Utara dilakukan tahun 1993. Rahasia nuklir ini ditukar dengan teknologi rudal Korut yang dikirimkan dengan dua pesawat per bulannya pada akhir 1990-an. Teknologi dari Korut berguna untuk penggunaan centrifuge pada uranium untuk menjadikannya senjata.

Sebelumnya tahun 1987, Iran berencana membeli teknologi nuklir Pakistan. Tapi Presiden kala itu, Mohammad Zia-ul-Haq, menolak. Namun Khan diam-diam memberi teknologi nuklir ke Iran antara tahun 1987-1989.

Penjualan ke Iran itu terungkap setelah Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memeriksa fasilitas pengayaan uranium Iran. Ditemukan sistem pengaya centrifuge gas persis seperti rancangan URENCO. Iran mengaku, teknologi ini diperoleh dari "mediator asing tahun 1989". Nama Khan memang tidak disebutkan, namun diplomat dan analis sudah kadung menuding.

Dan tahun 2003, IAEA melucuti program nuklir Libya demi mencabut sanksi terhadap negara itu. IAEA menemukan bahwa pengaya uranium milik Libya persis seperti milik Iran. Di tahun itu juga, pasukan gabungan AS, Inggris, dan Italia menangkap kapal Libya di Laut Mediterania,  yang membawa suku cadang mesin untuk memperkaya uranium.

Pejabat Libya mengaku, Qadeer Khan adalah salah satu pemasok teknologi mereka. Akhirnya pemerintahan George W Bush menginvestigasi Khan. Aksi Khan ini mempermalukan Pakistan. Dia lalu dipecat dari posisinya dan dilakukan penyelidikan atasnya pada 31 Januari 2004. Pada Februari tahun itu, dia mengakui semua perbuatannya.

Khan mengaku telah mengirim mesin dan skema teknologi nuklir kepada negara-negara itu. Dia mengaku melakukan semua itu demi menghasilkan uang untuk negara. Namun, untuk Iran dan Libya, alasannya hanya demi membantu negara-negara Muslim agar punya senjata nuklir.

Tahun 2004, Pengadilan Pakistan mengukumnya sebagai tahanan rumah. Lima tahun. Bebas 2009. Pembebasan itu membuat AS berang. AS dan penyidik PBB sebelumnya telah menuduh Khan memimpin jaringan pebisnis dan perusahaan pembuat dan penjual komponen bom nuklir. Tapi Presiden Pervez Musharraf mengampuni Khan, sebab jasa besarnya bagi negara.

Meninggalkan dunia dunia nuklir, Khan kini aktif berkampanye menghapuskan buta huruf di negeri yang amat dicintainya itu. "Saya bangga atas apa yang saya kerjakan untuk negara ini," katanya.

Mendirikan partai Tehreek-e-Tahaffuz-e-Pakistan (TTP) atau Gerakan Melindungi Pakistan pada Juli 2013 lalu, Khan masuk politik. "Saya membantu Pakistan ketika mereka membutuhkan saya. Sekarang, saya rasa negara ini memerlukan saya karena situasi politiknya buruk," ujar Khan.

Dia mengaku hanya sebagai pembimbing di partai itu. Namun, anggota partainya telah giat menggadangnya sebagai calon presiden Pakistan. "Sebagai pemimpin, pembimbing, saya tidak perlu ambil bagian di setiap pemilihan. Saya tidak ingin ada di parlemen karena posisi saya jauh lebih tinggi untuk sekedar jadi anggota parlemen," tegasnya, kepada Al-Jazeera.

Meski belum menjadi presiden, Pakistan berkomitmen melindungi Khan dari tangan Amerika dan IAEA. Itulah mengapa kediamannya di Bani Gala itu dijaga ketat. Namun, Khan masih bisa ditemui di warung-warung kopi di Islamabad, juga sering diwawancara wartawan lokal.

 

Cumrun Vafa, “Pesaing” Stephen Hawking

Bekerja sebagai profesor fisika teori di Harvard. Tetap ingat Iran.

Hari itu adalah satu hari penting bagi seorang ilmuwan fisika matematika asal Iran. Sebuah lembaga internasional, Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics (ICTP), pada 10 November tiga tahun silam, tepat berusia seperempat abad.  Sejumlah “empu” fisika tingkat dunia berkumpul di Trieste, Italia.

Di forum perayaan itu, seorang lelaki bertubuh tinggi muncul dari sisi panggung. Dia mengenakan jas hitam dengan dasi merah. Wajahnya khas orang-orang Timur Tengah.  Dialah fisikawan matematika muslim ternama dari Universitas Harvard, Cumrun Vafa.

Pada 2008, lembaga riset itu pernah memberikan penghargaan bergengsi kepada Cumrun Vafa, Dirac Medal. Vafa dianggap memberikan terobosan penting atas studi fisika matematis teori String, dan objek astrofisika lubang hitam (Black Hole). Pada perayaan seperempat abad lembaga riset itu, dia didaulat memberikan semacam kuliah umum.

Vafa tampil di mimbar dengan bersahaja. Dia lalu menguraikan apa yang telah ditelitinya selama bertahun-tahun memakai teori String dan Geometri.  Ruangan itu senyap, hanya ada suara Vafa. Para ilmuwan dari sejumlah negara, yang hadir di ruang penuh sesak itu, menyimak dengan tekun.

Teori String adalah teori yang dikuasai Cumrun Vafa. Hampir empat dekade teori itu menjadi pusat atau kiblat para fisikawan teoritis mempelajari teori dasar alam secara terpadu. “Teori String menyediakan kerangka menyatukan segala sesuatu yang kita ketahui tentang alam, termasuk semua partikel dan kekuatan di dalamnya, dalam satu teori kuantum yang konsisten,” ujar Vafa dalam kuliahnya.

Ini adalah tujuan ambisius Cumrun Vafa. Sebab, studinya bertujuan menggambarkan fenomena fisik yang melibatkan skala 1025 lebih lebih kecil dari atom. Sementara kosmologi seluruh alam semesta kita melibatkan skala 1037 lebih besar dari atom.

Dalam satu teori tersendiri, seorang Vafa mempelajari misteri terkurungnya kuark —bentuk dasar semua partikel dan materi— di dalam atom, serta sifat misterius objek astrofisika seperti lubang hitam dalam kerangka geometri.

Seperti teori yang mencakup semua teori, selalu membutuhkan sejumlah besar teknologi matematika. Bahkan, sebagian besar matematika yang dibutuhkan untuk teori String belum dikembangkan. Sehingga, teori String memiliki segudang "tugas" menarik dalam pengembangan rumus matematika sebagai alat mengeksplorasi hukum baru fisika.

Sebab itu, tidak mengherankan jika teori String disebut-sebut persimpangan dari berbagai disiplin, termasuk matematika, partikel fenomenologi, dan astrofisika. Penelitian Cumrun Vafa yang melibatkan ketiga aspek itulah yang membuat dia diganjar Dirac Medal pada 2008.

Dibantu rekan-rekannya, Vafa mengerjakan riset pada topologi String, untuk menjelaskan sejumlah matematika baru yang berasal dari teori String, terutama dalam karyanya pada simetri cermin. Dengan menggunakan teknik ini, dia juga menguak beberapa misteri lubang hitam (black holes mistery), khususnya entropi Bekenstein-Hawking.

Seperti kita ketahui, nama Stephen Hawking tak asing di kalangan astrofisika. Pada 1998, ilmuwan jenius itu membuat namanya sohor dengan menerbitkan buku "A Brief History of Time" atau Sejarah Singkat Waktu, di mana ia membuat gambaran sederhana, dari alam semesta yang terbentuk dari Black Hole dan Big Bang, bukan ciptaan Tuhan.

Memukau di Amerika

Nama Cumrun Vafa melejit di tahun 2008, setelah pria berdarah Iran-Amerika ini menerima Dirac Medal. Boleh dibilang, ini bukan penghargaan sembarangan. Sejak 1985, medali ini hanya dikeluarkan setahun sekali oleh lembaga riset Abdus Salam ICTP untuk menghormati fisikawan Paul Adrien Maurice Dirac, pencetus teori kuantum mekanik, dan kuantum elektrodinamik.

