Mohon Maaf atas tidak tercantumnya semua sumber dari konten yang ada di website ini.. Terima Kasih kepada semua yang telah menyadur dan mencantumkan referensi dari website ini, semoga bermanfaat untuk semua.
Mutiara Al-Hikam
26 Juli 2013 - dibaca : 8.784 kali

Mutiara Al-Hikam

Kaedah 1

Jangan sampai dirimu ragu tentang janji Allah sekalipun janji itu belum terlaksana atau sudah tiba masanya, agar keraguan hatimu itu tidak menyalahi pandangan mata hatimu, atau memadamkan cahaya hatimu.

 Hamba Allah tidak akan mengetahui kapan Allah menurunkan rahmatNya, bilamana manusia menduga ada tanda-tanda bahwa karunia Allah akan turun, padahal menurut ilmuNya Allah belum memenuhi syarat untuk menurunkan rahmat sesuai yang dikehendaki, sehingga dugaan itu meleset, maka hal itu sebaiknya tidak meragukan keyakinan terhadap janji Allah.

Alkisah dalam sulhul Hudaibiyah : ketika Rasulullah saw. menceritakan impiannya kepada para sahabat, yang membuat para shahabat yakin pada tahun ini bisa memasuki kota Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji (umrah) dengan aman. Namun kenyataannya impian itu tidak terlaksana pada tahun ini karena tidak disetujui oleh kaum Quraisy, lalu terjadilah perjanjian Hudaibiyah. Peristiwa ini tentu membuat kecewa para shabat. Kemudian Umar ra. Mengajukan beberapa pertanyaan kepada Rasulullah saw. kemudian dijawab oleh beliau saw : “Aku adalah hamba Allah sekaligus Rasul-Nya, Allah tidak mungkin mengecewakan aku.”

kemudian Allah ta'ala berfirman :

“Sehingga berkata rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : “Apabilakah tibanya pertolongan Allah, ingatlah bahwa pertolongan Allah hampir akan tiba.” (QS. 2 :214).

 

Kaedah 2

Ketika tuhan Allah membukakan pintu untukmu jalan menuju ma'rifat, maka jangan lagi kamu memperdulikan amal-mu yang sedikit, karena Allah sudah tidak membukakan lagi untukmu, melainkan Allah akan memperkenalkan diri dzat-Nya kepadamu. Tidakkah kau tahu bahwa ma'rifatnya merupakan karunia Allah untukmu! Sedangkan amal perbuatan hanyalah hadiah untukmu, dan tidakkah sudah jelas perbandingan antara karunia dan hadiah Allah kepadamu!

Ma'rifat adalah mengenal Allah dari segi Af'al maupun sifat secara batiniah, dimana ma'rifat merupakan keuntungan klimak bagi hamba-hamba-Nya. Bilamana Allah hendak membuka pintu kema'rifatan kepada hamba-Nya, hambapun tidak perlu merisaukan tentang awal perbuatannya sekalipun hanya sedikit, karena karunia merupakan pemberian yang sifatnya langsung tanpa ditentukan oleh awal perbuatan (kebaikan) banyak dan sedikitnya.

Ada riwayat melalui Abu Hurairah r.a katanya Rasulullah saw bersabda menyampaikan firman-Nya :

“Bilamana Aku menguji hamba-Ku yang beriman, lalu ia tidak mengeluh kepada pengunjung-pengunjung (bentuk ujian itu), maka Aku akan melepaskan ia dari ikatan-Ku dan Aku gantikan dia dengan daging dan darah yang lebih baik dari sebelumnya, ia pun boleh memperbarui amal perbuatannya karena semua yang lalu mudah diampuni.”

ada riwayat lain : dinyatakan Allah menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabinya :

“Aku telah menurunkan ujian kepada salah seorang hamba, kemudian hamba itu berdoa, sementara Aku pun menunda permintaannya, hamba itu mengeluh, dan Aku berkata kepadanya (nabinya tadi yang mengeluh : 'Wahai hambaKu...,bagaimana Aku akan menurunkan rahmat kepadamu yang didalamnya mengandung unsur cobaan? Ketahuilah manusia lantaran kebaikannya tidak mungkin mampu mencapai satu tingkat yang Aku berikan kepadamu, hanya lantaran ujian cobaan itulah engkau akan mencapai tingkatan dan kedudukan disisi-Ku.”

 

Kaedah 3

banyak ragam amal perbuatan, menandakan banyak juga macam-macam karunia pemberian Allah kepada hamba-Nya.

Setiap orang sholeh dalam suluknya ingan mencapai satu tingkat diatasnya yang lebih tinggi, maka dia harus mengenal media peribadatan mana yang lebih mampu dirasakan nikmatnya oleh dirinya sendiri. Karena dengan jenis ibadah shalat, puasa dan lain-lain.

 

Kaedah 4

Amalan lahiriah ibadah merupakan kerangka, dan ruhnya ialah keikhlasan hatinya melakukan amal ibadah.

Kapasitas ikhlas bertingkat-tingkat sesuai dengan kedudukan tingkatannya. Keikhlasan abror misalnya bilamana amal perbuatan itu sudah bersih dari perasaan riya' yang nyata atau riya' yang samar. Amal perbuatan tingkatan abror, mereka mengharapkan pahala sesuai yang dijanjikan Allah ta'ala. Misal ayat : “Iyyaakana'bu..” hanya kepada-Mu lah kami menyembah artinya kami tidak akan mempersekutukan Engkau dalam setiap peribadatan kami.

Tingkatan keikhlasan orang-orang “Muqarrabin” ialah keikhlasan menerapkan pengertian “Laa haula walaa quwwata illa billah” tiada daya dan kekuatan yang bisa mengalahkan kecuali lantaran daya dan kekuatan Allah. Manusia tidak memiliki kekuatan sendiri kecuali dari kekuatan Allah. Dia tidak akan mampu beribadah, kecuali atas sokongan karunia berupa bantuan dan pertolongan Allah, tanpa itu manusia tidak akan ringan berbuat baik.

Adalah ayat (S. Al-Fatihah) : “Iyyaaka nasta'iin,” hanya kepada-Mu kami mengharapkan pertolongan, karena kami tidak memiliki kekuatan untuk itu.

Amal perbuatan tingkatan “Abror”, disebut amal lilllah (karena Allah) dan amal perbuatan tingkatan “Muqarrabin” dinamakan amal billah yakni beramal karena ada bantuan karunia Allah. Amal lillah hanya memperhatikan hukum lahiriah (syareat), sedangkan amal billah menembus sampai ke relung perasaan hati, disana ada Allah dan bersama Allah.

Dengan demikian perbaikilah keikhlasan amal perbuatanmu dengan suatu perasaan bahwa diri ini tidak memiliki kekuatan apa-apa, dimana setiap apa yang dilakukan (dalam kebaikan) semata-mata atas karunia Allah ta'ala.

 

Kaedah 5

“Tanam dirimu didalam bumi yang rendah, sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam, dia tidak akan menghasilkan buah yang sempurna.”

Bahaya sekali orang yang beramal hanya menginginkan kedudukan di masyarakat dan terkenal di masyarakat. Tujuan amal ibadah seperti itu tidak lain atas dorongan hawa nafsu.

Rasulullah saw. bersabda :

“Barangsiapa yang merendahkan diri, Allah akan memuliakan, dan barangsiapa yang menyombongkan diri Allah akan merendahkan.”

Ibrahim bin Adham ra. Berkata : “Tentu tidak benar tujuannya kepada Allah orang-orang yang ingin terkenal.”

Ayyub Asy-Akhtiyah ra. Berkata : “Demi Allah, tidaklah seorang hamba disebut sungguh-sungguh benar beribadah, melainkan ia pasti merasa puas, senang jika tidak mengetahui kedudukannya sendiri.”

dalam satu riwayat Muadz bin Jabal ra bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya riya' yang sedikit sudah termasuk syirik. Barangsiapa yang memusuhi Waliyullah (Kekasih Allah) sama dengan menantang perang dengan Allah. Allah maha kasih dan sayang terhadap hamba-Nya yang bertakwa, hamba yang tidak dikenal, dimana orang itu tidak ada tidak dicari, bilamana ada tidak dipanggil atau tidak dikenal. Hati orang seperti ini laksana pelita hidayah, mereka orang-orang yang tidak pernah merasa kesulitan.”

ada satu riwayat melalui Abu Hurairah ra. Dia bercerita :

Pada suatu hari kami berada di Majelis bersama Rasulullah saw. tiba-tiba Rasulullah saw. berkata : “besok pagi ada ahli surga yang ikut shalat bersama kalian”. Abu Hurairah ra. Berkata : “Aku berharap semoga akulah orang yang dimaksud Rasulullah SAW.”

pagi-pagi kemudian aku (Abu Hurairah ra.) shalat tepat dibelakang Rasulullah saw. dan aku tetap duduk dimajelis ketika orang-orang sudah pulang. Saat itulah tiba-tiba datang orang yang berkulit hitam, berpakaian buruk compang-camping datang dan langsung berjabatan tangan bersama Rasulullah saw. sambil berkata : “Ya Nabiyallah..., doakanlah aku agar aku mati syahid.”

kemudian Rasulullah saw. berdoa.., sementara kami mencium bau kasturi dari badan si hitam tadi. Lalu aku bertanya kepada Rasulullah saw. : “Apakah orang ini, Ya Rasulullah saw.” kata Abu Hurairah ra. : “mengapa engkau tidak membelinya dan memerdekakannya?” Rasulullah saw. menjawab : “Bagaimana bisa aku berbuat demikian kalau Allah menghendaki dia menjadi Raja di surga.

Wahai Abu Hurairah,,, Sesungguhnya didalam surga ada raja dan orang-orang yang terkenal, dan budak ini kelak menjadi raja yang terkenal.

Wahai Abu Hurairah.. sesungguhnya Allah sangat sayang kepada hamba yang suci hatinya, yang tidak terkenal, bersih, rambutnya terurai, perutnya kempis, hanya diisi dari yang halal, bilamana masuk ke istana raja tidak diizinkan, bila menyunting putri bangsawan tidak diterima, bila tidak ada tidak dicari, bila ada tidak dipanggil, bila sakit tidak dijenguk, dan bahkan bila mati tidak dihadiri jenazahnya.”

para shahabat ada yang bertanya “Tunjukkan kepada kami salah seorang dari mereka “.

Rasulullah Saw. menjawab : “Dia bernama Uwais Al Qaroni, kulitnya hitam coklat, kedua bahunya lebar, sedikit tinggi dan selalu menundukkan kepalanya untuk membaca Al-Quran, ia tidak dikenal di bumi, tapi sangat terkenal di langit, andaikan ia bersungguh-sungguh minta sesuatu kepada Allah pasti dikabulkan. Di bahu kirinya ada belang sedikit. Wahai Umar dan Ali..., bila kalian bertemu dengannya, mintalah kepadanya agar membacakan istighfar untukmu.”

 

Kaedah 6

“Tidak ada sesuatu yang bermanfaat untuk jiwa yang sepadan dengan menyendiri (Uzlah) untuk melakukan tafakkur (berpikir)”.

Rasulullah saw. pernah bersabda demikian :

“Perumpamaan teman yang tidak baik laksana tukang besi, yang membakar besinya, bila engkau tidak terbakar dipercikan apinya, maka engkau akan terkena bau busuknya.”

Sekalipun engkau tidak ikut terseret menjadi jelek, engkau kena sebutan teman penjahat itu.

Allah mewahyukan kepada Nabi Musa As. “ Wahai putranya Imran.. waspadalah, serta pilihlah siapa yang menjadi temanmu, bilamana teman tidak membantumu untuk lebih taat kepada Allah, maka dia musuhmu.”
Juga ada wahyu dari-Nya untuk Nabi Dawud as. “ Wahai Nabi Dawud.. mengapa engkau menyendiri”.

Dawud as. Menjawab : “Aku menjauhkan diri dari makhluk untuk mendekatkan diri kepada-Mu”. Kemudian Allah ta'ala berfirman : “Wahai Dawud.., Kamu harus waspada dan pilihlah teman-temanmu, dan setiap kawan (idealnya) bisa membantumu untuk semakin taat kepadaKu. Setiap kawan yang tidak membantumu untuk taat, dia adalah musuhmu, dia akan menyebabkan kerasnya hatimu serta semakin jauh dari Ku.”

Rasulullah saw. bersabda : “Yang aku khawatirkan menimpa umatku ialah lemahnya iman dan keyakinan.”

Nabi Isa Al-Masih berwasiat, “Berbahagialah orang-orang yang perkataannya adalah dzikir, diamnya adalah berpikir, dan pandangan matanya adalah perhatian. Sesungguhnya orang yang sempurna akalnya ialah orang yang selalu mengoreksi dirinya, dan selalu mempersiapkan diri beramal untuk persiapan menghadapi hari Akherar.”

Sahl bin Abdullah Ats-Tsauri ra. Berkata : “Kebaikan tegak atas empat sendi, diatas empat sendi itulah seseorang bisa mencapai derajat wali : 1. Lapar 2. Diam 3. Menyendiri dan 4. Bangun malam untuk tahajud.” tentu dengan sudah memperbaiki kewajiban-kewajibannya.

 

Kaedah 7

Bagaimana mungkin hati seeorang terang benderang kalau dalam hatinya terlukis gambaran dunia, atau bagaimana mungkin seseorang berjalan menuju Allah kalau dirinya masih terikat dengan hawa nafsu, atau bagaimana mungin ia masuk ke hadirat Allah kalau dirinya belum bersih dari kelalaiannya seperti junub, atau bagaiman mungkin ia mengharapkan rahasia yang halus kalau ia belum tobat dari kesalahan.

Berkumpulnya dua hal berlawanan tidak mungkin dalam satu tempat, sebagaimana tidak mungkinnya berkumpul antara diam dan bergerak, antara cahaya dan gelap, demikian juga antara cahaya iman dengan kegelapan dosa-dosa karena menyandarkan sesuatu selain Allah. Orang yang berjalan menuju Allah harus lepas dari ikatan belenggu hawa nafsu.

Firman-Nya : “Bertaqwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajar kamu segala hajat kebutuhanmu.”

Sabda Rasulullah saw :

“Barangsiapa yang mengamalkan sesuatu yang sudah diketahui (misal mengetahui masalah puasa kemudian mengamalkan), maka Allah akan mengajarkan kepadanya pengetahuan yang belum diketahui.”

Pernah Ahmad bin Hambal bertemu dengan Ahmad bin Abil Hawari, kemudian Ahmad bin Hambal bertanya, “Ceritakanlah sesuatu kepadaku mengenai sesuatu yang engkau tahu dari gurumu Abu Sulaiman.”

Ahmad bin Abil Hawari menjawab “Bacalah lafadz Subhaanalaah” dengan tanpa rasa kekaguman. Kemudian Ahmad bin Hambal mengucapkan lafadz itu, “Subhaanallaah..! kemudian Ahmad bin Abil Hawati berkata : “Aku telah mendengar Abu Sulaiman berkata : “Bilamana hati manusia benar-benar berjanji akan meninggalkan semua dosa pasti ada kemampuan untuk terbang ke alam malakut, lalu dia kembali dengan membaca macam-macam ilmu hikmat tanpa butuh seorang guru lagi.. “

setelah mendengar wasiat ini Ahmad bin Hambal langsung bangkit berdiri, kemudian duduk, berdiri, sampai tiga kali, kemudian Ahmad bin Hambal berkata : “Sejak aku masuk Islam aku belum pernah mendengar nasehat seperti ini.”

Sungguh Ahmad bin Hambal puas menerima wasiat itu, lalu beliau langsung membaca hadits Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang sudah diketahuinya, maka Allah akan mewariskan ilmu pengetahuan yang belum diketahuinya.”

 

Kaedah 8

“Hakekatnya alam berupa kegelapan-kegelapan, dan yang meneranginya hanya dengan cahaya Al-Haq (Allah), barangsiapa yang mampu melihat alam kemudian tidak melihat Allah didalamnya, di alam itu sebelumnya atau sesudahnya, maka sungguh ia telah disilaukan oleh cahaya, dan baginya tertutup cahaya kema'rifatan oleh tebalnya benda-benda alam ini.”

pada dasarnya alam ini gelap tidak kelihatan, kemudian yang membuat kelihatannya alam ini menjadi nyata hanya karena kekuasaan Allah. Maka barangsiapa yang melihat wujud alam ini dengan jelas (tidak buta), kemudian tidak melihat adanya kebesaran kekuasaan Allah didalam alam, berarti ia sudah disilaukan oleh cahaya lain, bisa jadi cahaya gemerlap lukisan dunia yang menipu hati dan pikirannya.

 

Kaedah 9

Sebagian sesuatu yang membuktikan kekuasaan Allah yang luar biasa ialah adanya hijab penghalang antara engkau dan Allah, yang terhalang oleh hijab yang tidak ada wujudnya di sisi Allah.

Para hukama sepakat, “Segala sesuatu selain Allah sebenarnya tidak ada, artinya adanya sesuatu itu tidak bisa disamakan dengan adanya Allah sebagaimana adanya bayangan selalu mengikuti adanya suatu benda yang membayangi. Dan kenyataan yang ada manusia melihat bayangan, sementara tidak mampu melihat benda yang membayangi (menyebabkan adanya bayangan) tentu orang itu terhijab. Firman-Nya : “Segala sesuatu bisa rusak kecuali Dzat Allah.”

Pernah Rasulullah saw. membenarkan perkataan seorang pujangga, “Pikirkanlah.. Segala sesuatu selain Allah hanya palsu belaka.”

 

Kaedah 10

“Bagaimana mungkin bisa digambarkan bahwa Allah terhijab oleh sesuatu, padahal segala sesuatu itu tidak akan terwujud bila tidak ada wujudnya Allah.”

Itulah adanya sifat-sifat Allah yang bisa dilihat dan dinyatakan didalam segala sesuatu dialam ini, dimana segala alam yang terwujud ini merupakan bukti wujudnya Allah Ta’ala. Dimana Allah tidak akan menyerupai wujud sesuatu yang ada dimakhluk-makhlukNya, maka bila ada manusia yang tidak mengenal wujud Allah dialam ini, tentu manusia itu sudah silau (kena silau) dari wujud lain dialam ini, sehingga daya sinar kema’rifatannya buram tidak membekas dalam hatinya.

 

Kaedah 11

“Alangkah ajaibnya.. bagaimana bisa kelihatan suatu wujud dialam yang tidak ada! Atau bagaimana bisa bertahan barang baru (makhluk) bersama Dzat, dimana Dzat itu sudah bersifat Adam (sejak dulu sudah ada)!”

Maksudnya sesuatu yang hakekatnya tidak ada, bagaimana mungkin bisa terlihat wujudnya. Sesuatu yang hakekatnya tidak ada, tentu hanya gelap. Dan sesuatu yang hakekatnya ada, wujudnya terang bagaikan nur. Hal ini sama antara yang batil dan yang haq, yang batil tentu hancur dan yang haq pasti bisa bertahan kuat.

 

Kaedah 12

“Tidak tersisa sedikitpun kebodohan seseorang yang menghendaki sesuatu dalam suatu masa, dimana dalam masa itu sedikitpun Allah tidak menghendaki terlihatnya sesuatu itu”

Sangat bodoh sekali orang yang menghendaki sesuatu yang tidak dikehendaki Allah Ta’ala. Dibagian lain ada ibarat begini : “Tidak ada sesuatu yang berjalan kecuali sesuatu itu pasti ada takdir Allah yang terlaksana. Sebagaimana firman-Nya :

“Pada setiap harinya Allah sudah menentukan urusan.”

Ialah menciptakan, menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghinakan, dan lain-lain. Melihat kondisi takdir seperti ini seharusnya sosok manusia berpasrah diri dengan rela terhadap hukum ketentuan Allah ta’ala pada setiap waktu, karenanya manusia harus percaya kepada rahmat dan kebijaksanaan Allah ta’ala.

 

Kaedah 13

Menunda-nunda amal hanya karena menanti kesempatan yang baik, adalah suatu pertanda suatu kebodohan yang sudah menyatu dengan jiwa.

Kebodohan disebabkan beberapa sebab 1). Terlalu mengutamakan kepentingan dunia, padahal Allah ta’ala sudah berfirman : “Justru kamu mengutamakan kepastian duniamu, padahal akherat lebih baik dan sifatnya kekal selamanya. 2). Menunda-nunda amal kebaikan, padahal logikanya ia tidak tahu apakah dengan menundanya memperoleh kesempatan baik, atau dengan menundanya sama dengan menanti masa kematiannya yang sebelumnya sudah dinanti, 3). Sebab-sebab kebodohan, bisa jadi karena tidak memiliki keinginan, niat, hasrat semunya lemah tidak berpotensi. Kata seorang pujangga demikian :

“Janganlah menunda sampai besok apa-apa yang bisa kau kerjakan hari ini.”

Atau kaidah lain : “Waktu sangat berharga, maka janganlah engkau habiskan untuk sesuatu yang tidak berharga.”

 

Kaedah 14

“Kamu jangan meminta kepada Allah agar kamu dipindahkan dari suatu hal ke hal yang lain (berdoa), andaikan Allah menghendakinya (seperti yang anda inginkan) tentu Allah sudah memindahkanmu tanpa merubah keadaanmu yang lama.”

Hikayat : Ada orang sholeh yang bekerja mencari makanan, sekaligus tekun beribadah. Pada suatu hari ia berangan-angan dan berkata :”Andaikan penghasilanku setiap harinya cukup untuk membeli dua potong roti, pasti aku tidak susah-susah bekerja dan bisa mengkonsentrasikan penuh untuk beribadah.”

Tiba-tiba atas kehendak Allah ia tertuduh sesuatu yang menyebabkan masuk penjara. Didalam penjara setiap harinya memperoleh jatah dua potong roti. Sekian lama ia menderita dalam penjara. Tiba-tiba ia berpikir : “Bagaimana mungkin ini terjadi?”. Tiba-tiba dalam perasaannya teringat perasaan di masa lalu : “Engkau meminta dua potong roti, engkau tidak minta selamat, maka Kami (Allah) mengabulkan permintaanmu.”

Setelah kejadian itu si sholeh minta ampun beristighfar kepada Allah ta’ala. Saat itu juga pintu penjara terbuka dan si sholeh bebas dari penjara.

Apa arti kisah ini ? Sesungguhnya Allah menciptakan manusia sekaligus Allah pun menciptakan kebutuhan-kebutuhan manusia (dari lahir sampai mati sudah dipersiapkan), sehingga seharusnya manusia tidak usah khawatir dan jemu memikirkan kebutuhannya yang macam-macam, juga tidak usah jenuh dengan model pemberian Allah saat ini, karena hakekatnya merupakan nikmat yang luar biasa untuk orang-orang yang mengetahui hakekat dari suatu ujian, karena dari sanalah Allah memberikan karunia dan pemberian-Nya yang besar.

 

Kaedah 15

“Tidak sedikitpun kendor semangat seorang salik (orang yang berjalan menuju Allah, medianya disebut suluk) untuk berhenti ketika si salik mengetahui terbukanya bagian kegaiban, kecuali akan segera diberi peringatan tentang hakekatnya. Bukan itu tujuanmu, teruslah berjalan ke depan! Ketika seorang salik menemui beberapa keindahan alam (dunia), kecuali dia memperoleh peringatan apa hakekat keindahan itu, keindahan itu seolah-olah berkata : “Kami semata-mata ujian, maka janganlah tertipu dan menjadi kufur karena keindahan. Syekh Abul Hasan Ats-Tsustari berkata, “Dalam perjalanan salik menuju kepada Allah Ta'ala janganlah menoleh kepada yang lain, dan gunakanlah dalam suluk tiu untuk dzikir kepada Allah sebagai benteng pertahananmu, karena segala sesuatu selain Allah tentu akan menghambat perjalanan sulukmu kepada Allah.” Syekh Abul Hasan (Ali Asy Adzalli ra. Pernah berwasiat : “Bilamana kamu ingin memperoleh sesuatu yang pernah dicapai para waliyullah, maka sebaiknya engkau tidak menghiraukan kepada manusia, kecuali memperhatikan orang-orang yang menunjukkan jalan kepada Allah, dengan metode yang tepat tanpa menyalahi kitab Allah dan sunnah Rasul. Jangan hiraukan dunia, jangan pula menghiraukan sebagian dunia dengan tujuan menghiraukan yang lain. Dan sebaliknya, sebaiknya engkau menjadi seorang hamba yang diperintah mengabaikan musuh-musuh Allah. Bilamana kamu sudah memiliki dua sifat ini, yakni mengabaikan manusia sekaligus dunia, sejauh itu kamu harus tetap tunduk terhadap aturan Allah dengan istiqomah dan beristighfar pada-Nya.” maksudnya : Agar engkau tetap terkonstruksi sebagai seorang hamba, merasa sebagai hamba Allah apapun yang engkau kerjakan, yang engkau tinggalkan, serta menjaga perasaan hati agar selalu murni kepada Allah, serta tidak meyakini ada kekuatan lain di alam ini selain kekuatan Allah ta'ala. Kembali pada lafadz :”Laa haula walaa quwwata illa billah”. Bilamana dalam sosok kehambaan manusia masih merasa memiliki kekuatan dan kemampuan lain dalam dirinya, artinya orang itu belum sempurna pengakuannya sebagai hamba Allah, sebaliknya kekuatan lafadz “laa haula walla quwwata illa billah” benar-benar menancap dalam dirinya, maka Allah akan membukakan pintu-pintu rahasia yang belum pernah didengar dari manusia lain diseluruh jagad ini.

 

Kaedah 16

“Permintaanmu kepada Allah seolah-olah mengandung pengertian menuduh kepada Allah, khawatir Allah tidak menjatah untukmu, (idealnya) permintaan doamu kepada Allah semata-mata upaya mendekatkan diri kepada-Nya, sebagai terjemahan bahwa engkau masih jauh dari Allah.” Doa permintaanmu kepada Allah dengan tujuan untuk mencapai dunia akherat dalam hal kedudukan, adalah sebagai pertanda kamu tidak punya malu kepada Allah. Dan permintaanmu kepada selain Allah, menunjukkan kamu amat sangat jauh dari Allah. Permintaan kepada Allah terbagi menjadi empat macam, namun ke 4 macam itu bila diteliti lebih jauh dan detail, ternyata empat macam itu belum tepat. Tidak tepatnya, permintaan kepada Allah sama dengan menuduh, andaikan ia yakin kepada Allah, Dia akan memberi (Dzat yang maha memberi) pasti tidak akan meminta. Permintaan seperti itu tanpa dasar keimanan seolah-olah dia khawatir tidak diberi sesuai dengan permintaannya, atau menyangka Allah lupa dengan permintaannya lebih jahat lagi, seolah-olah ia sudah berhak dengan yang diminta, sementara Allah belum juga memberikan. Itu yang pertama, kemudian yang kedua : permintaan doamu untuk taqarrub (upaya pendekatan), ini menunjukkan seolah-olah engkau jauh dan tidak mengenal Allah. Ketiga : permintaanmu dibidang kepentingan duniawi, menunjukkan bahwa engkau tidak memiliki rasa malu kepada Allah, karena andaikan engkau punya malu, engkau sebenarnya tidak memiliki kepentingan apapun kepada Allah selain hanya kepentingan mendekatkan diri kepada-Nya, macam keempat : permintaan doamu kepada sesuatu selain Allah, menunjukkan engkau sangat jauh dari Allah, karena bila engkau merasa dekat dengan-Nya engkau tidak perlu lagi meminta kepada-Nya. Dan yang benar adalah meminta kepada Allah semata-mata mengikuti perintahNya, “berdoa” kepada Allah.

 

Kaedah 17

“Tiada nafas yang sudah lepas dari dirimu, kecuali didalam nafas itu mengandung nilai takdir Allah yang berlaku, untukmu.” pada setiap hentakan nafas selalu terjadi amaliah taat dan maksiat kepada-Nya, nikmat maupun ujian. Artinya setiap nafas yang keluar merupakan media bagi suatu kejadian, maka darinya jangan sampai setiap nafas terpakai untuk maksiat atau perbuatan yang dikutuk Allah ta'ala.

 

Kaedah 18

“Engkau jangan terbiasa menanti selesainya halangan (cobaan) untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Jika demikian engkau sama dengan memutuskan kewajiban, yang sebenarnya (kewajiban itu) upaya Allah mendudukkan engkau didalamnya. Abdullah bin Umar ra. Pernah berkata : “Bilamana kamu berada di waktu sore, janganlah engkau menanti datangnya pagi. Bilamana engkau berada di waktu pagi, jangan lah engkau menanti sampai datangnya sore. Pergunakan kesempatan diwaktu mudamu, sehatmu, kayamu, kuatmu untuk menghadapi masa tua, sakit, sakit, lemah dan miskinmu. Sahl bin Abdullah At-Tustari berkata : “Jika sudah tiba waktu malam, jangan mengharap tiba waktu siang sampai engkau menunda-nunda hak-hakmu kepada Allah dimalam hari. Jagalah hawa nafsumu diwaktu malam dan pagi hari”. Firman-Nya : “Kami akan mengujimu dengan kejahatan dan kebaikan sebagai ujian. Dan kepada kami kamu kembali.” (QS. Al-Anbiya : 35)

 

Kaedah 19

“Kamu jangan heran dengan kesulitan-kesulitan selama kamu masih di dunia ini, karena kesulitan tidak akan menyebabkan sesuatu terjadi kecuali yang asli dan yang benar atau sifat-sifatnya.” Abdullah bin Mas'ud ra. Berkata : “Dunia adalah tempat keresahan serta duka cita, bila ada kesenangan didalamnya itu adalah keuntungannya.” Ja'far Ash-Shiddiq ra berkata : “Barangsiapa yang meminta sesuatu yang tidak dijadikan Allah, artinya sama dengan menyusahkan dirinya pada sesuatu yang tidak diberi”. Ada yang bertanya : “Apa maksudnya?” Dia menjawab : “Kesenangan dunia”. Al-Junaid Baghdadi berkata : “Aku tidak merasa jijik dengan sesuatu yang menimpa diriku, karena aku berprinsip bahwa dunia ini tempat keresahan dan kesulitan, ujian, dimana alam dunia memang diselimuti oleh berbagai bencana. Tentu sangat logik dunia menyambut saya dengan kesulitan, bila ia menyambutnya dengan suka cita, itu artinya keuntungan bagiku”. Rasulullah saw. berwasiat kepada Abdullah bin Abbas ra : “Bilama engkau mampu mengerjakan amaliah dengan rela dan yakin, kerjakanlah amaliah itu! Jika tidak mampu, maka sabarlah, sesungguhnya sabar menghadapi kesulitan merupakan keuntungan yang besar.” Umar bin Khattab ra. Pernah memberikan nasehat kepada seseorang “bila engkau sabar, hukum Allah tetap berjalan dan kamu memperoleh pahala karena kesabaranmu. Bilama engkau tidak sabar, hukum ketentuan Allah pun tetap berlaku, sementara kamu memperoleh dosa.”

 

Kaedah 20

“Suatu permintaan tidak akan berhenti bila semata-mata engkau meminta hanya kepaa karunia tuhanmu, dan suatu permintaan tidk mudah tercapai bila permintaan engkau sandarkan (bukan kepada karunia, melainkan kepada) kekuatan dan daya upaya kepandaian dirimu.”

 

Kaedah 21

“Tanda-tanda seseorang berhasil diakhir perjuangannya ialah bertawakkal, dan berpasrah diri kepada Allah, awal mula perjuangannya.” Seorang hukama berkata “Barangsiapa yang memiliki dugaan bisa sampai kepada Allah menggunakan perantara sesuatu selain Allah, pasti itu tidak mungkin terjadi. Barangsiapa yang beribadah atas dasar kekuatan dirinya sendiri yang diberikan Allah, bisa jadi ibadahnya hanya sampai disitu saja. Dan ia tidak akan mencapai bagian-bagian yang bisa dicapai dengan tawakkal serta sandaran kepada Allah.

 

Kaedah 22

“Barangsiapa yang memperoleh penerang dalam taatnya di permulaan, maka ia pun memperoleh penerang di masa akhirnya dengan cahaya kema'rifatan” Permulaan ibadahnya sudah ditandai dengan tawakkal kepadaNya, tentu pada akhir ibadahnya memperoleh cahaya kema'rifatan.

 

Kaedah 23

“Segala hal yang tersembunyi dalam rahasia ghaib berupa nur ilahiyat, pasti akan terlihat pengaruhnya dianggota lahiriah”. Abu Hafsah berkata, “Ibadahnya sopan santun lahiriah menunjukkan indahnya sopan santun batiniahnya.” ketika Rasulullah saw. melihat ada seorang musholli bermain-main jarinya (tidak khusyuk), maka Rasulullah saw. bersabda : “Andaikan hati orang ini khusyuk, tentu khusyuk pula anggota badannya.” Abu Thalib Al-Makki berkata, “Allah sudah menunjukkan tanda bukti kekafiran seseorang, ketika disebut Asma Allah mereka mengejek dan tidak menerima”. Dalam firman-Nya : “Bilamana disebut Asma Allah saja, mereka cemas dan muak hati orang-orang yang tidak percaya kepada hari akherat, sebaliknya bila disebut nama-nama selain Asma Allah, mereka gembira..” (QS. Az-Zumar : 45) Ayat diatas Allah menunjukkan sendiri perbedaan antara jiwa orang-orang mukmin yang merasa puas bila dikatakan kepadanya, “Ini dari Allah..” dan orang kafir tidak senang, bahkan keberatan kalau dikatakan semua (kejadian semata-mata terjadi atas kekuasaan Allah. Ini juga yang membedakan ilmu tauhid dengan syirik.

 

Kaedah 24

“Sangat berbeda sekali orang yang berpedoman (dalil/hujjah) bahwa adanya Allah menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berpedoman “adanya alam menunjukkan adanya Allah.” Orang yang berpedoman “Adanya Allah menunjukkan adanya alam”, dia adalah orang yang mengenal hak yang diletakkan pada tempatnya, sehingga dia menetapkan sesuatu dari asal mula kejadiannya. Adapun orang yang berpedoman “adanya alam menunjukkan adanya Allah” menunjukkan latar belakang tidak sampainya dia kepada Allah. Bilamana Allah ghaib (tidak berwujud) maka dia memerlukan dalil untuk mengetahuinya. Dan bilama Allah itu jauh, maka dengan adanya alam ini bisa menyampaikan dia kepada-Nya. Firman-Nya : “Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengerti apa-apa, kemudian Allah memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan, serta pikiran, agar kamu mau bersyukur”. (QS. An-Nahl : 78) pada dasarnya asal kejadian manusia sangat bodoh tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberikan alat sebagai alat (akliah) untuk mengetahui, mengenal, mendengar, melihat, merasakan, dan berpikir, semua alat pengenal ini dengan harap manusia bisa bersyukur. Dengan bersyukur manusia bisa sejahtera hidupnya, bisa sempurna, karena dengan bersyukur dapat mengenal Tuhan Dzat yang menjadikan dan menjamin segala kebutuhan hidupnya.

 

Kaedah 25

“Sebaiknya orang kaya membelanjakan (sedekah) menurut kadar kekayaannya, mereka golongan orang-orang yang sampai kepada Allah. Dan sebaiknya orang yang terbatas rizkinya adalah orang yang sedang berjalan menuju Allah”. “Orang yang sampai kepada Allah” tandanya mereka lepas dari pengaruh sesuatu selain Allah menuju alam tauhid yang sangat luas sekali pandangannya sehingga orang-orang ini bisa berbuat sebebas-bebasnya. Sebaliknya, orang yang masih merangkak (kepada Allah) dengan ilmu dan kefahaman yang terbatas, maka mereka hanya lepas sekedarnya saja.

 

Kaedah 26

“Orang-orang yang berjalan menuju Allah (salik) memperoleh hidayah dengan nur ibadah, dengan melakukan suatu amalan untuk bertakarrub kepada Allah. Sedangkan orang-orang yang sudah sampai kepada Allah, mereka sudah tertarik dengan suatu nur langsung dari Allah bukan dari ibadahnya, melainkan semata-mata karunia Allah ta'ala, karena perbuatan mereka semata-mata karena Allah, tidak ada sesuatu pun bersamanya kecuali Allah, sebagaimana firman-Nya : “Katakanlah 'Allah'! Kemudian biarkanlah yang lain itu sebuk “bermain-main” Tauhid yang hakiki ialah bilamana yang bersangkutan tidak melihat pengaruh-pengaruh selain Allah semata, inilah yang dimaksud “Haqqul Yakin'. Bilamana masih merasakan atau melihat pengaruh dari yang lain selain Allah, tentu amaliahnya hanya permainan belaka, dia tertipu dan munafik. Katakanlah 'Allah' maksudnya jangan melihat atau menganggap ada sesuatu selain Allah, Dialah Dzat yang kau harapkan, berhak kau takuti, tiada sesuatu selain Dia, bila engkau mengharap selain kepada Allah namanya syirik, baik secara samar atau terang-terang, namanya syirik hampir tidak ada bedanya bila ditinjau dari hakikinya tauhid.

 

Kaedah 27

“Penelitianmu untuk mengetahui keaslian batinmu mengenal cacatmu, itu lebih baik dari usahamu membuka tirai rahasia keghaiban dari beberapa alam ghaib.” kata hukama : “jadilah seorang hamba yang selalu ada i'tikad istiqomah, dan jangan lah menjadi sosok hamba yang mengikuti naluri kekeramatan. Istiqomah berarti melaksanakan kewajiban, sedang melakukan sesuatu yang keramat berarti mencari kedudukan atau popularitas. Ketahuilah bahwa keramat yang diberikian Allah kepada para Wali-Nya adalah hasil dari jihad istiqomahnya. Istiqomah berarti ada didalam masalah ubudiyah, maksudnya tidak goyangnya keimanan dan kepercayaan kepada Allah sebagai tuhan, Allah yang berkuasa dan bijaksana, baik keyakinan kepadaNya dikala kita sakit, sehat, senang, ada bencana, suka, duka, kaya atau ketika miskin.”

 

Kaedah 28

“Al-Haq, Dialah Allah, tidak terhalang (dihalangi) oleh sesuatupun, sebab tidak ada bentuk sesuatupun yang bisa menghijab Allah. Hanya manusia yang terhijab (terhalang) sampai si manusia tidak bisa melihat sesuatu. Andaikan ada sesuatu yang mampu menghijab Allah pasti sesuatu itu bisa menutupi Allah, dan andaikan ada tutup bagi Allah artinya nilai “wujud” Allah terkurung, padahal tidak ada sesuatu yang bisa mengurung-Nya, tidak ada kekuasaan apapun yang mampu mengurung kekuasaan Allah, justru Allah yang berkuasa atas semua makhluk-Nya.”

 

Kaedah 29

“Keluarlah engkau dari sifat-sifat kemanusiaanmu, yakni sifat-sifat kemanusiaan yang mengurangi nilai kehambaanmu (kepada-Nya) dengan tujuan agar kamu mudah memenuhi panggilan Allah dan lebih dekat kepada-Nya.” Sifat-sifat kemanusiaan yang berhubungan dengan agama terbagi menjadi dua : 1) nilai kemanusiaan yang berhubungan dengan lahiriah, berupa bentuk perbuatan jasmaniah. 2) nilai kemanusiaan yang berhubungan dengan batiniah, konkritnya ada didalam hati. Yang berhubungan dengan lahiriah dibagi dua : 1) sesuai dengan perintah namanya taat dan 2) yang sesuai dengan larangan disebut maksiat. Juga nilai kemanusiaan yang berhubungan dengan hati dibagi dua : 1) nilai kemanusiaan yang berhubungan dengan hakekat kebenaran, disebut iman dan ilmu. 2) nilai kemanusiaan yang berhubungan dengan lawan hakiki kebenaran, disebut dengan nifak dan kebodohan. Misalnya sifat-sifat yang jelek : contoh, iri, hasud, dengki, sombong, suka mengadu domba, merampok, gila pangkat, terlalu cinta kepada dunia, tamak, rakus dan banyak lagi. Sifat-sifat jelek itu bisa menimbulkan pengaruh perbuatan jelek misalnya saling bermusuhan, benci, tawadhu, dengan orang kaya, menghina orang miskin, munafik, tidak lapang dada, hilang keyakinannya terhadap jaminan Allah, kejam, tidak punya malu dan banyak lagi. Bilamana seorang manusia berhasil menghilangkan sifat-sifat jeleknya yang rendah dan bertentangan dengan nilai kemanusiaannya itu, maka dia pasti mampu menyambut tuntunan Allah (agama) dengan baik yang langsung diambil dari Al-Quran maupun mengambil teladan sunnah rasul. Hal inilah yang disebut telah mendekatkan dirinya ke hadirat Allah ta'ala. Maksud sifat ubudiyah ialah kehambaan, merasa menjadi seorang hamba, taat kepada peraturan perintah agama dan tidak melakukan larangan tanpa membantah atau merasa berat melaksanakan kewajiban maupun sunnah.

 

Kaedah 30

“Pangkal dari kemaksiatan, kelalaian dan mengikuti syahwat ialah kehendak memuaskan naluri nafsu syahwat. Sedangkan pangkal melakukan ketaatan ialah suatu kesadaran, sopan budi pekerti dan pengekangan terhadap dorongan hawa nafsu.” Ada firman-Nya : “dan Aku tidak mengakui kebersihan diriku, karena (pada dasarnya) hawa nafsuku selalu mengajak kepada yang jahat, kecuali bagi siapa saja yang memperoleh rahmat tuhan, sungguh tuhanku maha pengampun lagi maha penyayang” (QS. Yusuf :53) Syekh Abu Hafas berwasiat : “Barangsiapa yang tidak menundukkan hawa nafsu setiap saat dan waktu, tidak mengekangnya dalam segala hal, serta tidak menariknya untuk kebaikan, pasti dia tertipu. Dan barangsiapa yang merasa kendali nafsunya sudah baik (berhasil menundukkan) artinya ia telah menghancurkan nafsunya.” Syekh Al-Junaid berwasiat : “Jangan mempercayai nafsumu sekalipun engkau sudah lama mentaatinya untuk berbuat ibadah kepada Allah”. Syekh Al-Bushiri dalam syair burdahnya telah mengukir hikmah, “Tantanglah hawa nafsu dan syetan, jangan menuruti keduanya sekalipun keduanya memberi nasehat kepadamu untuk berbuat baik, melainkan engkau harus tetap hati-hati dan curiga (karena bisa jadi kebaikan dari hasil nasehat hawa nafsu, kelak kebaikan itu cacat, misal ada unsur riya', sombong, merasa baik, merasa santri dan kyai dengan merendahkan orang dibawahnya, engkau harus curiga dengan hal-hal halus seperti itu)

 

Kaedah 31

“Bilamana engkau berteman dengan orang bodoh (tidak berilmu) tapi tidak mengikuti hawa nafsu, itu lebih baik daripada berteman dengan orang pandai (alim) yang suka mengikuti hawa nafsu lalu apakah bisa disebut suatu kebodohan orang-orang bodoh yang mampu mengendalikan hawa nafsunya?” bagaimana bisa disebut bodoh, orang-orang yang mampu menguasai hawa nafsunya, sehingga mampu beribadah kepada Allah bersih dari hawa nafsu. Lalu apakah faedah sebuah ilmu kalau yang bersangkutan tidak mampu mengendalikan hawa nafsu kebinatangan dan kejahatannya. Ada hadits sabda Rasulullah saw : “Seseorang mengikuti (ditentukan) oleh teman dekatnya, maka dari itu hendaklah seseorang memperhatikan siapa yang akan dijadikan teman”. Juga seorang pujangga berkata “Barangsiapa yang bergaul dengan orang baik hidupnya akan mulia dan barang siapa yang berteman dengan orang yang berakhlak rendah, dia tidak akan mulia”.

 

Kaedah 32

“Pada dasarnya sinar matahari bisa memperjelas pandangan (mata hatimu) dekatnya Allah kepadamu, dan matahari itupun memperlihatkan ketiadaanmu mengenai wujudnya Allah, dan matahari itupun hakekatnya yang menunjukkan kepadamu adanya Allah, bukan memperlihatkan ketiadaanmu ('adam) dan bukan juga wujudmu.” maksud pandanganmu (Syu'aul Bashirah) ialah cahaya akal, Ainul Bashira adalah cahaya ilmu, dan Haqqul bashira adalah cahaya ilahiyah. Orang-orang yang masih mempergunakan akal mereka (syu'aul bashirah) masih merasakan adanya dirinya dan dekatnya kepada Allah. Sedangkan orang-orang yang sudah mempergunakan Ainul Bashira, sudah merasa dirinya tidak ada jika dibandingkan dengan adanya Allah. Dan orang-orang yang mempergunakan Haqqul Bashira, dia hanya melihat Allah, dan tidak melihat apapun disekitarnya. Bukannya orang-orang ini tidak memperdulikan kehidupan alam (mikro dan makro) di sekitarnya akan tetapi mereka sudah menganggap seutuhnya bahwa alam ini tidak bisa berdiri sendiri, melainkan seluruh butuh dengan Allah. Itulah yang dimaksudnya adanya alam ini. Adanya manusia pada dirinya, karena orang-orang seperti ini sudah menganggap hal-hal seperti itu tidak ada dalam pandangan haqqul bashironya.

 

Kaedah 33

“Allah memang ada, dan tidak ada sesuatu bersamaNya, saat inipun Dia ada sejak dulu (tidak berubah). Adalah maqam fana', orang-orang dimaqam itu tidak melihat sesuatu kecuali hanya Allah.ia bagaikan seorang diri yang ada didalam gedung, disana ia memajang patung, boneka, mainan dan segala perabot. Bilamana ada orang yang bertanya “Siapa saja yang ada didalam gedung?” Dia menjawab : “Hanya aku seorang”. Karena dia tidak menganggap patung, boneka dan lain-lain sebagai teman, karena memang tidak layak disebut teman. Demikianlah orang yang mencapai maqam hakekat, semua kontruksi kemahlukannya rusak, tidak ada, dan memang tidak melihat sesuatupun disampingnya sebagai teman kecuali hanya Allah teman sejawatnya.

 

Kaedah 34

“Sekali-kali janganlah engkau mengadukan kebutuhanmu kepada selain Allah, karena hanya Allah-lah yang memenuhi kebutuhanmu. Bagaimana mungkin sesuatu selain Allah mampu menyingkirkan sesuatu yang sudah ditentukan Allah? Manusia tidak kuasa menyingkirkan bencana dirinya sendiri, lalu bagaimana mungkin yang lain (sesuatu yang lain selain Allah) mampu menyingkirkan bencana?

Datangnya suatu bencana menyebabkan kamu membutuhkan pertolongan, janganlah engkau mengharap pertolongan dari yang lain selain Allah, karena yang lain itupun juga bersifat butuh seperti butuhmu. Barangsiapa yang menyandarkan nasibnya kepada selain Allah, dia tertipu ! Dia penghayal ! Karena tidak ada yang bisa menetapkan suatu jaminan kecuali jaminan dari Allah berupa karunia dan nikmatNya untukmu.

Al-Atho Al-Khurosani berwasiat : “Di suatu jalan saya bertemu dengan Wahab bin Munabih, saya berkata kepadanya 'Beritahu aku suatu hadits yang singkat dan ringkas'. Kemudian wahab berkata 'Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud demikian :

“Wahai Dawud..., demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tiada seorang hamba-Ku yang minta tolong kepada-ku dengan sungguh-sungguh, tidak minta kepada yang lain, Aku mengetahui kesungguhan itu dari niatnya, kemudian bila orang itu dipermainkan oleh seluruh penduduk langit lapis tujuh dan penduduk bumi lapis tujuh, maka Aku pasti menyelamatkan dari tipu daya para penduduk itu terhadapnya.

Sebaliknya, demi kemuliaan dan Kebesaran-KU, tiada seorang yang berlindung kepada sesama makhluk-Ku, tidak kepada-Ku dan Aku mengetahuinya dari niatnya, maka Aku akan memutuskan dari rohmat langit, kemudian Aku longsorkan bumi-bumi dibawahnya, lain. Aku pun tidak lagi memperdulikan dia dalam lembah jurang yang menghancurkan dirinya.

Syekh Muhammad Al-Husen bin Hamdan berwasiat : “Pada waktu saya berada dimajelisnya Yazid bin Harus saya sempat bertanya dengan seseorang yang duduk disampingku : “Siapa namamu? Tanyaku kepadanya. Dia menjawab : “Said”. Saya bertanya lagi : “Apa gelarmu” (Kinayah) : dia menjawab 'Abu Usamah'. Kemudian saya bertanya tentang keadaannya. Ia pun menjawab demikian : “Bekal belanjaku sudah habis'. Aku bertanya lagi : “Lalu siapa yang bisa engkau harapkan untuk memenuhi kebutuhanmu?”. Dia menjawab : “Yazid bin Harun'. Maka akupun berkata kepada orang tadi demikian : “kalau itu kemauanmu, maka Yazid tidak akan memenuhi kebutuhanmu'. Orang tadi balik tanya kepadaku :'Darimana kau tahu tentang hal itu?” maka dengan mudah aku menjawab demikian : “Aku mengetahuinya dari membaca kitab, isinya :

“Allah telah berfirman : “Demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Kemurahan-Ku serta ketinggian kedudukan-Ku diatas Arsy Aku akan memutuskan harapan orang-orang yang mengharap kepada selain Aku, Aku akan memakaikan kepadanya dengan pakaian kehinaan dihadapan orang-orang, Aku singkirkan dia dari dekatKu dan Aku putuskan dia dengan Ku.

Mengapa dia mengharapkan kepada selain aku dalam setiap kesukaran, padahal alternatid solusi kesukaran itu ada didalam kekuasaan-Ku, Aku yang mampu menyingkirkan kesulitan itu? Mengapa dia mengetuk pintu-pintu lain yang tertutup, padahal pintu-Ku selalu terbuka bagi siapa saja yang berdoa kepada-Ku? Sekarang siapakah yang pernah kecewa ketika mengharapkan Aku untuk memecahkan kesulitan ? Siapakah yang pernah mengharap kepada-Ku karena dosa-dosa besarnya yang banyak kemudian aku putuskan harapannya ? (sama sekali tidak ada). Siapakah yang pernah mengetuk pintu-Ku kemudian Aku tidak membukakan?

Aku telah membuka hubungan langsung tanpa perantara antara Aku dan seluruh makhluk-Ku, lalu kenapa Engkau bersandar kepada selain Aku ? Ketahuilah bahwa Aku telah menyediakan (mempersiapkan) untuk seluruh yang diharapkan oleh semua makhluk-Ku, lalu kenapa tidak puas dengan perlindungan-Ku? Aku telah memenuhi langit-Ku dari para malaikat, serta Aku perintahkan para malaikat itu agar tidak menutup pintu antara Aku dengan hamba-Ku, lalu kenapa orang-orangitu tidak percaya dengan firman-firman-Ku?

Tidakkah engkau mengetahui siapa yang tertimpa bencana, siapa yang memberikan bencana itu, itulah Aku yang menurunkan tentu hanya Akulah yang mampu menghilangkan bencana tersebut, lalu mengapa Aku melihat dia dan segala angan-angan harapannya tidak kepada-Ku, mengapa dia harus tertipu dengan sesuatu selain Aku?

Aku sudah memberikan dengan amat murah dengan kemurahanKu apa-apa yang tidak ia minta. Aku pun menghilangkannya, lalu kenapa ia tidak minta lagi kepada-ku melainkan kepada selain Aku? Apakah Aku ini selalu memberi jika tidak diminta. Dan ketika diminta Aku tidak memberi ?

Apakah Aku ini pelit, sehingga Aku ini dianggap pelit oleh hamba-hambaKu, tidakkah seluruh yang ada di dunia dan akherat adalah milik-Ku? Tidakkah sifat-Ku selalu dermawan dan pemurah ? Tidakkah hanya kepadaku mencurahkan semua harapan, lalu siapa yang mampu memutuskan aturan-Ku ini? Aku berkata kepada semua makhluk langit dan bumi : “Mintalah kepada-Ku, lalu apa yang bisa diharapkan kepada orang-orang yang mengharap selain dari-Ku?

Andaikan Aku memberikan semua harapan mereka sesuai dengan pikiran mereka, semua itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku sekalipun sekecil debu, Alangkah sialnya orang-orang yang terputus dari rahmat-Ku, serta orang-orang yang tidak memperhatikan Aku, dan orang-orang yang selalu melakukan yang haram serta tidak malu kepada-Ku , alangkah sialnya mereka.”

mendengar wasiat Allah dari suatu kitab itu dari Muhammad bin Husain, maka orang tadi berkata : “Ulangi keteranganmu ini, dan aku akan mencatatnya”. Kemudian orang tadi berkata : “Demi Allah, setelah kejadian itu saya tidak pernah menulis lagi keterangan yang lain.”

 

Kaedah 35

“Bilamana engkau tidak berprasangka baik kepada Allah mengenai sifat-sifat Allah yang baik, maka berprasangka baiklah kepada Allah akan karunia pemberiannya kepadamu, tidakkah Dia selalu memberi nikmat kepadamu?”

kata sahabat Jabir ra. Menyampaikan bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa yang bisa melakukan husnudh dhon (berbaik sangka) kepada Allah sampai ia mati, maka matinya dianggap selalu berhusnudh dhon kepada Allah”.

Kemudian beliau SAW. membacakan firman-Nya : “Dan itulah kejahatan prasangkamu kepada tuhanmu, itulah yang menghancurkan dirimu”. (QS. Fushilat :23)

Riwayat melalui Abu Hurairah ra. Katanya Rasulullah saw. bersabda :

“Sesungguhnya berbaik sangka kepada Allah, adalah sebaik-baik ibadah kepada Allah”.

Lihatlah sumpahnya Ibnu Mas'ud ra : “Demi Allah, tiada seseorang yang berbaik sangka kepada Allah, kecuali Allah akan memberikan kepadanya sesuai yang disangkanya, karena semua kebaikan didalam kekuasaan Allah.

Riwayat melalui Abu Said Al-Khudri, dia menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah menjenguk orang sakit, lalu Rasulullah saw. bertanya kepada si sakit : “Bagaimana prasangkamu kepada tuhanmu? Orang sakit tadi menjawab : “Ya Rasulullah, Aku berprasangka baik, kemudian Rasulullah saw. bersabda : “Berprasangkalah kepada Allah sesuai dengan kesenanganmu, maka Allah akan memberikan wujud sangkaan kebaikan yang disangka oleh orang-orang beriman.”

 

Kaedah 36

“Sangat mengherankan sekali orang-orang yang lari dari sesuatu yang dibutuhkan, dia tidak bisa melepaskan diri dari yang dikejar, padahal tidak membutuhkan, dialah yang mencari sesuatu yang tidak kekal untuknya. Bukan mata yang ada dikepalanya yang buta, melainkan mata hatinya yang buta.”

mereka orang-orang yang lari dari panggilan tuhan Allah dalam hal melaksanakan ibadah, kemudian lebih memilih lari mengikuti kehendak hawa nafsunya adalah pertanda sangat nyata buta mata hatinya, dia lebih mengutamakan bayangan daripada yang hakiki, atau lebih mengutamakan yang bisa rusak daripada yang kekal.

 

Kaedah 37

“Jangan terbiasa berpindah dari alam satu ke alam lain seperti keledai yang berputar-putar di penggilingan, ia menuju ke suatu tujuan, sesampainya, ternyata tujuan itu adalah berangkat seperti semula tadi. Melainkan hendaklah engkau pergi ke semua alam kemudian menuju kepada dzat yang menciptakan alam, karena hanya tuhanmulah segala puncak tujuan.”

maksudnya : Jangan selalu berpindah dari syirik yang jelas-jelas syirik ke syirik yang samar atau jangan amal kebaikan itu diwarnai niat riya'. Jangan mengharap pujian dari orang lain, semua itu tidak dibenarkan oleh agama karena hasil ibadah seperti itu tidak diterima Allah ta'ala.

Andaikan lepas dari penyakit riya', lalu mengerjakan amal ibadah dengan niat ingin mencapai kedudukan, kekayaan, kekeramatan dunia maupun akherat, inipun sama dengan beribadah mengikuti naluri hawa nafsu kemanusiaan, dan ibadah tersebut belum bisa disebut murni bersih ikhlas menuju Allah ta'ala.

Amalan-amalan seperti inilah yang disebut amalan yang berpindah-pindah dari alam satu ke alam lain, dan belum mendapat ibadah dari keseluruhan alam ke dzat yang menciptakan Alam.

Ingatlah Nabi Isa Al-Masih pernah berwasiat kepada Al-Hawariyun-nya (para sahabatnya) demikian : “Keseluruhan nikmat yang ada padamu merupakan pemberian karunia Allah, maka manakah yang lebih berharga apakah pemberian-Nya ataukah dzat yang memberi? Barangsiapa yang telah memperoleh Allah (tujuan kepada-Nya), artinya dia sudah mencapai segala sesuatu, memiliki segala sesuatu, baik urusan dunia maupun akheratnya.”

 

Kaedah 38

“Dan lihatlah sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai (diterima) Allah Ta'ala. Barangsiapa yang hijrah karena tujuan mencari kekayaan, duniawiyah yang diangan-angan, atau karena wanita yang akan dinikahi, maka hijrahnya akan sampai sesuai dengan tujuan hijrahnya” pikir dalam-dalam sabda ini, dan perhatikanlah sabda ini bila engkau memiliki kekuasaan faham.”

maksudnya : hijrah yang bukan karena Allah ta'ala adalah hijrah yang rendah dan tidak berarti, niatnya tidak suci bertujuan kepada Allah, maka iapun hanya memperoleh sesuai dengan tujuannya, dan tidak memperoleh keridhaan Allah ta'ala. Pikirkan dalam-dalam nasehat Abu Yazid : “Andaikan Allah menawarkan kepadamu akan memberi kekayaan yang banyak selaksa dari Arsy sampai bumi, maka katakanlah kepada-Nya : “Bukan itu tujuanku, Ya Allah, melainkan hanya Engkaulah tujuanku ya Allah.”

Renungkan perkataan Abu Sulaiman Ad-Darani : “Andaikan aku disuruh memilih antara masuk surga Firdaus, atau mengerjakan dua rakaat shalat, pasti aku memilih dua rakaat shalat. Alasannya didalam surga aku hanya memperoleh bagianku, dan di dalam shalat aku memperoleh tuhanku”.

Nasehat Asy-Syibli rh : “Berhati-hatilah dengan ujian Allah sekalipun dalam bentuk perintah 'Kullu Wasy Rabuu..' (makan dan minumlah), karena dalam setiap nikmat ada nilai ujian seperti apakah lupa dan ingat dengan nikmat tersebut (disyukuri atau tidak) dan siapakah yang berperan dalam memberi nikmat sebelum dan sesudahnya. Seperti ada seorang pujangga menorehkan tintanya : “Shalat dan puasa karena mengikuti sesuatu yang dicarinya, sampai akhirnya terpenuhilah yang diinginkan itu, kemudian tidak melakukan shalat dan puasa”.

 

Kaedah 39

“Janganlah berteman dengan seseorang yang tidak bisa mendorongmu lebih semangat taat kepada Allah, serta perbuatannya dan kata-katanya tidak membimbing kamu ke jalan Allah.”

