Antropologi Budaya: Suku Baduy
02 Mei 2013 - dibaca : 7.275 kali

Antropologi Budaya: Suku Baduy

Banyak makalah antropologi budaya yang membahas berbagai suku di Indonesia. Artikel ini membahas mengenai suku Baduy Dalam yang tidak tersentuh posmodernisme.

Apa itu Antropologi Budaya?

Cabang antropologi yang berkaitan dengan studi variasi budaya manusia dapat disebut sebagai antropologi budaya. Studi antropologi budaya meliputi kegiatan mengumpulkan fakta tentang pengaruh politik, ekonomi dan faktor-faktor lain pada budaya lokal dari suatu daerah tertentu.

Para profesional atau orang yang bekerja di bidang ini dikenal sebagai antropolog budaya. Pekerjaan lapangan yang mereka melakukan untuk memperoleh fakta dilakukan melalui kegiatan atau metode seperti survei, wawancara, observasi peserta, dll Mari kita memahami apa yang antropologi budaya secara rinci melalui informasi yang disajikan dalam paragraf berikut.

Sejarah Antropologi Budaya

Penelitian antropologi budaya dimulai pada abad ke-19. Berasal sebagai reaksi terhadap etnologi, cabang dari antropologi budaya mulai berkembang dengan bantuan upaya yang dilakukan oleh Edward Tylor dan sarjana lainnya. Studi etnologi berkisar aktivitas perbandingan terorganisir masyarakat manusia.

Pakar seperti JG Frazen dan Edward Tylor menggunakan bahan yang dikumpulkan oleh pedagang, penjelajah dan misionaris untuk tujuan referensi. Sekarang mari kita cari lebih lanjut tentang kontribusi dari Edward Tylor.

Edward Tylor adalah seorang antropolog abad ke-19 Inggris. Dia menggambarkan budaya sebagai pemikiran dan perilaku manusia yang berpola oleh masyarakat. Pada tahun 1872, Asosiasi Inggris untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan telah mengambil pekerjaan mempersiapkan inventarisasi kategori budaya.

Edward Tylor dibantu komite ini dalam pekerjaan mereka. Hasil dari proyek ini adalah bahwa 76 topik budaya yang terdaftar, ini topik yang Namun, terdaftar dalam urutan acak.

Konsep inti Antropologi Budaya

Penelitian antropologi budaya dilakukan dengan cara yang berbeda oleh para sarjana yang berbeda. Namun, ada beberapa standar atau konsep dasar yang tetap sama. Misalnya, komponen dasar antropologi budaya adalah sebagai berikut: apa yang orang 'berpikir', 'melakukan' dan 'menghasilkan'.

Semua konsep dan teori antropologi budaya berputar di sekitar konsep-konsep dasar. Satu dapat menggunakan konsep ini sebagai pedoman untuk mempelajari budaya suatu masyarakat tertentu. Pertemuan dunia mental dan fisik manusia dikatakan untuk menciptakan budaya itu masyarakat tertentu.

Sifat-sifat yang berbeda bahwa budaya dari suatu masyarakat pameran adalah sebagai berikut: budaya dapat dipelajari, dapat dibagi, dapat menular, dapat disesuaikan, dapat diintegrasikan dan itu adalah simbolik.

Signifikansi Pertanian

Studi tentang pembangunan pertanian harus membuktikan berguna dalam memahami topik antropologi budaya untuk sebagian besar teori yang ditemukan. Praktek-praktek yang berbeda termasuk dalam bidang pertanian secara keseluruhan sangat penting dari sudut manusia menjalani kehidupan yang stabil.

Studi tentang kehidupan / budaya nomaden dan masyarakat agraria menunjukkan kepada perbedaan ekstrim dalam budaya mereka. Sebagai masyarakat agraris mulai menjalani kehidupan yang stabil (dibandingkan dengan nomaden), budaya mereka mulai berubah. Orang dengan penguasaan lahan (agrarians) menjalani hidup aman yang jauh dibandingkan dengan nomaden. Para perantau di sisi lain berjalan mencari makanan dan harus berjuang untuk hidupnya.

Topik antropologi budaya dipelajari dari berbagai aspek dan sudut mungkin. Menerapkan konsep antropologi budaya dalam perbaikan masyarakat diperlukan. Dalam proses mempelajari apa yang salah antropologi budaya mendapat mempelajari dasar-dasar dan standar tertentu yang dapat diterapkan pada perilaku manusia.

Akhirnya, pengetahuan tentang bidang ini memperkaya hidup kita dan membuat kita peka terhadap masalah yang dihadapi oleh orang yang berbeda di seluruh dunia. Termasuk memahami upaya modernisasi pembangunan yakni pikiran masyrakat kota pada orang desa yang terpencil dalam hal ini Baduy.

Masyarakat Kota

Masyarakat posmodernisme (disingkat posmo) yang sangat konsumenrisme telah menjadi gaya hidup di kota-kota besar. Contoh kecil yang bisa kita tilik adalah penggunaan ponsel di kalangan masyarakat kita.

Jika dalam kurun waktu sepuluh tahun ke belakang pengguna ponsel adalah kalangan orang kaya saja, tapi sekarang hampir setiap orang pasti punya ponsel, tidak peduli dia kaya atau miskin, anak atau orang dewasa. Ponsel dianggap sebagai kebutuhan primer, bukan lagi kebutuhan sekunder apalagi tersier.

Contoh lain adalah pengguna laptop, sekarang pun laptop bukan lagi sesuatu yang mewah, melainkan sesuatu yang biasa. Kita lihat di kafe kafe di mal-mal hampir semua pengunjung membuka laptopnya, menggunakan hotspot, kumudian asyik di dunia maya.

Inilah salah satu ciri masyarakat posmo kota yang tidak lagi memandang ruang dan waktu, sosial atau budaya. Semua kalangan bisa menggunakan fasilitas yang ada, asal ada uang.

Mengenal Masyarakat Baduy

Namun, budaya posmo yang konsumenrisme ini tidak bisa menyentuh masyarakat Baduy Dalam yang tinggal di wilayah pedalaman Jawa Barat, tepatnya di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Ternyata, masyarakat Baduy masih bisa mempertahankan budaya aslinya tanpa harus tersentuh budaya posmo yang sudah merangsek masyarakat kota-kota besar. Mereka masih bisa hidup dengan baik-baik saja tanpa ponsel atau laptop.

Lain halnya dengan orang kota, ketinggalan ponsel saja seperti ketinggalan nyawa, seolah dunia hanya bisa hidup dengan menggunakan ponsel.

Wilayah suku Baduy meliputi, Cikeusik, Cibeo, dan Cikartawarna. Kata baduy sendiri diambil dari nama sebuah sungai yang menjadi urat nadi yang menyatukan ketiga desa tersebut.

Di desa ini tinggal masyarakat suku Baduy Luar yang sudah berbaur dengan masyarakat umum. Mereka sudah beradaptasi dengan kebudayaan kota, namun tetap mempertahan tradisinya, seperti berpakaian hitam-hitam, menggunakan bahasa sunda yang kental, dan mengunakan sandal jepit kulit.

Suku Baduy Luar pun sudah mengenal sekolah dan sudah bisa berbahasa Indonesia. Rumah mereka sudah berjendela kaca bahkan di antaranya sudah ada yang terbuat dari tembok. Mereka sudah mengenal radio dan televisi bahkan di antara mereka ada yang menggunakan ponsel.

Adapun yang tidak tersentuh budaya posmo sama sekali adalah masyarakat suku Baduy Dalam yang masih tinggal di dalam hutan. Rumah mereka terbuat dari bambu dengan atap daun rumbia. Rumah mereka tidak berjendela kaca. Jendela mereka terbuka dan ditutup dengan kayu biasa.

Masyarakat suku Baduy Dalam hanya terdiri dari empat puluh suhunan, maksudnya hanya terdiri dari empat puluh kepala keluarga. Mereka dipimpin oleh seorang kelapa suku adat yang disebut Jaro. Seorang Jaro bisa menjadi media penghubung antara masyarakat Baduy Luar dan Dalam.

Masyarakat Baduy dalam beragama sunda wiwitan. Mereka beranggapan bahwa dunia tercipta dari Arca Domas yang berada di hutan larangan. Arca domas dipercaya sebagai inti jagad.

Masyarakat suku Baduy Dalam selalu berpakaian putih-putih dan tidak dijahit. Mereka tidak pernah memakai sandal. Ke manapun mereka pergi selalu tanpa alas kaki. Mereka tidak mengenal sekolah, tidak mengenal dunia luar. Mereka begitu tertutup. Mereka hanya mengenal huruf sunda dengan ejaan hanacaraka datasawala.

Mereka sangat kuat dengan tradisi leluhurnya yang selalu mengunakan media alam untuk menjalani kehidupan, mereka tidak mengenal uang, mereka juga tidak mengenal listrik. Mata pencaharian mereka dari bertani. Gula aren adalah salah satu produknya.

Mereka bisa hidup tanpa teknologi. Apa kita sebagai orang kota, bisakah kita hidup tanpa teknologi? Nah, bagaimana Anda menilai makalah antropologi budaya tentang baduy vs modernisasi tersebut?

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler