Mohon Maaf atas tidak tercantumnya semua sumber dari konten yang ada di website ini.. Terima Kasih kepada semua yang telah menyadur dan mencantumkan referensi dari website ini, semoga bermanfaat untuk semua.
Tips-tips Menuju Insan Qurani
09 November 2012 - dibaca : 15.632 kali

Tips-tips Menuju Insan Qurani

Al-Qur’an diturunkan Allah kepermukaan bumi agar kiranya manusia memakainya sebagai petunjuk dalam kehidupan. Sehingga kehidupan mereka menjadi terarah dan lurus menuju kepada-Nya. Sebaliknya, orang yang berpaling dan tidak mau menjadikannya sebagai petunjuk dan pembimbing akan menuju jalan yang salah dan tersesat. Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam kehidupan ini bukanlah sebatas untuk mendapatkan kebahagian dunia semata, tetapi mencakup kedua aspek, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Jadi sangat berbeda sekali dengan petunjuk-petunjuk yang lain yang terbatas hanya sampai pada dunia semata.

Sebagai pencipta alam semesta ini, Allah Swt sudah mengetahui kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan manusia dipermukaan bumi dalam mengatur, memelihara, mereka. Untuk menjawab itu semua Allah telah membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh manusia. Dimana seluruh aturan tersebut keseluruhannya telah tertuang dalam al-Qur’an. Karena di dalam al-Qur’an tersebut sudah pasti didapatkan petunjuk dan kebahagian, maka Allah menyatakan secara jelas bahwa  ia merupakan petunjuk yang mengantarkan manusia kepada jalan kebenaran dan kebahagiaan. Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 183 yang artinya: “Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia dan penjelas antara yang hak dan batil”.

Sebagai petunjuk dalam kehidupan maka manusia harus dapat menggali dan menemukan petunjuk-petunjuk itu di dalamnya. Sebab al-Qur’an yang diturunkan tersebut bukan berbentuk dalam bentuk suara seperti kaset, CD, dan lain sebagainya. Namun, bacaan yang harus digali dan dipahami sehingga dapat diambil petunjuk dan bimbingan dari dalamnya.

Paling tidak ada empat pilar sikap yang harus kita lakukan terhadap al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidup ini, yaitu:

Pertama, Membacanya. Ini merupakan pilar pertama yang harus dilakukan seseorang untuk dapat menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk dalam kehidupannya. Mungkin perintah untuk membaca ini adalah perintah Allah kepada kita pada pertama kalinya untuk dipenuhi. Seperti disinyalir dalam al-Qur’an surat al-‘Alaq ayat 1, yaitu: “Bacalah dengan nama tuhanmu  yang telah menciptakan.”

Dari ayat ini sangat jelas pesan yang dapat kita tangkap bahwa membaca merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyikapi al-Qur’an sebagai petunjuk dalam hidup ini. Sekalipun yang dibaca itu tidak selalu yang harus tersurat, namun ada juga ayat yang tersirat yang tentunya tidak kalah pentingnya.

Ada sebuah fenomena umum yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita di zaman modern ini. Padahal fasilitas untuk belajar sudah sangat lengkap. Guru-guru yang mengajar membaca al-Qur’an sudah begitu banyaknya. Bentuk-bentuk pengajian dimana-mana menjamur. Namun ironisnya, tetap juga ada yang tidak pandai membaca al-Qur’an. Ini sebuah penyakit masyarakat kita yang sangat berbahaya yang harus dihindari sejauh mungkin.

Kedua, Memahami maknanya. Bagi seorang muslim yang sudah dapat membaca al-Qur’an dengan baik sudah seharusnya lebih mendalaminya dengan mengetahui makna al-Qur’an. Sehingga dengan demikian  akan memberikan kesan dan dampak yang positif bagi pembacanya.

Allah Swt mempertanyakan kepada kita dalam surat al-Nisa’ ayat 82, yang artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak.”

Ayat di atas, merupakan bentuk pertanyaan Allah kepada seluruh manusia, agar kiranya mereka dapat menggunakan seluruh potensi dalam dirinya dalam rangka memahami dan mengambil inti sari nilai-nilai yang dikandung oleh al-Qur’an. Namun, cukup disayangkan banyak yang mengaku sebagai umat Islam dan al-Qur’an sebagai kitab sucinya. Tetapi ternyata al-Qur’an maupun terjemahannya tidak dimiliki sama sekali. Sedangkan mereka yang di luar agama kita sangat bangga membawa dan memegang kitab sucinya pada saat ke rumah ibadah mereka. Tentunya ini suatu hal yang harus mendapat perhatian dan disadari penuh oleh umat Islam secara keseluruhan untuk menumbuhkan kecintaan kepada al-Qur’an.

Ketiga, Mengamalkannya. Seorang muslim yang memahami betul tuntunan agama, maka pada saat ia mempunyai ilmu tentang sesuatu tidak ada alasan untuk tidak mengerjakan pengetahuannya tersebut. Demikian juga halnya ketika kita sudah dapat membaca dan memahami al-Qur’an. Maka selanjutnya adalah mengamalkan isi al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Baik itu secara pribadi, keluarga, maupun pada tataran masyarakat. Dengan demikian, al-Qur’an itu akan hidup di tengah-tengah masyarakat. Apabila sudah tercipta kondisi seperti itu tentu tidak akan mungkin ada lagi kekecauan, pencurian, perzinaan, dan lain sebagainya. Jadi, dengan kata lain pada tataran ketiga ini kita ingin menciptakan “insan-insan qur’ani”, yang tidak hanya mengetahui hukum-hukum Allah atau sebatas pengetahuan semata. Tetapi juga masuk pada tataran praktis yaitu adanya action terhadap perintah dan larangan dalam al-Qur’an.

Pada hakikatnya inilah yang menjadi sasaran utama al-Qur’an diturunkan. Terjadi sebuah gelombang perobahan besar yang sangat mendasar di tengah masyarakat jahiliyah yang begitu bejat. Perkembangan teknologi, arus lajunya perkembangan budaya yang sudah menyatu antara Timur dan Barat tidak dapat lagi dielakkan. Namun untuk membendung diri, keluarga, masyarakat dengan hal-hal yang negatif maka al-Qur’an merupakan alternatif yang pasti.

Keempat, Mendakwahkannya. Selanjutnya pilar terakhir yang harus diindahkan adalah mendakwahkan atau menyampaikan al-Qur’an kepada orang lain. Karena tidak menutup kemugkinan ada sebahagian saudara-saudara kita yang belum mengetahui apa yang telah kita ketahui. Atau memang mereka tidak mau, enggan, atau melalaikan diri untuk memenuhi seruan perintah Allah. Maka ini merupakan medan dakwah bagi mereka yang sudah sampai pada pilar ketiga dalam menyikapi al-Qur’an. Dalam arti bukan membatasi umat Islam untuk berdakwah  tetapi alangkah lebih baiknya mereka yang berdakwah adalah mereka yang sudah mengamalkan al-Qur’an. Sebab mendakwahi seseorang padahal dia sendiri pun tidak melakukanya tidak obahnya seperi makna pilosofis “lilin”, orang diterangi tetapi akhirnya gelap sendiri.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Fushshilat ayat 33,yang artinya: siapakah yang paling baik perkataannya daripada orang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata”sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri (muslimin)”, bahwa melakukan dakwah merupakan bahagian dari perintah Allah sangat mulia.

Sehingga perkataan yang paling baik itu disisi Allah hanyalah “dakwah” tidak lain dari itu. Agaknya penghargaan yang begitu tinggi terhadap dakwah tidak lain karena dakwah sebagai media untuk mengembangkan sekaligus mempertahankan ajaran tauhid yang telah dibawa dan dikembangkan oleh Rasulullah Saw.

Penutup
Sebagai seorang muslim yang mengaku bahwa al-Qur’an sebagai petunjuk hidupnya maka keempat poin pilar di atas merupakan kewajiban kita untuk mengimplementasikannya di tengah-tengah masyarakat. Tidak lagi terbatas seperti anggapan sebahagian orang hanya menjadikan al-Qur’an sebagai  suplementer atau pelengkap dalam kehidupan. Terciptanya keamanan dan ketentraman di dunia hanya akan tercipta manakala al-Qur’an dan spirit yang dikandungnya dijadikan sebagai petunjuk dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.


Terpopuler