Keutamaan Siwak
26 Juli 2013 - dibaca : 3.423 kali

Keutamaan Siwak

Abu Hurairah ra.meriwayatkan, bahwa Nabi saw.bersabda: “Sesuci itu ada empat: mencukur kumis, mencukur bulu ari-ari, memotong kuku dan siwak”. (HR. Bazzar dan Thabrani dari Abu Darda’ ra).

Nabi saw.bersabda:

“Dua raka’at dengan siwak itu lebih baik daripada tujuh puluh raka’at tanpa siwak”. (HR. Daraquthni dari Ummi Darda’ dan sanadnya hasan).

Siwak demikian besar faedahnya, sebab siwak itu menyebabkan bau mulut harum dan ingat syahadat ketika mati. Munawi mengatakan: “Hadits ini tidak menunjukkan bahwa siwak itu lebih utama daripada jama’ah yang pahalanya dua puluh derajat. Sebab derajat itu berbeda-beda kadarnya”.

Nabi saw.bersabda:

“Bersiwaklah kalian, karena sesungguhnya siwak itu mensucikan mulut dan meridlakan Tuhan”. (HR. Ibnu Majah).

Nabi saw.bersabda:

“Enam hal termasuk sunah-sunah para rasul : malu, bijaksana, bekam, siwak, memakai minyak wangi dan banyaknya istri”.

Munawi berkata : “Yang benar sebagaimana dikatakan sebagian ulama adalah malu diganti dengan khitan”. Yang dimaksudkan adalah hal-hal tersebut termasuk sunah sebagian besar mereka. Tidak heran kalau Nabi Nuh as.tidak khitan dan Nabi Isa as.tidak menikah.

Nabi saw.bersabda :

“Tiga hal wajib bagi setiap muslim : mandi hari jum’at, siwak dan menyentuh minyak wangi”.

Yakni sangat sunah melakukannya. Menyentuh minyak wangi sangat sunah pada hari jum’at, meskipun sunat pada hari lain. Aisyah ra meriwayatkan, bahwa Nabi bersabda: “Tiga hal itu fardlu atas aku dan tiga itu sunat bagi kalian : siwak, witir dan bangun malam”.

Nabi saw.bersabda:

“Harumkanlah mulut kalian dengan siwak, karena sesungguhnya siwak itu metodhe AlQur’an”.

Maksudnya harumkanlah mulut kalian dengan menghilangkan bau tidak sedap. Dalam hadits riwayat Thabrani dari Ibnu Mas’ud ra.dengan sanad hasan disebutkan: “Cukillah sisa-sisa makanan di sela-sela gigi, karena sesungguh-Nya hal itu kebersihan dan kebersihan itu mengajak kepada iman sedangkan iman dapat memasukkan ke dalam surga”.

Yakni di surga. Maksudnya keluarkan makanan yang ada di antara gigi dengan mencukil, sebab hal itu mrupakan kebersihan bagi mulut dan gigi. Dalam sebagian redaksi disebutkan: “Karena sesungguhnya hal itu menyehatkan gigi taring dan gigi geraham”.

Nabi saw.bersabda:

“Semoga Allah merahmati orang-orang yang menyela-nyela rambut dari umatku dalam wudlu dan makanan”. (HR. Qadhai dari Abu Ayub Al Anshari ra dan hadits ini hasan).

Yakni wudlu dan mandi, maksudnya terhadap rambut mereka. Sedangkan menyela-nyela makanan itu artinya mengeluarkan sisa makanan di antara gigi. Dalam hadits ini disunatkan menyela-nyela rambut ketika Thaharah dan mencukil sisa makanan di sela-sela gigi. Nabi mendoakan mereka memperoleh rahmat, sebab mereka begitu hati-hati dalam ibadah. Sebaiknya kedua hal itu diperhatikan, agar termasuk dalam doa Nabi saw.

Nabi saw.bersabda:

“Janganlah kalian menyela-nyela gigi dengan kayu as dan pohon bunga serta bambu, karena sesungguhnya hal itu menyebabkan rontoknya gigi”.

As itu kayu pohon yang berbau harum. Pohon bunga itu setiap tanaman yang harum baunya.

Nabi saw.bersabda:

“Satu shalat dengan siwak itu lebih baik daripada tujuh puluh shalat tanpa siwak”. (HR. Baihaqi dan lainnya, Hakim menshahihkannya).

Yakni daripada melakukan shalat banyak tanpa bersiwak. Dengan demikian tujuh puluh itu menunjukkan banyak, bukan membatasi tujuh puluh. Demikian dikatakan Azizi.

Nabi saw bersabda:

“Jibril senantiasa mewasiatkan siwak kepadaku sampai aku khawtir gigi-gigiku rontok”.

Dalam sebagian redaksi disebukan: “Dan jbril mewasiatkan siwak kepadaku sampai aku khawatir gigiku rontok”.

Dalam redaksi lain disebutkan: “Sampai aku khawatir gigiku akan rontok”.

Nabi saw.bersabda:

“Aku dipeintah untuk siwak sampai aku khawatir rontok gigi-gigiku”. (HR. Thabarani dari Ibnu Abbas).

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler