Keutamaan Iman
26 Juli 2013 - dibaca : 8.149 kali

Keutamaan Iman

Menurut pengertian bahasa iman itu berarti hati percaya dan tahu apa yang dia percayai. Menurut pengertian agama iman itu membenarkan dan mempercayai. Yakni tahu Allah dan sifat-sifat-Nya disertai semua ibadah, baik wajib maupun sunat dan menjauhi semua larangan.

Bisa juga dikatakan bahwa iman itu agama dan syariat. Sebab agama itu sesuatu yang dijadikan sebagai pegangan, yaitu ibadah diserta menjauhi larangan dan haram. Itulah sifat iman. Sedangkan Islam itu termasuk iman. Setiap iman itu Islam dan tidak bisa dibalik. Bukan setiap Islam itu iman, sebab Islam itu artinya tunduk.

Dengan demikian iman itu suatu nama yang mengandung banyak unsur, baik perbuatan maupun perkataan. Iman mencakup semua ibadah. Sedangkan Islam itu kata lain dari syahadat disertai tenangnya hati dan ibadah lima waktu. Demikian dijelaskan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani.

Nabi Saw Bersabda : “Iman itu mengetahui dengan hati, mengatakan dengan lidah dan melakukan dengan anggota badan”. (Hr. Ibnu Majah dan Thabrani dari Ali dan itu hadits dhaif)

Dalam sebagian yang diriwayatkan Ibnu Majah disebutkan : “Yakin dengan Hati”. Mengatakan dengan lisan maksudnya mengucapkan dua kalimat syahadat seperti penjelasan Qasthalani. Amal perbuatan itu termasuk syarat kesempurnaan iman dan pengakuan dengan lisan itu menjelaskan isi hati. Ini penjelasan dari Azizi mengutip dari Ibnu Hajar.

Nabi Saw bersabda : “Iman itu telanjang dan pakaiannya takwa. Perhiasannya malu dan buahnya adalah ilmu”.

Takwa adalah mensucikan hati dari dosa. Malu adalah malu kepada Allah untuk melakukan larangan-Nya. Ilmu yang buah iman itu ilmu disertai amal perbuatan.

Nabi Saw bersabda : “Tidak ada iman bagi orang yang tidak punya amanat sama sekali”. (Hr. Ahmad dan Ibnu Hibban dari Anas ra).

Yakni mukmin itu orang yang makhluk merasa aman kepadanya, baik mengenai harta maupun jiwa mereka. Siapa berkhianat dan menyeleweng, maka dia bukan mukmin. Yang dimaksudkan Nabi adalah kesempurnaan iman, bukan hakekat iman.

Nabi Saw bersabda : “Tidaklah beriman salah satu dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (Hr. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah dari Anas ra)

Maksud Nabi dia tidak beriman dengan iman sempurna. Ibrahim ra. Sabarkhiti mengatakan : “Dalam riwayat Ismaili terdapat redaksi : “Sampai dia mencintai untuk saudaranya yang muslim apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri”.

Namun kata muslim itu hanya berlaku secara umum. Sebab, baik juga setiap muslim untuk mencintai orang kafir agar masuk islam. Imam Nawawi dalam syarah Arbain dan Ibnul Imad mengatakan : “Yang paling tepat adalah hal itu diarahkan pada keseluruhan persaudaraan. Yakni sampai memasukkan orang kafir. Muslim harus suka untuk saudaranya yang masih kafir untuk masuk Islam, sebagaimana mencintai saudaranya muslim agar ia tetap dalam Islam. Oleh karena itu sunat mendoakan orang kafir memperoleh petunjuk”.

Nabi Saw bersabda : “Iman itu didalam dada mukmin. Iman tidak sempurna, kecuali dengan sempurnanya fardhu-fardhu dan sunat-sunat. Iman tidak rusak, kecuali dengan mengingkari fardhu-fardhu dan sunat-sunat. Barangsiapa mengurangi satu fardhu tanpa ingkar, maka dia disiksa atas hal itu. Barangsiapa menyempurnakan fardhu-fardhu, maka wajib baginya surga”.

Yakni iman tidak sempurna, selain dengan melakukan fardhu dan sunat secara lengkap. Iman tidak hilang, kecuali karena ingkar fardhu dan sunat. Jika tidak melakukan satu fardhu tanpa ingkar, maka disiksa karena tidak melaksanakan perintah. Jika tidak melakukan fardhu disertai ingkar, itu menyebabkan dia kafir. Jika dia melakukan semua fardhu, maka dia masuk surga. Jika semua sunat juga dilakukan, itu akan menambah derajatnya disurga. Wallahu A’lam.

Iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang. Akan tetapi iman itu ada batasnya, yakni teori dengan menyebutkan satuan cabang iman. Jika iman berkurang, maka itu pada batasnya. Pokok iman adalah bersaksi bahwasannya tiada tuhan kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan bahwasannya Muhammad itu hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa ramadhan, haji dan mandi janabat. Barangsiapa tambah dalam batasan iman, maka bertambah kebaikan-kebaikannya. Barangsiapa berkurang imannya, maka hanya berkurang batasannya”.

Maksudnya jika iman berkurang, yang kurang itu batasnya, bukan iman itu sendiri. Syahadat adalah pemberitahuan seseorang tentang hak orang lain padanya dengan redaksi khusus. Ada lima rukun syahadat : Syahid, Masyhud lah, Masyhud alaih, masyhud bih dan shighah. Syahid adalah muslim, Masyhud lah adalah Allah dan Nabi Saw. Masyhud alaih adalah orang yang menyekutukan Allah dan orang yang ingkar kerasulan Nabi, Masyhud bih adalah ketuhanan Allah dan risalah Nabi, Shigah adalah kata asyhadu atau terjemahnya.

