Mohon Maaf atas tidak tercantumnya semua sumber dari konten yang ada di website ini.. Terima Kasih kepada semua yang telah menyadur dan mencantumkan referensi dari website ini, semoga bermanfaat untuk semua.
Yang Purba dan Modern Berdampingan
06 September 2012 - dibaca : 3.781 kali

Yang Purba dan Modern Berdampingan

Pada 2007, di dalam Goa Zhiren, China selatan, ditemukan fosil gigi geraham dan rahang bawah. Melihat ciri-ciri fisiknya, gigi dan rahang itu milik manusia modern yang berusia kira-kira 100.000 tahun. Ini mengejutkan karena manusia modern awal diyakini baru ”lahir” di Asia timur 40.000 tahun lalu.

Temuan tim peneliti dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology di Beijing, China, yang dipublikasikan Proceedings of the National Academy of Sciences, 25 Oktober lalu, memanaskan perdebatan tentang hubungan manusia modern (Homo sapiens) dengan Neanderthal (Homo neanderthalensis). Bahkan, bisa jadi mengubah teori dan asal usul manusia modern, khususnya di daratan Eurasia. Teori mengenai pola dan periode waktu migrasi nenek moyang kita dari Afrika ke kawasan lain di dunia pun barangkali harus diperbarui.

Fosil rahang bawah menjadi titik penentu ciri-ciri fisik manusia modern karena menurut tim peneliti yang terdiri dari Wu Liu (Chinese Academy of Sciences), Erik Trinkaus (Washington University di St Louis), dan R Lawrence Edwards (University of Minnesota di Minneapolis) bagian dagu yang menonjol dan lebih rendah selama ini yang menjadi patokan ciri khas manusia modern.

Fosil bagian tubuh ”manusia Goa Zhiren” yang menjadi bukti paling tua mengenai keberadaan manusia modern di Asia Timur itu cukup unik. Pasalnya, ada percampuran ciri khas fisik manusia purba (Neanderthal) dengan manusia modern pada diri manusia Goa Zhiren. Bentuk fisik ini berbeda dari manusia modern awal yang ditemukan di Afrika Timur dan Asia bagian barat daya. ”Ini bukti manusia modern tertua yang ada di luar Afrika,” kata Trinkaus, antropolog sekaligus ahli Neanderthal.

Dari fosil yang ditemukan akhirnya sekarang kita tahu bahwa manusia modern pernah hidup berdampingan pada suatu masa dengan saudara terdekat kita, Neanderthal dan spesies manusia lain yang mirip Neanderthal, di Asia. Jangan-jangan juga, kata Trinkaus, manusia Goa Zhiren, termasuk kelompok manusia modern yang tidak sekadar migrasi dari Afrika timur, tetapi sempat bertemu dan terjadi persilangan dengan manusia purba. Atau bisa jadi juga manusia Goa Zhiren ini sudah ada di Asia sebelum manusia modern Afrika masuk ke Asia lalu kawin dengan spesies manusia lain selama 50.000-60.000 tahun.

Migrasi

Manusia modern migrasi keluar Afrika sekitar 60.000 tahun yang lalu dan menyebar ke segala penjuru terutama ke Eurasia. Ketika manusia modern ”merajalela”, spesies manusia lain seperti Homo erectus dan manusia purba kian tersingkir. Begitu kira-kira teori populer yang kita ketahui berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan selama ini. ”Luas jelajahnya ternyata sampai ke Asia Timur. Dulu kita hanya tahu sampai Eropa dan Asia Barat,” kata Trinkaus.

Analisis mengenai manusia Goa Zhiren ini akan mengubah total kronologi migrasi manusia. Bahkan, yang lebih menarik lagi ada dugaan manusia modern tiba di China jauh sebelum manusia Goa Zhiren bertingkah laku seperti manusia. Pasalnya, bukti-bukti perilaku dan hasil karya manusia seperti lukisan dan perhiasan manik-manik baru ditemukan di China sekitar 30.000 tahun lalu.

Apa pun perdebatan yang terjadi, para peneliti di China semakin meyakini teori ”perkawinan” manusia modern dan purba di China. Bahkan selama ini juga berkembang teori nenek moyang manusia di China sebenarnya spesies yang berbeda yang dikenal dengan nama Homo Pekinensis dan bukan manusia modern yang datang dari Afrika. Nenek moyang bangsa China yang kawin dan hidup berdampingan dengan Neanderthal hingga ke kawasan Eurasia bagian utara dan barat itulah yang melahirkan spesies manusia baru campuran modern dan purba.

Namun, Trinkaus mengaku tidak tahu apa yang kemudian terjadi pada Neanderthal Asia atau motivasi manusia modern berpindah ke Asia timur setelah selama lebih dari 50.000 tahun hidup di Afrika dan Asia selatan.

Tak cukup

Temuan terbaru fosil gigi dan rahang itu, menurut Fred Smith dari Departemen Sosiologi dan Antropologi di Illinois State University, pasti menuai kontroversi. Apalagi, bukti yang ditemukan hanya sebagian kecil dari bagian tubuh manusia. Meski kecil, Smith mengakui tetap saja penting bagi dunia paleoantropologi. Untuk memperkuat dugaan, tim peneliti harus mencari lebih banyak bukti fosil manusia modern di China selatan. ”Mudah-mudahan bisa ditemukan lebih banyak bukti sehingga bisa melengkapi sejarah lengkap perjalanan manusia modern di dunia,” ujarnya.

Garis silsilah manusia biasanya menjadi semakin njelimet setiap kali ditemukan fosil baru. Yang jelas kini kita sama-sama tahu nenek moyang kita mulai muncul 2-3 juta tahun lalu. Manusia Homo sapiens yang pertama diketahui keberadaannya sekitar 400.000 tahun yang lalu, sementara manusia modern pertama di China sekitar 100.000 tahun lalu.

Teori, dugaan, atau pemahaman yang selama ini diyakini kebenarannya adalah manusia modern ”lahir” di Afrika dan meninggalkan Afrika 50.000-100.000 tahun lalu. Sekitar 70.000 tahun lalu terjadi musim kemarau panjang yang menyebabkan permukaan air Laut Merah surut sehingga bisa dilewati oleh sekelompok manusia modern. Di daratan baru itu mereka bertemu dengan imigran yang telah meninggalkan Afrika sebelum mereka termasuk Neanderthal Eropa.

Sampai sejauh ini, bukti-bukti genetis yang sudah ditemukan masih mendukung teori tradisional ”keluar dari Afrika”. Namun teori itu tidak akan bertahan lama, apalagi dengan bukti fosil manusia Goa Zhiren. Antropolog Christopher Bae dari University of Hawaii dan ahli paleoantropologi John Hawks dari University of Wisconsin, AS, sama-sama sepakat, manusia Goa Zhiren terbukti sebagai manusia modern pertama di China.

Jika ditemukan lebih banyak bukti yang mendukung hasil penelitian terbaru ini, mau tidak mau kronologi migrasi manusia harus dievaluasi. Barangkali juga alasan utama migrasi pada waktu itu bisa diketahui lebih jelas. Para peneliti masih penasaran motivasi manusia modern berkelana hingga ke Asia, apakah karena gempa bumi, tsunami, atau letusan gunung berapi?

 

Sumber: kompas.com


Terpopuler