Proses Siklus Hidrologi dan Air Tanah
29 Maret 2013 - dibaca : 7.893 kali

Proses Siklus Hidrologi dan Air Tanah

Sirkulasi atau perputaran massa air di Bumi diawali dengan proses pemanasan muka Bumi oleh pancaran sinar matahari. Akibat proses pemanasan ini, sebagian massa air mengalami penguapan ke udara.

Proses penguapan air terjadi dalam beberapa cara yaitu sebagai berikut.

  1. Evaporasi, yaitu proses penguapan air dari permukaan Bumi (yang berasal dari danau, laut, dan sungai) secara langsung melalui pemanasan atau penyinaran matahari.
  2. Transpirasi, yaitu proses penguapan air dari tubuh makhluk hidup melalui aktivitas metabolisme organisme (tumbuhan, hewan, dan manusia).
  3. Evapotranspirasi, yaitu gabungan proses penguapan evaporasi dan transpirasi.

Pada saat massa air menguap ke atmosfer, uap air tersebut mengalami penurunan suhu yaitu 0,5°C–0,6°C. Akibat penurunan suhu atmosfer terjadi proses kondensasi atau pengembunan di mana uap air kembali berubah menjadi titik-titik air yang dikenal dengan awan.

Kumpulan awan pada atmosfer ada kalanya dipindahkan lokasinya ke wilayah lain oleh gerakan angin. Namun, terkadang langsung dijatuhkan kembali sebagai curahan hujan atau presipitasi. Di daerah pegunungan tinggi, curahan hujan ini dapat terjadi dalam bentuk kristal es dan salju karena suhu udara di sekitarnya sangat dingin di bawah titik beku.

Proses Siklus Hidrologi dan Air Tanah

Beberapa proses alam yang terjadi pada saat hujan turun adalah sebagai berikut.

  1. Langsung jatuh kembali ke laut.
  2. Sebelum sampai ke permukaan Bumi, langsung menguap kembali ke atmosfer.
  3. Jatuh di atas daun-daun dan ranting tetumbuhan dan menguap kembali ke atmosfer sebelum sampai ke permukaan Bumi. Proses penguapan titik-titik air hujan dari ranting dan dedaunan ini dinamakan intersepsi.
  4. Jatuh ke permukaan Bumi dan meresap melalui lapisan-lapisan tanah dan menjadi persediaan air tanah. Proses ini dinamakan infiltrasi.
  5. Jatuh ke permukaan Bumi dan menggenang, kemudian bergerak atau mengalir di permukaan Bumi sebagai air larian permukaan (surface run off). Proses ini dapat terjadi jika tanah sudah jenuh air karena hujan berlangsung lama dengan intensitas tinggi atau tanahnya miring.

Proses transformasi massa air ini terus berlangsung, seolah-olah membentuk lingkaran daur yang tidak terputus. Oleh karena itu, proses sirkulasi air di Bumi ini dinamakan Siklus Hidrologi.

Air Tanah

Pada pembahasan daur hidrologi telah kita bicarakan bahwa pada saat turun hujan, sebagian titik-titik air hujan tersebut akan meresap ke dalam pori-pori tanah dan menjadi cadangan air tanah. Besar kecilnya daya serap lapisan-lapisan tanah dinamakan kapasitas infiltrasi.

Kapasitas infiltrasi sangat bergantung dari fenomena alam berikut.

  • Tingkat Kelembapan Tanah

Tanah-tanah yang kondisinya kering memiliki kemampuan untuk menyerap air lebih banyak dibandingkan dengan tanah yang lembap, bahkan tanah yang jenuh dengan air tidak mampu lagi menyerap air dari permukaan tanah.

  • Tingkat Poreusitas Tanah atau Batuan

Poreusitas dapat diartikan sebagai banyak tidaknya pori-pori tanah yang dapat meloloskan air dari satu lapisan ke lapisan tanah lainnya. Tanah-tanah yang gembur dengan poreusitas tinggi mampu menyerap dan meloloskan air lebih tinggi dibandingkan dengan tanah yang padat (pejal). Jenis batuan atau tanah yang tidak dapat menyerap dan meloloskan air dinamakan lapisan kedap air atau lapisan impermeabel.

  • Kemiringan Lereng

Tanah-tanah yang datar memiliki kapasitas infiltrasi lebih tinggi dibandingkan dengan lahan yang miring. Sebagian besar air hujan yang jatuh di daerah-daerah dengan kemiringan lereng tinggi sering kali langsung bergerak sebagai air larian, sedangkan di daerah yang relatif datar lebih banyak yang meresap ke dalam pori-pori tanah.

Massa air yang berinfiltrasi dari permukaan bumi seperti diungkapkan tersebut, selanjutnya meresap ke dalam lapisan-lapisan tanah sampai pada batas batuan atau yang impermeabel. Di atas lapisan impermeabel massa air itu berkumpul membentuk air tanah permukaan (air tanah freatik).

Kedalaman air tanah freatik ini tentunya berbeda-beda di berbagai tempat, bergantung pada lokasi lapisan impermeabel dan banyaknya massa air tanah. Di wilayah perbukitan atau pegunungan, biasanya lokasi air tanah sangat dalam, sedangkan di kawasan dataran atau cekungan, lokasinya relatif dangkal. Fluktuasi kedalaman air tanah freatik juga sangat bergantung dari musim. Pada musim penghujan, biasanya tinggi muka air tanah relatif lebih dangkal dibandingkan saat musim kemarau.

Air tanah freatik dapat dimanfaatkan oleh penduduk sebagai sumber daya air bersih dengan cara membuat sumur gali. Oleh karena itu untuk mengetahui rata-rata kedalaman muka air tanah freatik di suatu tempat, kita dapat mengamati rata-rata kedalaman sumur gali yang dimiliki penduduk di sekitar daerah tersebut.

Di bawah lapisan batuan impermeabel (lapisan kedap air) juga terdapat massa air tanah yang dikenal dengan air tanah dalam atau air artesis. Lokasi air artesis biasanya sangat dalam dan terletak di antara lapisan batuan kedap air yang keras, namun jumlah atau persediaannya jauh lebih banyak dibandingkan dengan air tanah freatik. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan air tanah dalam biasa diupayakan melalui pembuatan sumur-sumur artesis atau sumur bor.

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler