Aplikasi Adsorbsi
03 November 2012 - dibaca : 4.811 kali

Aplikasi Adsorbsi

Limbah tekstil seringkali menjadi masalah dalam kehidupan sehari hari terutama menyangkut limbah warna yang sering dibuang ke sungai tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Warna tekstil umumnya merupakan pewarna organik yang memiliki ikatan senyawa kimia yang rumit dan sulit untuk terdegradasi. Jerami merupakan limbah pertanian yang cukup besar dan belum banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar jerami hanya dibakar menjadi abu dan menimbulkan pencemaran udara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan atau kapasitas adsorbsi jerami terhadap zat warna tekstil Color Index Reactive Orange 84.

Dalam penelitian ini jerami diolah terlebih dahulu dengan cara mencuci sampai bersih dan kemudian dipotong dan diaktivasi dengan pemanasan pada hot plate menggunakan larutan NaOH 2%, 10% dan 20%. Sampel jerami seberat 100 mg direndam dalam larutan warna Color Index Reactive Orange 84 volume 100ml dalam konsentrasi 2,5ppm, 5ppm, 10ppm, 15ppm, 20ppm dan 30ppm. Efisiensi penyisihan maksimum sebesar 84.82% pada konsentrasi 20ppm dan proses penyisihan ini mengikuti Isoterm Langmuir sebagai isotherm yang dapat mengukur kapasitas adsorpsi.

Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan oleh semua makhluk hidup. Air merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia, terutama untuk air minum. Salah satu cara memproduksi air layak-minum adalah dengan mengolah air tanah atau air permukaan menjadi air yang memenuhi syarat kesehatan. Sistem pengolahan air bersih terdiri atas beberapa tahapan proses, yaitu penyaringan awal, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, aerasi, filtrasi, dan disinfeksi. Sistem disinfeksi yang sering digunakan adalah cara klorinasi. Bahan yang umum dipakai sebagai disinfektan adalah kaporit karena harganya yang murah dan masih mempunyai daya disinfeksi sampai beberapa jam setelah pembubuhannya. Dalam instalasi pengolahan air, air yang dihasilkan selalu mengandung residu klorin. Kandungan klorin di dalam air bersih yang disyaratkan oleh Permenkes No. 416/Menkes/Per/IX/1990 adalah 0.1−1.2 ppm (Akademi Teknik Tirta Wiyata 2003).

Tingginya kandungan residu klorin menimbulkan bau khas yang banyak dikeluhkan pelanggan. Selain itu, klorin cenderung berikatan dengan senyawa organikSelain itu, klorin cenderung berikatan dengan senyawa organik untuk membentuk klorinamina dan hal ini meningkatkan risiko kanker yang akan merusak hati, paru-paru, dan ginjal serta sistem saraf pusat (Jaguaribe 2005). Sehubungan dengan hal tersebut, salah satu cara untuk mengurangi tingginya kandungan residu klorin adalah dengan menggunakan bahan penjerap, misalnya karbon aktif. Karbon aktif banyak digunakan sebagai adsorben untuk pemurnian pulp, pemurnian air, pemurnian minyak, pemurnian gas, katalis dan sebagainya (Lynch 1990). Salah satu bahan baku karbon aktif yang potensial adalah tempurung kelapa.

Pemanfaatannya sebagai bahan baku selain karena harganya murah juga sekaligus dapat mengurangi dampak buruk ke lingkungan karena tempurung kelapa merupakan hasil samping dalam pembuatan kopra. Prinsip kerja karbon aktif adalah adsorpsi, dengan karbon aktif sebagai adsorben. Modifikasi dengan garam mineral seperti zink klorida (ZnCl2) merupakan cara paling umum yang digunakan untuk mengaktivasi karbon aktif sehingga efisiensi penjerapannya lebih besar dibanding tanpa modifikasi (Prawirakusuma & Utomo 1970). Modifikasi ZnCl2 terhadap karbon tempurung kelapamengarah pada pembukaan pori-pori karbon yang terikat secara kovalen dalam suatu pelat heksagonal (Smith 1992).

Pembukaan poripori karbon mampu meningkatkan jumlah tapak aktif, sehingga dapat memperbesar kemampuan menjerap adsorbat. Penelitian yang telah banyak dilakukan membuktikan bahwa karbon aktif merupakan salah satu adsorben yang efektif pada pengolahan air. Karbon aktif tempurung kelapa tanpa modifikasi dapat digunakan sebagai adsorben pada sistem penjernihan air (Sriwahyuni 2002). Karbon aktif tempurung kelapa termodifikasi gas CO2 diketahui dapat menghilangkan sampai 70% residu klorin dari air (Jaguaribe et al. 2005). Karbon aktif hasil pengaktifan dengan ZnCl2 memiliki kapasitas adsorpsi yang tinggi sehingga dapat memurnikan air (Fernandez & Delgado 1994).