Siapakah Hudzaifah bin Yaman itu?
01 Agustus 2013 - dibaca : 4.251 kali

Siapakah Hudzaifah bin Yaman itu?

Hudzaifah bin Husail merupakan salah satu sahabat besar Rasulullah Saw. Karena ia memiliki ikatan janji setia dengan suku Yamani maka ia terkenal dengan Yamani. Hudzaifah dan ayahnya Husail serta saudaranya Shafwan hadir bersama-sama di hadapan Rasulullah Saw dan memeluk Islam. Mereka turut serta pada perang Uhud dan peperangan lainnya kecuali perang Badar karena ia dan ayahnya dihalangi oleh kaum kafir untuk turut serta dalam perang ini). Ayah Hudzaifah (Husail) syahid di perang Uhud.[1] Hudzaifah sangat berperan aktif dalam pelbagai peperangan dan kemajuan Islam. Kisah pengorbanannya pada perang Khandaq untuk memperoleh beberapa informasi musuh sangat dikenal orang.[2] Ia hadir pada perang Nahawand setelah Nu’man bin Maqrun komandan pasukan Islam gugur, ia mengambil panji Islam dan bertindak selaku komandan pasukan, berhasil merebut kota Hamadan, Rei dan Dainawar. Demikian juga, untuk beberapa lama, ia menjabat sebagai penguasa Madain diangkat oleh Khalifah Kedua. Sewaktu Khalifah Kedua memanggilnya ke Madinah, Khalifah Kedua menyambutnya tatkala ia memasuki kota dan menyaksikannya tidak memiliki kekayaan dan harta benda. Sebagaimana ia pergi (ke Madain) sepulangnya juga tetap dalam kondisi yang sama, tidak berubah.[3]

Salah satu keutamaan dan tipologi Hudzaifah adalah mengenal orang-orang munafik yaitu ketika Rasulullah Saw tatkala kembali dari perang Tabuk memperkenalkan sebagian dari orang munafik kepadanya.

Secara global kisahnya seperti ini. Perang Tabuk merupakan salah satu peristiwa yang dengannya kedok orang-orang munafik semakin terkuak; sebagian orang yang memilih Islam secara lahir menolak untuk ikut serta dalam medan perang. Sebagian lainnya dengan mendirikan masjid Dhirar mereka memperkenalkan dirinya (sebagai orang munafik). Kelompok ketiga adalah orang-orang yang memutuskan menghabisi Rasulullah Saw sepulangnya dari perang Tabuk. Di tengah jalan terdapat sebuah jurang dengan jalan yang sangat sempit dan berbahaya. Terdapat jalan lain di antara lembah dan dua gunung yang dilalui yang lebih luas dan tidak berbahaya namun sedikit lebih jauh. Tengah malam, Rasulullah Saw dan pasukannya tiba di jurang. Rasulullah Saw menginstruksikan kepada pasukannya untuk mengumumkan kepada pasukan yang berada di antara dua gunung supaya melintas. Namun Rasulullah Saw pergi meninggalkan jurang tersebut. Dengan pengumuman ini, orang-orang munafik melihatnya sebagai sebuah peluang emas. Dua belas atau empat belas orang memutuskan untuk pergi ke jurang lebih di depan daripada Rasulullah Saw dan bersembunyi pada sebuah tempat yang sangat sempit dan berbahaya sehingga ketika Rasulullah Saw tiba di tempat itu, untanya ditakuti-takuti sehingga kabur dan Rasulullah Saw dibuang ke dalam jurang.

Hudzaifah berkata, Aku dan Ammar Yasir bersama Rasulullah Saw. Begitu kami mendekati jurang, Rasulullah Saw bersabda, “Jibril telah turun kepadaku dan mewartakan bahwa sekelompok orang bersembunyi di balik bebatuan ini dan bermaksud untuk membuat ketakutan untaku dan membunuhku. Pergilah ke depan dan jauhkan mereka. Orang-orang munafik menyadari hal ini dan mundur ke belakang. Rasulullah Saw bersabda kepada Hudzaifah: “Engkau mengenal mereka?” Hudzaifah berkata, “Karena cuaca gelap saya tidak mengenalnya.” Rasulullah Saw memperkenalkan mereka kepada Hudzaifah.[4]

Hudzaifah berkat pengajaran yang diterima dari Rasulullah Saw dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, dari mengenal orang-orang munafik, ia mengetahui banyak perkara yang akan terjadi di masa mendatang dan terkadang ia mengabarkannya kepada masyarakat.[5]

 

 

[1]. Muhammad Ali Alimi Damagani, Paigambar wa Yârân, jil. 2, hal. 241, Intisyarat-e Bashirati, Qum, Khiyaban-e Iram, 1386 H. Izzuddin Ibnu Atsir, al-Kâmil fi al-Târikh, jil. 2, hal. 162, Beirut, Dar Shadir, 1385/1965.   

[2]. Izzuddin Ibnu Atsir, al-Kâmil fi al-Târikh, jil. 1, hal. 468-469, Beirut, Dar al-Fikr, 1409/1989. Paigambar wa Yaran, jil. 2, hal. 244 dan 245.  

[3]. Al-Kâmil fi al-Târikh, jil. 2, hal. 184. Usd al-Ghâbah fi Ma’rifat al-Shahâbah, jil. 1, hal. 468-469. Paigambar wa Yaran, jil. 2, hal. 239-241.   

[4]. Allamah Majilisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 20, hal. 208, Muassasah al-Wafa, Beirut, 1404 H. Usd al-Ghâbah fi Ma’rifat al-Shahâbah, jil. 2, hal. 468 dan 469.  

[5]. Paigambar wa Yârân, jil. 2, hal. 248-249.

 

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler