Keutamaan Wudhu
26 Juli 2013 - dibaca : 2.198 kali

Keutamaan Wudhu

Dhahhak meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw.bersabda:

“Tak ada hamba maupun wanita yang berwudlu, lalu wudlu dengan baik, kemudian membaca Inaa anzalnahu fi lailatul qadr sampai akhirnya, kecuali Allah a’ala memberi dia setiap hurufnya seratus derajat dan Allah Ta’ala menciptakan dari setiap tetes yang menetes dari wudlunya seorang malaikat yang meminta ampun untuk dia sampai hari kiamat”.

Demikian tersebut dalam kitab Riyadhus Shalihin.

Nabi saw.bersabda:

“Siapa wudlu untuk shalat, lalu wudlu dengan baik, kemudian berdiri menuju shalat, maka sungguh dia keluar dari kesalahannya seperti saat dilahirkan ibunya”.

Maksudnya dia wudlu dengan lengkap syarat dan etika serta fardlunya. Dia keluar dari dosanya maksudnya tidak tersisa lagi sesuatu dari dosa kecilnya, seaka-akan dia baru keluar dari perut ibunya.

Nabi saw.bersabda:

“Siapa wudlu untuk shalat lalu ia shalat, maka Allah menghapus dosa-dosanya yang ada di antara dia dan shalat yang lain”.

Nabi saw.bersabda:

“Siapa tidur atas wudlu, lalu dia disongsong maut pada malam itu, maka dia di sisi Allah adalah syahid”.

Dalam Ihya’ dijelaskan, bahwa Nabi bersabda: “Jika hamba tidur dalam keadaan wudlu, maka ruhnya dinaikan ke arasy dan mimpinya benar. Jika dia tidur tidak dalam keadaan suci, maka ruhnya pendek untuk sampai dan tidurnya adalah mimpi kacau yang tidak benar”.

Nabi saw.bersabda:

“Orang tidur yang suci itu seperti orang puasa yang bangun”. (HR. Hakim, Tirmidzi dari Amr bin Hurait dan sanadnya dhaif).

Maksud bangun beribadah malam tersebut adalah melakukan shalat di tengah malam untuk memperoleh pahala.

Nabi saw.bersabda:

“Siapa wudlu dalam keadaan suci, maka bagi dia ditulis sepuluh kebaikan”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dari Ibnu Umar ra).

Yakni dia berwudlu, padahal dia masih punya wudlu yang sudah dia gunakan untuk shalat fardlu atau sunat. Jika belum digunakan shalat sama sekali, maka tidak dianjurkan memperbaharui wudlu. Tirmidzi mengatakan: “sanadnya dlaif”.

Sebagian ulama mengatakan: “Mungkin saja artinya ditulis sepuluh kebaikan adalah wudlu itu ditulis sebagai sepuluh wudlu. Sebab janji Allah paling sedikit untuk kebaikan adalah sepuluh kali lipat. Allah juga menjanjikan tujuh ratus kali lipat. Dan menjanjikan pahala tanpa batas. Dari sabda ‘siapa wudlu dapat diambil pengetian bahwa tidak ada sunat memperbaharui mandi sebagaimana tayamum. Ini memang benar menurut pendapat yang kuat”.

Nabi saw bersabda:

Tidak ada shalat bagi orang yang tidak punya wudlu. Tidak ada wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah atas wudlu itu. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim dari Abu Huraiarah, dan Ibnu Majah dari Said bin Zaid ra).

Maksudnya tidak ada shalat yang sah. Dan tidak ada wudlu sempurna.

Nabi saw bersabda:

“Wudlu itu separoh iman”. (HR. Ibnu Abu Staibah dari Hassan bin Athiyah).

Dalam riwayat orang lain disebutkan: Sesuci itu separoh iman.

Sebab iman itu mensucikan najisnya batin, sementara wudlu mensucikan najis lahir.

Nabi saw. Bersabda:

“Pokok wudlu itu sekali. Maka siapa wudlu dua kali, bagi dia ada dua lipat dari pahala. Siapa wudlu tiga kali, maka itulah wudlu para nabi sebelumku”.

Yakni pokok wudlu itu sekali untuk masing-masing anggota badan. Jika seseorang wudlu tiga kali, maka itulah wudlu para nabi sebelum Nabi kita.

Dalam Ihya’ disebutkan sabda Nabi:

“Dan Nabi wudlu satu kali seraya bersabda: “Ini wudlu yang Allah tidak menerima shalat, kecuali dengannya”. Dan beliau wudlu dua kali dua kali bersabda: “Siapa wudlu dua kali dua kali, maka Allah kepadanya memberikan pahalanya dua kali”. Nabi wudlu tiga kali tiga kali bersabda: “Inilah wudluku dan wudlu para nabi sebelum aku serta wudlu Khalil Rahman, Ibrahim as”.

Nabi saw.bersabda:

“Allah tidak menerima shalat salah satu dari kalian jika dia hadas, sampai dia wudlu”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra).

Yang diimaksudkan menerima adalah sah dan cukup. Hakekat menerima adalah buah penerimaan ibadah yang sah dan menggugurkan kewajiban. Karena melakukan ibadah lengkap dengan syaratnya itu kemungkinan besar menyebabkan ibadah diterima yang merupakan fokusnya, maka Nabi secara majas menyabdakan penerimaan itu.

Nabi saw.bersabda:

“Wudlu atas wudlu itu cahaya di atas cahaya”.

Yakni wudlu atas wudlu itu kebaikan di atas kebaikan. Ibnu Hajar mengatakan: “Hadits ini merupakan musnad Razin. Al Mundziri tidak mengetahuinya. Demikian dijelaskan dalam Al Badr Al Munir oleh Abdul Wahhab Al Anshari.

Dalam Ihya’ disebutkan, bahwa Nabi bersabda: “Siapa wudlu, lalu wudlu dengan baik dan shalat dua rakaat di mana dia tidak tergerak jiwanya pada keduanya dengan sesuatu dari keduniaan, maka dia keluar dari dosa-dosanya seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya”.

Dalam redaksi yang lain: “Dan dia tidak berbuat bodoh dalam kedua raka’at itu, maka keluarlah dosanya seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya”.

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler
loading...