Sabda Rasulullah :

“Seseorang ditentukan bagaimana temannya : maka dari itu, seseorang harus memilih siapakah yang harus dijadikan teman”.

Sofyan Ats-Tsauri berkata : “Barangsiapa yang berkumpul (berteman) dengan orang banyak tentu mengikuti mereka : siapa yang mengikuti keinginan mereka hancurlah”.

Sahal bin Abdullah ra. Berkata demikian : “Hati-hatilah memiliki kawan tiga macam ini : 1) Pejabat pemerintahan yang sewenang-wenang. 2) Ahli qira' (Al-Quran) yang riya' 3) Ahli Tasawuf gadungan.

Bahkan Ali bin Abi Thalib ra. Pun berwasiat : “Sejahat-jahatnya teman ialah yang memaksamu riya' (pamer). Memaksamu minta maaf atau selalu mencari alasan”.

 

Kaedah 40

“Bisa jadi engkau melakukan kesalahan, tapi yang dibicarakan kepadamu hanya kebaikanmu ; hal ini karena menjalin persahabatn dengan yang lebih rendah akhlaknya (imannya)”

berteman dengan orang yang lebih rendah akhlak dan kadar keimanannya sangat berbahaya. Berteman adalah saling pengaruh dan mempengaruhi, saling percaya mempercayai, kondisi seperti ini sangat sulit sekali bagi seorang teman mengatakan dan mengoreksi yang sebenarnya jati diri kita (kesalahan kita misalnya), kenyataan selalu membela kepada kita sekalipun kita dipihak yang salah; kalau itu yang terjadi, maka kehancuran yang kita petik dari jalinan persahabatn itu. Ketahuilah bahwa diri kita tidak bisa mengkoreksi atau bercermin kecuali lantaran koreksi dari cermin orang lain. Kalau cermin orang lain sengaja mengkaburkan penilaian wujud kita, tentu jurang bahaya akan menimpa kita.

 

Kaedah 41

“Tidak bisa dianggap kecil suatu amalan yang ikhlas, dan tidak dianggap suatu amalan besar bila dilakukan dengan tidak ikhlas”.

Pernah Ali bin Abi Thalib berwasiat : “Tumpahkan seluruh keinginan pada suatu usaha amaliah (ikhlas) agar diterima amal perbuatanmu karena tidak dianggap kecil suatu amalan yang sudah diterima Allah ta'ala. Firman-Nya : “Sesungguhnya Allah hanya menerima amal perbuatan orang-orang yang bertaqwa”.

Abdullah bin Mas'ud ra. Berwasiat : “Dua rakaat yang dikerjakan oleh orang alim (pandai) serta ikhlas, jauh lebih baik daripada ibadahnya orang-orang ahli ibadah dalam waktu terus menerus.”

Al-Maruf Al-Karkhi ditanya oleh Abu Sulaiman Ad-Darani demikian : “Kenapa bisa orang-orang melakukan ketaatan yang luar biasa”.

Al-Maruf menjawab : “Mereka sudah membersihkan hatinya dari pengaruh cinta kepada duniawiah, andaikan masih ada sedikit goresan perasaannya mencintai bagian dunia, tentu amalannya tidak diterima”.

Ada orang yang shaleh mengeluhkan dirinya kepada Abu Abdillah Al-Qurosyi, orang shaleh itu menyatakan bahwa dirinya sudah banyak melakukan amal kebaikan, akan tetapi selama ini dirinya (hatinya) belum merasakan kelezatan amal kebaikan itu dalam hatinya) rasanya semuanya hambar, tidak ada pengaruh kekhusukan atau kenikmatan qalbiyah sebagai pengaruh dari rutinitas amal kebaikannya.

Al-Qurasyi menjawab keluhannya “Kenapa? Hanya satu sebabnya, yakni dirimu masih merawat putri cantinya iblis, berupa kepuasaanmu terhadap dunia (cinta dunia), dan umumnya kebiasaan seorang ayah selalu berkunjung kepada anaknya. Dialah Iblis masih sering berkunjung kepadamu, karena dirimu memelihara putri iblis”.

 

Kaedah 42

“Awal perbuatan yang baik merupakah hasil dari baiknya akhlak dan hati, baiknya hati merupakan hasil dari kesungguhan istiqomah terhadap yang diperintahkan Allah”.

Ketahuilah hanya amal yang baik-baik saja yang diterima Allah, tentu penerimaan ini menyangkut dari segi keikhlasan amaliah seseorang kepada Allah. Dan manusia tidak mungkin ikhlas pada-Nya kalau dirinya tidak mengerti betul kedudukan dirinya dihadapan Allah (sebagai hamba).

Muhammad Abu Hamid Al-Ghazali berkata “Setiap tingkat tingkatan dalam keyakinan memiliki kadar ilmu, perasaan dan amal perbuatan. Ilmul Yakin, suatu keyakinan (keimanan) yang diperoleh dari materi ilmu, Ainul Yakin, suatu keyakinan yang diperoleh dari beberapa fakta lahiriah yang terungkap nilai rahasianya, dan HaqqulYakin, suatu keyakinan yang langsung dari Allah, inilah keyakinan yang mutlak dan tidak diragukan lagi kebenarannya.

 

Kaedah 43

“Sekali-kali jangan meninggalkan dzikir, sebab belum tentu kamu bisa mengingat Allah dalam dzikirmu, bila engkau tidak berdzikir justru kelalaianmu kepada Allah lebih berbahaya daripada lalaimu ketika dalam dzikir. Semoga Allah meningkatkan kwalitas dzikirmu tidak selalu lalai, meningkat kepada dzikir yang bisa ingat kepada Allah, kemudian naik lagi menjadi dzikir yang benar-benar sadar akan ingatannya, lalu meningkat menjadi dzikir yang mampu menghadirkan diri secara menyeluruh inilah dzikirmu sampai lupa terhadap segala sesuatu sekitarnya selain Allah, dan bagi Allah hal seperti ini sangatlah mudah.”

Meningkatkan dzikir secara gradual dari tahap ke tahap tingkatan lain merupakan jalan satu-satunya jalan terdekat (mudah) mencapai Allah. Abul Qasim Al-Qusyairi berkata : “Dzikir merupakan tanda kewalian seseorang, tanda suatu pelita untuk sampai (kepada-Nya), tanda sehatnya langkah awal dan menunjukkan kejernihan klimak. Tiada suatu amaliah yang menandingi dzikir, karena dzikir bagaikan rohnya suatu amaliah”.

Keutamaan dan keistimewaan dzikir tidak terbatas, firman-Nya : “Berdzikirlah kamu kepada-Ku, pasti Aku akan ingat kepadamu”. (QS. Al-Baqarah : 152)

Allah berfirman (dalam hadits qudsi) : “Aku selalu mengikuti prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku, dan Aku selalu menyertai ketika dia dzikir (ingat) kepada-Ku. Bilamana ia ingat secara pribadi (dzikir sendirian), Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku, bilamana dia ingat (dzikir) di muka umum, Aku pun akan ingat kepadanya secara terbuka yang lebih baik dari golongannya. Bilamana dia mendekatkan diri sejengkal, aku akan mendekatkan diri-ku sehasta, bilamana ia ingat sehasta, maka Aku akan mendekat sedepa, bila ia mendekat sedepa, maka Aku akan datang kepadanya dengan berjalan, dan bila ia dekat dengan berjalan maka Aku akan mendekat dengan berjalan cepat”.

Abdullah bin Abbas ra. Berkata : “Tiada suatu kewajiban yang diwajibkan Allah kepada hamba-Nya kecuali ada batas-batasnya, dan bagi orang-orang yang ada halangan karena sesuatu, Aku akan memaafkannya, kecuali masalah dzikir, dia tidak ada batas, tidak ada udzur (halangan) yang bisa diterima untuk tidak berdzikir, kecuali yang bersangkutan gila. Sesuai firman-Nya : “Bagi orang-orang yang sempurna akalnya ialah mereka yang berdzikir kepada Allah sambil berdiri, duduk dan berbaring di atas pinggangnya”. (QS. Ali Imran : 191)

Firman-Nya :

“Wahai orang-orang beriman, berdzikirlah kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya dzikir, bertasbihlah kepada Allah di pagi dan petang”.

 

Kaedah 44

“Tanda-tanda dari matinya hati ialah bila tidak merasa sedih kalau tertinggal dibidang amal perbuatan baik (kewajiban), juga tidak menyesal bila melakukan dosa.”

Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang merasa senang dengan amal kebaikannya dan merasa sedih (menyesal) dengan amal keburukannya,maka dia orang mukmin.

Sahabat Abdullah bin Mas'ud ra. Berkata : “pada waktu kami bersama-sama dalam majelis Ra


Terpopuler