Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta
06 September 2012 - dibaca : 33.456 kali

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, masjid tertua yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, merupakan persembahan khusus Sultan kepada kaum duafa.

Di bagian sisi selatan masjid bergaya tradisional Jawa ini, terdapat fasilitas mandi dan mencuci untuk kaum duafa yang tidak memiliki tempat tinggal. "Sultan ingin melihat rakyatnya hidup layak. Bahkan, ketika mereka tinggal di sana, kebutuhan makanan pun akan dipenuhi oleh masjid," kata Sekretaris I Masjid Gedhe Kauman HM. Julianto Supardi.

Selain membangun fasilitas bagi kaum duafa, di seputaran masjid juga dibangun fasilitas bagi pengurus masjid. Para ulama, khotib, serta abdi dalem diberi fasilitas perumahan di sekitar masjid yang diberi nama Kauman, yang berarti "tempat para kaum". Sedangkan untuk penghulu keraton dan keluarga Sultan menyediakan perumahan di sisi utara yang dinamakan Pengulon.

Dari bentuk arsitektur, masjid Gedhe Kauman memiliki keunikan khas yang tidak dimiliki masjid lainnya. Masjid yang dibangun pada 1773 ini tidak memiliki kubah tetapi memiliki mustaka berbentuk daun kluwih dan gadha yang ditopang oleh tiang-tiang dari kayu jati Jawa. Atap masjid yang bersusun tiga ini bernama Tajuk Lambang Teplok.

“Atap masjid yang bertingkat itu memiliki filosofi tentang tiga tingkatakan mencapai kesempurnaan hidup, yakni hakekat, syariat dan marifat," papar Julianto yang juga menyebutkan dinding dari batu putih dan lantai dari batu hitam sebagai keunikan masjid.

Komplek Masjid Gedhe Kauman secara keseluruhan memiliki luas 16.000 meter persegi. Masjid ini mempunyai dua bagian utama, ruang salat utama dan serambi Al Makalah Al Kabiroh. Ada juga Pagongan di sebelah utara dan selatan halaman luar masjid yang merupakan tempat gamelan. “Setiap bulan Maulid tiba, gamelan ini akan dimainkan mengiringi dakwah para ulama,” jelas Julianto.

"Jamaah yang datang ke masjid ini diharapkan dapat berbuat baik kepada sesama. Harapan ini sudah muncul ketika pengunjung menginjakkan kaki di depan pintu gerbang masjid," katanya. Gerbang yang dikenal dengan nama Gapuro ini berbentuk Semar Tinandu yang melambangkan seorang punakawan yang tugasnya mengasuh, menjaga, dan memberi teladan yang baik.

 

sumber : arkeologi.web.id

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler