Keutamaan Shalawat atas Nabi Saw
26 Juli 2013 - dibaca : 4.379 kali

Keutamaan Shalawat atas Nabi Saw

Sebagian shahabat bertanya kepada Nabi Saw : “Allah shalawat sepuluh kali untuk orang yang shalawat atas engkau sekali. Apakah hal itu bagi orang yang hatinya hadir?” Nabi menjawab : “tidak. Sebaliknya hal itu bagi setiap orang lupa yang shalawat atas aku. Dan Allah memberikan kepadanya seperti gunung-gunung. Dan para malaikat berdo’a untuknya dan meminta ampun untuknya. Adapun jika dia hadir hatinya pada waktu shalawat atas aku, maka hanya Allah yang tahu kira-kiranya”.

Nabi Saw bersabda : “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah bershalawat sepuluh kali untuk untuk dia”. (Hr. Muslim, Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah ra)

Dalam shahih muslim diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin Ash ra mendengar Nabi Saw. Bersabda : “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, maka sebagai gantinya Allah bershalawat sepuluh kali kepadanya”.

Demikiian dituturkan Nawawi dalam Al-Adzkar. Maksudnya jika bertambah, maka ditambah berdasarkan perbandingan tersebut.

Nabi Saw bersabda : “Barangsiapa bershalawat kepada ku seribu kali, maka dia tidak mati sebelum digembirakan dengan surga”.

Dalam sebagian riwayat disebutkan : “Barangsiapa bershalawat kepadaku seribu kali, maka dia diberi kabar gembira surga sebelum kematiannya”.

Nabi Saw bersabda : “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka karenanya Allah bershalawat sepuluh kali kepadanya. Dan barangsiapa bershalawat kepadaku sepuluh kali, maka karenanya Allah bershalawat seratus kali baginya. Dan barangsiapa bershalawat kepadaku seratus kali, maka karena Allah bershalawat seribu kali kepadanya. Dan barangsiapa bershalawat seribu kali kepadaku. Maka dia tidak tersentuh api neraka”.

Yakni api neraka jahanam. Dalam satu riwayat disebutkan : “Maka Allah tidak menyiksa dia dengan api”.

Dalam riwayat Thabrani disebutkan, bahwa nabi bersabda : “Barangsiapa bershalawat sekali kepadaku, maka Allah bershalawat sepuluh kali kepadanya. Barangsiapa bershalawat sepuluh kali kepadaku, maka Allah bershalawat seratus kali kepadanya. Barangsiapa bershalawat seratus kali kepadaku, maka Allah baginya menulis kebebasan dari kemunafikan dan kebebasan dari neraka serta menempatkannya pada hari kiamat beserta syuhada”.

Nabi saw.bersabda:

“Barangsiapa lupa bershalawat kepadaku. Maka dia sungguh lupa jalan surga”.

Maksud Nabi lupa adalah tidak membaca shalawat dengan sengaja. Jika yang tidak bershalawat lupa jalan surga, maka yang bershalawat itu melalui jalan surga. Abu Hurairah ra berkata: “Bershalawat kepada Nabi itulah jalan ke surga”. Demikian penjelasan Samlawi.

Nabi saw. Bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling berhak terhadapku di hari kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku dari mereka”. (HR. Bukhari dan Ibnu Hibban dari Ibnu Mas’ud ra.).

Yakni orang yang paling dekat denganku dan paling berhak memperoleh syafa’atku adalah orang paling banyak membaca shalawat kepadaku di dunia. Sebab banyak membaca shalawat atas Nabi itu menunjukkan dia benar-benar mencintai beliau dan hubungannya sempurna dengan beliau. Terpautnya kedudukan manusia di akhirat dari Nabi itu tergantung terpautnya mereka dalam hal tersebut. Sanad hadits di atas shahih.

Nabi saw.bersabda:

“Shalawat kalian kepadaku itu penghancur”.

Yakni penghancur dosa-dosa kalian seperti air memadamkan api. Sebagaimana dikatakan Abu Bakar ra: “Shalawat kepada Nabi saw.itu lebih menghancurkan dosa daripada air terhadap papan yang hitam”.

Nabi saw .bersabda:

“Barangsiapa membaca shalawat kepadaku pada malam jum’at selama empat puluh kali maka Allah menghapus dosa-dosanya semuanya.”

Abdul Aziz bin Shuhaib meriwayatkan bahwa Anas bin Malik ra.mengatakan : “aku pernah berdiri di hadapan Nabi, lalu beliau bersabda: “Barangsiapa membaca shalawat kepadaku pada setiap jum’at sebanyak delapan puluh kali, maka Allah Ta’ala mengampuni untuknya dosa delapan puluh tahun” Aku bertanya: “Wahai Nabi, bagaimana shalawat kepadamu?” Nabi menjawab: “Ucapkan: “Allahumma Shalli al Muhammadin abdika warasulika nabiyyil ummiyyi”. Dan kamu bilang satu.”

Penjelasan tersebut disampaikan oleh Syaikh Abdul Qadir Al Jilani.

Nabi saw.bersabda:

“tak seorangpun hamba yang berdoa, kecuali antara dia dan langit ada penghalang, sampai dia membaca shalawat kepadaku. Jika dia membaca shalawat kepadaku, maka penghalang itu bedah dan do’anya diangkat “.

Nabi saw bersabda:

“siapa membaca shalawat kepadaku dalam sehari seratus kali, maka Allah melaksanakan seratus hajat untuk dia. Tujuh puluh di antaranya untuk akhiratnya dan tiga puluh di antaranya untuk dunianya”. (HR. Ibnu Najar dari Jabir ra).

Nabi bersabda:

“Siapa membaca shalawat kepadaku sekali, maka Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepadanya dua puluh kali dan tidak mati sampai diberi kabar gembira surga”.

Abdullah bin Umar bin Ash ra mengatakan: “Siapa membaca shalawat kepada Nabi saw.sekali, maka Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepadanya tujuh puluh kali. Silakan seseorang memilih sedikit atau banyak dalam hal ini”. Hal ini di riwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad hasan mauquf.

Dalam sebuah riwayat Nabi .bersabda: “Jibril as datang kepadaku dan berkata kepadaku: “Hai utusan Allah, tak seorangpun membaca shalawat kepadamu, kecuali tujuh puluh malaikat bershalawat kepadanya”.

Juga disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa Nabi bersabda: “Siapa membaca shalawat kepadaku. Para malaikat shalawat kepadanya. Barangsiapa para malaikat bershalawat kepadanya, Allah shalawat kepadanya. Siapa Allah shalawat kepadanya, maka tak ada sesuatu di langit maupun di bumi, kecuali shalawat kepadanya”.

Sebagian ulama tasawuf bercerita: “Aku memiliki seorang tetangga yang kelewatan. Dia tidak tahu mana siang dan mana sore karena bergelimang dalam mabuk. Aku sudah menasehatinya, namun tidak mempan. Aku sudah pernah menyuruhnya bertaubat, namun dia tidak mau. Ketika mati, aku bermimpi melihat dia berada di kedudukan tertinggi. Dia memakai pakaian hijau suga, pakaian kebesaran dan keagungan. Aku bertanya kepada dia: “Dengan apa kamu mencapai kedudukan ini?” Dia menjawab: “Suatu hari aku mendatangi majlis seorang ulama. Aku mendengar ulama itu mengatakan: “Siapa mengucapkan shalawat kepada Nabi saw.dan mengeraskan suranya, dia pasti masuk surga”. Dia lalu mengeraskan suara membaca shalawat kepada Nabi. Aku mengeraskan suara dan hadirin juga mengeraskan suara. Maka kami semua hari itu diampuni. Dari rahmat dan ampunan aku mendapat bagian, yaitu Allah menganugerahkan nikmat ini”.

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler