Mohon Maaf atas tidak tercantumnya semua sumber dari konten yang ada di website ini.. Terima Kasih kepada semua yang telah menyadur dan mencantumkan referensi dari website ini, semoga bermanfaat untuk semua.
Bencana Kutub Utara Arktik
28 Juli 2013 - dibaca : 2.650 kali

Bencana Kutub Utara Arktik

Pemandangan cantik dan menawan dari Arktik mungkin tidak ternilai harganya, tetapi pemanasan di daerah itu bisa membawa kerugian besar bagi dunia.

Pemanasan cepat di Arktik bisa merugikan ekonomi global lebih dari $60 triliun (sekitar Rp616.571 triliun) apabila pencairan lapisan es itu melepaskan sejumlah besar metana — sebuah gas rumah kaca yang amat kuat. Kerugian yang ditimbulkan hampir menyamai total ekonomi dunia tahun 2012, yakni $70 triliun.

Tanah beku permanen, yang disebut lapisan es, di Laut Siberia Timur di Arktik mampu menyemburkan 50 miliar ton metana setiap saat, kata para peneliti dalam sebuah analisis yang diterbitkan Kamis (24/7) di jurnal “Nature”. Lebih dari satu triliun ton metana diduga terperangkap dalam sedimen laut es Samudra Arktik dalam bentuk yang disebut hidrat metana.

Seiring menyusutnya lapisan es laut Arktik dan menghangatnya Samudra Arktik, sedimen beku dapat mencair dan melepaskan metana yang tersimpan, kata Peter Wadhams, salah satu penulis penelitian dan ahli kelautan di University of Cambridge di Inggris. Gumpalan gas metana meningkat setiap musim panas di Laut Siberia Timur, kata Wadhams.

"Itu adalah bom waktu ekonomi yang belum disadari pada tahap ini," kata penulis utama studi Gail Whiteman dari Erasmus University di Rotterdam, Belanda.

Karena metana menyerap panas atmosfer 25 kali lebih efisien daripada karbon dioksida, pelepasan metana dadakan di Kutub Utara akan memiliki efek bencana pada iklim global, kata penulis studi.

Bertambahnya 50 miliar ton metana ke atmosfer akan mempercepat kenaikan suhu global sebesar 3,6 derajat Fahrenheit (2 derajat Celsius) abad ini dalam kurun waktu 15-35 tahun, kata para peneliti.

Kerugian global perubahan iklim kemungkinan besar muncul dalam bentuk kenaikan permukaan air laut, peristiwa cuaca ekstrem, kerusakan tanaman, dan hasil kesehatan yang lebih buruk, kata para peneliti. Sebagian besar krisis keuangan diperkirakan paling berdampak di negara-negara berkembang yang ada di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan.

"Sekitar 80 persen dari dampak tambahan akan terjadi di negara berkembang. Negara-negara berkembang lebih rentan terhadap perubahan iklim," kata salah satu penulis studi Chris Hope, seorang ekonom di University of Cambridge.

Dampak ekonomi pelepasan metana adalah sama, baik dilepaskan sekaligus dalam satu semburan raksasa maupun dialirkan selama 30 tahun, kata hasil penelitian. "Dalam hampir setiap kasus, dampak tambahan dari peristiwa ini mencapai hampir $60 triliun," kata Hope.


Terpopuler