Setiap tanggal 8 Agustus, sebuah komite ilmuwan dunia memilih pemenang dari daftar calon yang diunggulkan di bidang teori fisika dan matematika. Di tahun penyelenggaraan ke 23, nama Vafa muncul ke permukaan sebagai ilmuwan muslim yang menggagas teori String dan Geometri dalam mencermati gejala misterius astrofisika Black Hole di alam semesta.

Vafa sudah akrab dengan teori String sejak duduk di bangku kuliah Universitas Harvard. Dia mulai studi di Amerika Serikat sejak 1977. Dua gelar sarjana alias double major, yakni bidang fisika dan matematika, diboyongnya dari Massachusetts Institute of Technology tahun 1981.

Dua gelar sarjana itu belum membuat Vafa puas. Dahaga pria kelahiran 1 Agustus 1960 di Tehran, Iran, itu akan ilmu fisika tak terbendung. Dalam empat tahun, dia mengambil gelar PhD bidang fisika dari Princeton University, di bawah pengawasan Edward Witten. Gelar ini pun membuat Harvard University kepincut. Vafa lantas ditunjuk sebagai penerima beasiswa, dan menjadi salah satu duta Asia di program Harvard Junior Fellow tahun 1985.

Di titik ini, Cumrun Vafa memulai debutnya sebagai ilmuwan. Kewajibannya di Harvard Society of Fellows rampung dalam tiga tahun. Ia diangkat menjadi asisten profesor fisika selama dua tahun di Harvard. Pada 1990, Vafa menyandang gelar profesor fisika di universitas paling bergengsi di Amerika kala itu sampai hari ini.

Sepanjang karir akademiknya, Cumrun Vafa bolak-balik tampil di panggung penghargaan fisika dan matematika. Mulai dari NSF Presidential Young Investigator Award dari National Science Foundation pada 1989, Alfred P. Sloan Award dan Packard Foundation Award di tahun yang sama, AMS Leonard Eisenbud Prize for Math and Physics tahun 2008, dan Dirac Medal dari ICTP di tahun yang sama.

Vafa juga tak lupa akan tanah kelahiran. Kini, selain sibuk mengajar di Harvard sebagai profesor besar ilmu sains sejak 2003, Vafa aktif sebagai komisaris di Network of Iranians for Knowledge and Innovation (NIKI). Itu adalah organisasi non-pemerintah digagas para akademisi Iran yang tersebar di sekujur AS dan Eropa.

 

Nima Arkani-Hamed, Si Penerus Einstein

Jika terbukti, teorinya akan jadi pemuncak di tiga abad terakhir.

Pada 1981, Nima Arkani-Hamed dibawa ayah dan ibunya berkuda menuju perbatasan Iran dengan Turki. Begitu sampai di wilayah Turki, ayahnya, Jafar Arkani-Hamed, langsung merobek paspor mereka. Jafar memutuskan hengkang selamanya dari negerinya, Iran.

Jafar memilih meninggalkan posisi Kepala Departemen Fisika Universitas Teknologi Sharif, Teheran, karena beroposisi dengan kelompok relijius yang dinilainya mengangkangi hasil Revolusi Iran dua tahun sebelumnya. Padahal revolusi ini yang membuat Jafar pulang kampung, membawa keluarganya dari Amerika Serikat, di mana Nima dilahirkan di Houston pada 5 April 1972.

Namun Jafar menyadari ternyata arah revolusi semakin tak sesuai keinginannya. Perlawanan bawah tanahnya tak membuahkan hasil, Jafar membawa keluarganya pindah karena khawatir dengan keselamatan mereka. Tahun 1982, mereka pun menetap di Kanada.

Nima bercerita, masa di Teheran, bagi dia memberikan pengalaman positif. “Yang aneh adalah, saya memiliki kenangan menakjubkan,” katanya kepada Majalah Nature.

Sebagai anak dari ayah dan ibu yang fisikawan, Nima kecil pun menyukai fisika. Meski begitu, Nima kecil tak menyukai tema teori dawai atau string theory yang belakangan hari membuat namanya melambung. “Apa yang saya suka saat itu adalah fisika menjelaskan segala sesuatu tentang dunia di sekitar saya,” kata Nima.

Teori dawai ini muncul di tahun 1980-an sebagai pendekatan memahami sejumlah hal yang belum terjawab oleh fisika konvensional, misalnya gravitasi yang lemah. Teori ini diharapkan menjadi “Teori Segala Sesuatu” yakni bahwa segala sesuatu terdiri dari untaian miliaran-miliaran dawai lebih kecil dari inti atom. Sayangnya, dawai-dawai ini sebegitu kecilnya, tak seperti inti atom yang mudah digambarkan, sehingga teori ini terkesan lebih filsafati daripada fisika.

Namun, setelah menghabiskan sekolah menengah atas di Toronto, Kanada, dan lalu kuliah strata 1 fisika di Universitas Toronto, Nima malah mendalami teori kuantum yang mendasari teori dawai ini. Dia menemukan dirinya sudah berada di tengah-tengah teori dawai. “Jelas, ada sesuatu yang sangat dalam sedang terjadi,” katanya. Dan Nima lulus tahun 1993 lalu dari Universitas Toronto dengan gelar kehormatan ganda fisika dan matematika.

Dimensi tambahan

Setelah itu, Nima melanjutkan kuliah sampai meraih gelar PhD dari University of California Berkeley di tahun 1997. Nima lalu menjadi asisten profesor di University of California Berkeley, sampai kemudian menjadi Associate Professor di Tahun 2001. Tahun 2001, Nima menulis sebuah makalah berjudul “Electroweak symmetry breaking from dimensional deconstruction” yang kemudian menjadi makalahnya yang paling banyak dikutip, lebih dari 600 kali.

“Sebenarnya makalah itu kurang terkait dengan supersimetri,” kata Nima. “Di dalamnya, kami mengatur cara menemukan sebuah kelompok teori yang mengatasi masalah ini keluar dari fluktuasi kuantum besar dalam sebuah cara lebih sederhana seperti dilakukan supersimetri,” kata Nima.

Simetri adalah konsep geometri, persamaan atau objek lainnya. Objek yang simetri akan sesuai prinsip dasar simetri, misalnya seperti pantulan benda di cermin datar. Sementara supersimetri adalah konsep simetri alamiah yang melibatkan dua dasar partikel elementer, boson dan fermion. “Supersimetri adalah pengembangan simetri ruang-waktu,” kata Nima kepada Science Watch, Reuters.

Nima menemukan sekelompok teori lain yang memiliki bentuk simetri—bukan sebuah supersimetri. Tidak seperti supersimetri, di mana pembatalan mengambil tempat antara partikel dari putaran dan statistik berbeda –dalam hal ini boson dan fermion— pembatalan yang ini terjadi antara boson dan boson.

Temuan ini, kata Nima, menghasilkan masalah baru yakni kelemahan gravitasi (weakness of gravity). Nima bersama mitranya di Berkeley, Savas Dimopoulos dan Gia Dvali, memunculkan hipotesis baru. Kelemahan gravitasi ini, kata mereka, karena terdapat “dimensi tambahan yang besar” yang bisa sebesar satu milimeter. Nima berteori, dimensi bisa sampai tujuh, bukan empat seperti dalam fisika klasik.

Dimensi-dimensi sebesar itu, kata mereka, bisa lolos dari deteksi karena segala yang kita tahu –kecuali gravitasi— ditetapkan dalam tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Dan gravitasi, mereka nyatakan, mungkin mampu menyelusup dalam dimensi-dimensi tambahan ini, sehingga membuat gravitasi terlihat lemah kepada kita. Sebagai hasilnya, perbedaan besaran gravitasi memungkinkan peneliti mendeteksi dimensi tersembunyi tersebut.

Berkat temuannya ini, nama Nima pun jadi terkenal di kalangan fisikawan dunia. Tahun 2001, Nima pindah meneliti di Universitas Harvard bersama Andi Cohen dan Howard Georgi. Mereka mengkonstruksi model dimensi tambahan (nongravitasional) dihasilkan secara dinamis dari model empat dimensi. Nima telah mengajukan teori fisika baru ini untuk dites di laboratorium raksasa Large Hadron Collider di CERN, Swiss.

“Temuan itu seperti kejadian pembeda di bidangnya,” kata seorang fisikawan teoretis di Fermilab, Joe Lykken. Tiba-tiba, sebuah teori yang sebelumnya tak pernah dipikir, bisa diujicobakan sekarang dalam fase yang bisa dieksperimenkan.

"Jika temuan (dimensi tambahan) ini benar, itu bisa menjadi penemuan terbesar dalam ilmu pengetahuan, katakan dalam 300 tahun,” kata Nima yang berambut gondrong itu.

Sejak di Harvard, Nima pun muncul di televisi dan sejumlah seminar. Tahun 2003 dia mendapatkan Gribov Medal dari Masyarakat Fisika Eropa, dan tahun 2005, dia meraih “Phi Beta Kappa” dari Universitas Harvard karena mengajar dengan terpuji.

Tahun 2008, Universitas Princeton “membajaknya” dari Harvard untuk duduk di Institute of Advanced Studies, sebuah posisi yang pernah ditempati Albert Einstein. Di tahun itu juga, Arkani-Hamed memenangi Raymond and Beverly Sackler Prize di Universitas Tel Aviv sebagai ilmuwan muda yang memberikan kontribusi luar biasa dan mendasar di bidang Fisika.

Pada 2009, dia terpilih jadi salah satu anggota Akademi Ilmu Pengetahuan dan Seni Amerika. Terakhir, Juli 2012, dia mendapatkan Penghargaan Fisika Fundamental dari pengusaha internet Yuri Milner.

Dalam catatan Reuters, dampak riset Nima masuk ranking 2 dan ranking 10 berdasarkan jumlah pengutipan atas 26 makalah yang total dikutip 2.640 kali. Salah satu makalahnya muncul dalam daftar 20 makalah paling banyak dikutip selama 10 tahun ini. Dalam Essential Science Indicators dari Thomson Reuters, dia masuk jajaran 1% ilmuwan fisika top, dengan 44 makalah dikutip dengan total 4.493 pengutipan.

“Saya belum pernah sesemangat ini tentang fisika sejak lama,” kata Nima ketika diwawancara Reuters di Juli 2012.

 

Muhammad Yunus, Bapak Bank untuk Rakyat Miskin

“Membuat orang lain bahagia itu kebahagiaan luar biasa.”

Sufia Katun, ibu dari Muhammad Yunus, selalu membantu setiap orang miskin yang mengetuk pintu rumah mereka, baik itu sekadar meminjamkan barang ataupun uang. Pemandangan masa kecil Yunus inilah yang menginspirasinya untuk memberantas kemiskinan di Bangladesh dan akhirnya diganjar penghargaan Nobel.

Muhammad Yunus lahir 28 Juni 1940 di desa Bathua, Bengal Timur. Ia berasal dari salah satu keluarga mampu di desanya karena ayahnya, Hazi Dula Mia, merupakan penambang emas sukses dan mendorong anak-anaknya untuk sekolah setinggi langit. Sebagai salah satu keluarga berkecukupan, tak jarang keluarganya sering didatangi orang untuk meminta bantuan.

Masa kecil Yunus dihabiskan di desa hingga pada 1947 keluarganya pindah ke kota Chittagong karena bisnis perhiasan ayahnya maju pesat. Otak Yunus sangat cemerlang hingga pada 1965 ia mendapatkan beasiswa PhD bidang ekonomi di Vanderbilt University Graduate Program in Economic Development (GPED).

Lulus kuliah di AS, ia bergabung sebagai pengajar di Chittagong University dan menjadi salah satu ekonom Bangladesh. Pada 1974, Profesor Yunus bersama para mahasiswanya berkunjung ke desa Jobra, salah satu desa miskin dan mewawancarai seorang wanita yang membuat kerajinan dari bambu.

Dari wawancara tersebut, ia menemukan bahwa seorang pengrajin bambu membutuhkan pinjaman uang dengan jumlah kecil untuk membeli bambu. Bank-bank tradisional tidak mungkin memberikan pinjaman dengan jumlah kecil dengan bunga yang rendah.

Akhirnya, para pengrajin di sana kebanyakan meminjam uang melalui rentenir yang memberikan bunga 10 persen per minggu. Sistem ini membuat para lintah darat semakin kaya dan tidak membuat para masyarakat miskin memiliki bantalan ekonomi untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Saat itu, Yunus menyadari, ada sesuatu yang salah dari sistem ekonomi yang ia ajarkan. Akhirnya, ia berinisiatif untuk memberikan pinjaman dari kantongnya sendiri. Saat itu, Yunus memberikan pinjaman total US$27 kepada 42 orang perempuan di desa tersebut dan menghasilkan keuntungan US$0,2 per orang.

Ia menemukan, pinjaman dengan jumlah kecil dan bunga yang masuk akal tidak hanya membantu mereka bertahan hidup tetapi juga menimbulkan inisiatif para pelaku usaha untuk keluar dari jurang kemiskinan.

Pada 1976, Yunus mendapatkan pinjaman dari Janata Bank untuk memberikan pinjaman kepada orang miskin. Proyek Yunus ini berkembang pesat dan pada 1982 telah mencapai 28 ribu anggota. Semakin membesar, maka pada 1 Oktober 1983 Yunus bersama rekan-rekannya mendirikan Grameen Bank.

Grameen Bank yang berarti bank desa ini didirikan dengan berdasarkan prinsip-prinsip kepercayaan dan solidaritas. Grameen fokus untuk memberikan pinjaman untuk masyarakat miskin, khususnya kaum perempuan, dengan jumlah kecil dan dengan bunga yang rendah.

Namun, langkah Yunus ini mendapatkan berbagai tantangan, bahkan dari pemuka agama konservatif yang menyatakan haram menerima uang dari Grameen. Namun, Yunus pantang menyerah untuk memberantas kemiskinan di negaranya.

"Ketika kami merancang kredit mikro, tujuannya adalah untuk membantu orang keluar dari kemiskinan, tetapi beberapa orang menjauh dari motivasi tersebut. Namun, kami yakin menjangkau kelompok orang yang miskin, para wanita, mereka semua dapat bekerja jika diberikan kepercayaan," katanya saat wawancara eksklusif dengan New York Times April 2013 lalu.

Ia menggunakan sistem kelompok solidaritas, yaitu membentuk berbagai kelompok kecil informal untuk bersama-sama mendapatkan pinjaman dan para anggotanya bertindak sebagai mitra penjamin sesamanya agar setiap anggota mendukung satu sama lain untuk membayar pinjaman dan meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan ekonomi keluarga.

Hasilnya luar biasa, Grameen Bank saat ini memiliki 8,4 juta peminjam di mana 96 persen di antaranya adalah perempuan. Ia juga mengembangkan berbagai inisiasi untuk rakyat miskin seperti Grameen Phone, operator seluler terbesar di Bangladesh yang sebagian besar pelanggannya merupakan rakyat miskin.

"Menghasilkan uang merupakan kebahagiaan dan merupakan pencipta semangat yang luar biasa," kata Yunus di depan miliuner dunia yang diselenggarakan PBB awal bulan Juli 2013.

"Namun membuat orang lain bahagia itu kebahagiaan luar biasa dan lebih menarik dari pada menghasilkan uang," ujar Yunus yang membuat para miliuner tercengang.

Usaha Yunus membangkitkan masyarakat miskin Bangladesh dari keterpurukan mendapatkan berbagai ganjaran, mulai dari penghargaan Nobel, Presidential Medal iofFreedom, Congressional Gold Medal dan lain-lain.

Yunus memang fokus memberdayakan perempuan miskin dan pengemis di negaranya tersebut untuk menjadi wirausaha.

"Saya pinjamkan uang ke wanita miskin sebesar US$30, dan saat mereka menerima uang tersebut ia bergetar, menggigil karena tidak percaya menerima uang sebesar itu seumur hidupnya. Dan saat ia merasa ada orang yang mempercayakannya menerima pinjaman uang, ia akan menjaga kepercayaan tersebut seumur hidupnya," kata Yunus.

"Dan kepada para pengemis, kami berikan pinjaman US$4-10 per orang. Saya katakan, uang ini dibelikan aksesoris dan makanan sehingga anda mempunyai barang untuk usaha," katanya.

Khusus untuk pengemis, Yunus menyatakan sekitar 25 ribu orang berhenti mengemis sepenuhnya karena mereka telah beralih menjadi penjual barang atau makanan dari pintu ke pintu yang sukses.

Untuk mengubah mental pengemis menjadi mental wirausaha tidaklah mudah. Namun, saat mereka diberikan kesempatan untuk mengubah hidupnya maka mereka akan mengerahkan seluruh kemampuan hidupnya. "Jangan paksa mereka untuk berhenti mengemis dalam semalam karena itu merupakan inti bisnis mereka," katanya.

Yunus menyebut model bisnisnya sebagai bisnis sosial, yang jauh dari sistem kapitalisme yang diartikan sebagai aktivitas manusia untuk mencari laba sebesar-besarnya. Yunus menempatkan bisnisnya dengan mengabaikan keuntungan pribadi dan fokus untuk mengembangkan manusia dan dunia.

"Perusahaan memperoleh laba, namun laba tetap dengan perusahaan. Pemilik hanya akan mendapatkan kembali investasi awal, tidak lebih. Saya tidak mengatakan untuk menjauh dari keuntungan, tetapi memisahkan dan menjalankan secara pararel," katanya.

Usahanya ini ditiru oleh berbagai lembaga keuangan dunia. Sekitar 40 negara di penjuru dunia membuat proyek yang mirip dengan Grameen Bank, termasuk Bank Dunia yang  memprakarsai skema pembiayaan Grameen Bank ke seluruh dunia.

Semakin populernya Yunus di Bangladesh dan dunia membuat pemerintah Bangladesh menjadi takut. Dilansir BBC, pada Maret 2011 lalu, bank sentral yang memiliki 25 persen saham di Grameen Bank memecat Yunus sebagai Direktur Pelaksana.

Bank Sentral mengatakan, profesor Yunus melanggar undang-undang pensiun dengan tetap memimpin Grameen Bank di usia 70 tahun, padahal batas wajib pensiun di Bangladesh 60 tahun.

Bank Sentral juga mengatakan Yunus tidak mendapatkan persetujuan pemerintah ketika ditunjuk sebagai Direktur Pelaksana pada 1999 lalu. Media internasional menilai, pencopotan Yunus sebagai puncak pertikaian dengan pemerintah, di mana pada 2007 lalu Yunus berusaha membentuk partai baru.

Yunus berusaha melawan pencopotannya tersebut dengan mengajukan gugatan, yang ditolak oleh MahkamahAgung pada Mei 2011. Ia akhirnya menerima pemecatan dirinya namun tetap mengkritisi langkah pemerintah yang ia duga mau mengambil alih Grameen Bank.

"Sepertinya tujuan pemerintah mau mengambil alih Grameen Bank sepenuhnya. Mereka membentuk komisi dan mengusulkan saham peminjam bukanlah pemilik bank sebenarnya. Dewan Bank yang terdiri dari tiga wakil pemerintah dan sembilan wakil oleh peminjam diberhentikan oleh komisi karena aturan pemilihan dewan cacat," katanya.

Rekomendasi komisi pemerintah tersebut belum terjadi dan ia yakin para penduduk miskin yang merasakan manfaat langsung dari kehadiran bank dengan moto Bank for The Poor ini dapat melawan  rencana pemerintah. "Grameen  Bank dimiliki oleh 8,5 juta peminjam, dengan rata-rata memiliki lima anggota keluarga. Lebih dari 40 juta orang terlibat, dan mereka akan menang."


Terpopuler