Mendirikan shalat maksudnya melakukan shalat lengkap dengan rukun dan syarat. Membayar zakat artinya memberikannya kepada yang berhak berupa sebagian dari harta dengan ketentuan yang ditetapkan. Puasa itu menahan diri yang dilakukan oleh orang yang bersih dari haid dan nifas dari keinginan mulut, kemaluan dan sejenisnya, misalnya hidung dan sentuhan dalam siang hari Ramadhan dengan niat sebelum fajar. Haji wajib karena sabda Nabi: “Barangsiapa tidak ditahan oleh kebutuhan dan tidak haji sedangkan dia memiliki harta, maka hendaklah dia mati jika ingin sebagai Yahudi dan jika ingin sebagai Nasrani”.

Yakni tidak ditahan oleh sakit atau orang zalim.

As Suyuthi berkata dalam An Nuqayah: “ Mukmin kamil (sempurna) imannya itu orang yang melakukan cabang-cabang iman secara lengkap. Jika dia tidak melakukan salah satu cabang, maka imannya berkurang sesuai cabang itu. Ulama salaf sepakat, bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Tambahnya iman itu dengan ibadah dan kurangnya itu dengan maksiat. Cabangn iman itu ada enam puluh atau tujuh puluh lebih sebagaimana riwayat Dua Syekh. Atau tujuh puluh enam atau tujuh menurut riwayat Abu Awanah dalam hadits. Atau enam puluh empat sebagaimana diriwayatkan Tirmidzi”.

Syekh Abdul Qadir Al Jilani mengatkan: “Kita berkeyakinan bahwa iman itu ucapan dengan lidah dan tahu dengan hati serta perbuatan dengan anggota badan. Iman itu bertambah karena ibadah dan berkurang karena durhaka. Iman kuat karena ilmu dan lemah karena kebodohan. Dengan taufiklah iman ada. Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan Abu Darda’ ra. Mengatakan: “Iman itu bertambah dan berkurang. Tambahnya iman itu nyata setelah pasti melakukan perintah, menjauhi larangan, menyerah pada takdir,tidak menetang perbuatan yang dilakukan Allah, tidak bimbang mengenai janji-Nya tentang rezeki, pasrah kepada-Nya, keluar dari daya dan upaya, sabar ketika tertimpa musibah, syukur terhadap nikmat, tasbih kepada Maha Benar, tidak mencurigai-Nya dalam segala keadaan. Kalau hanya sekedar shalat dan puasa, iman itu tidak bertambah”.

Imam Al Ghajali mengatakan: “Amal perbuatan itu bukan termasuk satuan iman dan rukunnya. Perbuatan itu tambahan atas iman dan membuat iman bertambah. Yang tambah itu ada dan kurang itu juga ada. Sesuatu itu tidak bertambah karena dirinya sendiri. Jangan sampai ada ucapan: “Manusia itu bertambah karena kepalanya”. Yang benar: “Manusia bertambah karena jenggot dan gemuk”. Jangan dikatakan: “Shalat itu bertambah ruku dan sujud”. Katakan: “Shalat itu bertambah karena etika dan sunat”.

Ini jelas dikatakan bahwa iman itu wujudnya. Kemudian setelah wujud iman berbeda-beda karena bertambah dan berkurang.

Nabi saw.bersabda:

“Iman itu ada dua bagian. Satu bagian tetap dalam kesabaran dan satu bagian dalam bersyukur”. (HR. Baihaqi dari Anas ra).

Yakni sabar untuk menjauhi larangan dan syukur melaksanakan perintah.

Nabi saw bersabda:

“Iman itu tali pembunuhan. Seorang mukmin jangan membunuh”. (HR. Bukhari, Abu Dawud, Hakim dari Abu Hurairah ra. Dan Ahmad dari Zubairndan Muawiyah ra).

Maksudnya iman itu mencegah pembunuhan dengan licik setelah seseorang memiliki jaminan keamanan. Tidak membunuh maksudnya jangan melakukan hal itu. Pembunuhan tidak dilakukan oleh orang yang sempurna imannya.

Nabi saw.bersabda:

“Allah menciptakan iman dan menghiasinya serta menyanjungnya dengan murah hati dan rasa malu. Dan Allah menciptakan kufur dan mencelananya dengan bakhil sera durhaka”.

Nabi saw bersabda;

“Jika penghuni surga masuk surga dan penghuni neraka masuk neraka, Allah Ta’ala memerintahkan untuk dikeluarkan dari neraka orang yang di hatinya ada seberat atom dari iman”.

Maksudnya ada tambahan dari sekedar tauhid sebagaimana dikatakan Qasthalani. Iman Bukhari meriwayatkan dari Abu Said Al Khudri ra, bahwa Nabi bersabda: “Penghuni suga masuk surga dan penghuni neraka masuk neraka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman (yakni kepada malaikat): “Keluarkan (yakni dari neraka) orang yang di hatinya ada seberat satu biji sawi dari iman. (Yakni ada tambahan dari sekadar tauhid). Maka mereka dikeluarkan dari neraka dalam keadaan sudah hitam, lalu mereka dilemparkan ke sungai hujan atau sungai kehidupan. Kemudian mereka tumbuh seperti tumbuhnya sayur yang terkumpul di dekat banjir”.

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler
loading...