2030, Diabetes Hantui Masyarakat Indonesia
06 Mei 2013 - dibaca : 2.360 kali

2030, Diabetes Hantui Masyarakat Indonesia

Diabetes merupakan penyakit tidak menular yang kian meningkat prevalensinya di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Perawatan dengan penanganan yang tepat dan disiplin penting bagi orang yang mengidap penyakit diabetes. Perusahaan farmasi Sanofi Group bersama dengan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), baru saja meluncurkan program pelatihan bagi dokter umum dalam diagnosis dan pengobatan diabetes.

Program ini merupakan bagian dari upaya bersama pemerintah Indonesia menggandeng swasta dalam Kemitraan Pengendalian Diabetes (Partnership for Diabetes Control in Indonesia -- PDCI) di Indonesia.

Diabetes merupakan penyakit tidak menular yang semakin meningkat keberadaannya di seluruh dunia. Berdasarkan Federasi Diabetes Internasional, angka penyandang diabetes pada tahun 2010 telah mencapai 285 juta jiwa atau 6,4 persen dari populasi orang dewasa di seluruh dunia, dan diperkirakan akan terus meningkat sampai dengan 438 juta jiwa pada 2030 (sekitar 7,8 persen dari total populasi).

Sementara catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di 2008 memperkirakan terdapat 8,4 juta jiwa penduduk Indonesia menderita diabetes. Angka ini pun akan mencapai 21,3 juta jiwa di tahun 2030. Itu menjadikan Indonesia ada di peringkat keempat di dunia sebagai negara yang mempunyai jumlah pengidap diabetes tertinggi setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.

Menurut Direktur Penyakit Tidak Menular Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan, Ekowati Rahajeng, di Jakarta pekan lalu (3/5), faktor yang paling utama mengakibatkan jumlah ini terus berada dalam peningkatan adalah pola hidup tidak sehat. Serta hanya 20 persen yang disebabkan oleh faktor genetik.

Kemitraan melibatkan Sanofi dan Kementerian Kesehatan, juga Perkeni, PT Askes, dan American Diabetes Association (ADA). Diwujudkan dalam bentuk Train-of-Trainers dengan sasaran 5.500 tenaga kesehatan Indonesia: sebanyak 500 dokter spesialis penyakit dalam serta 5.000 dokter umum, selama jangka waktu lima tahun.

Para dokter spesialis tersebut nantinya berperan melatih dokter umum. "Sampai sekarang, kurang dari enam bulan sejak gelombang pertama pada September 2012, PDCI sudah berhasil meluluskan lebih dari 100 orang dokter spesialis penyakit dalam dari 50 kota di seluruh Indonesia melalui dua modul pelatihan yang diberikan," jelas Eric Ng, Presiden Direktur Sanofi Group Indonesia.

Ekowati juga menambahkan, diabetes dapat dicegah dengan cara mengembangkan dan mempertahankan kebiasaan yang baik dalam hal pola makan dan aktivitas fisik.

Maka, perawatan serius dan pengobatan yang berkelanjutan dinilai yang amat penting dalam menjaga kualitas hidup penyandang diabetes dan mengendalikan laju prevalensi.

Sebab penyakit diabetes dapat menjadi kronis serta menimbulkan komplikasi, yang paling umum seperti gangguan saraf, gangguan kardiovaskular, dan gangguan penglihatan berupa kerusakan pada retina mata.

"Saat ini diabetes-care di Indonesia masih terpusat di rumah sakit, dibandingkan luar negeri yang mampu melayani untuk diagnosis, pengobatan awal, dan monitoring pengobatan bagi para pasien diabetes. Hal ini terutama disebabkan kapasitas dokter dan infrastruktur di tingkat pelayanan primer memang belum memadai," ungkap Pradana Soewondo, Ketua Pengurus Besar Perkeni.

"Setelah diberikan pelatihan dalam program ini diharapkan masyarakat, khususnya para penyandang diabetes, bakal lebih mudah memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan melalui para dokter umum yang telah memiliki kapasitas itu," tutupnya.


Terpopuler